Bingung Mau Jadi Wanita Karier atau Ibu Rumah Tangga?

Rabu, 01 April 2020


Setiap wanita suatu saat akan berada pada fase bingung, memilih menjadi ibu rumah tangga penuh waktu di rumah atau wanita karier yang kerja kantoran.  Mamak Mahajeng sendiri pernah berada fase itu.

Tahun 2015 saya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga yang bekerja penuh waktu di rumah. Tahun 2018 saya memutuskan kembali bekerja di luar rumah. Pekerjaan utama saya masih sama: Ibu Rumah Tangga, hanya bedanya saya harus melakukan pekerjaan lain sebagai abdi negara. 

Karena pengalaman saya pernah resign dan menjadi ibu rumahan, beberapa sahabat lari ke saya sebelum memutuskan resign dari pekerjaannya. Sebagian ada yang merasa lebih mampu mengembangkan diri, beberapa ada yang merasa menyesal keluar dari pekerjaannya. Jika Kawan Suzan sedang ada yang dalam fase ini, mungkin beberapa pertimbangan berikut bisa teman-teman terapkan sebelum memutuskan untuk bekerja di dalam rumah atau di luar rumah.

1. Buang Konsep “Ibu Rumah Tangga itu Pengangguran”


Ini adalah masalah klise. Dari zaman bahela, emak-emak yang lebih banyak pakai daster daripada blus dianggap pengangguran. Bagi saya, memilih di rumah maupun di luar rumah, ibu rumah tangga tetaplah ibu pekerja. Sangat tidak manusiawi bila ada yang mengatakan bahwa ibu rumah tangga tidak bekerja.

Coba bayangkan, sejak membuka mata hingga menutup mata lagi, ibu tidak habisnya mengerjakan sesuatu. Dari menyiapkan makanan untuk keluarga, menyiapkan keperluan suami dan anak-anak, membersihkan rumah, mengasuh anak, hingga mengatur keluar masuknya duit agar neraca keuangan keluarga tetap seimbang. Begitu masih dibilang enggak berkerja. Bukankah itu terdengar sangat biadab?

Pada tahap-tahap awal menjalani masa jadi ibu rumahan, biasanya ibu akan mengalami post power syndrome. Ibu akan mengalami masa minder dan merasa tidak berarti. Belum lagi ditambah komentar negatif yang biasanya akan terlontar dari orang-orang terdekat.

“Ih, sayang banget. Udah di posisi enak, malah milih di rumah.”

“Kalau mau jadi ibu rumah tangga, ngapain sekolah tinggi-tinggi!”

Wuih, bener-bener sedep banget deh kata-kata semacam ini. Kadang mereka yang melontarkan kalimat ini sebenernya hanya bercanda. Namun, bagi ibu yang sedang mengalami transisi dari pekerja kantoran jadi pekerja rumahan, hal ini lebih menyakitkan ketimbang ditikam pisau bertubi-tubi.

Jadi, jika Kawan Suzan memang mau memutuskan menjadi ibu yang sepenuh waktunya di rumah, yakinkan pada diri teman-teman bahwa sekalipun di rumah teman-teman tetap bekerja. Teman-teman tetap melakukan sesuatu yang berharga.

Memasak itu berharga. Menjaga rumah tetap bersih itu berharga. Mengasuh anak dengan tangan sendiri itu berharga. Apa yang ibu kerjakan di rumah bukan sekadar pekerjaan “cuma”.  Semua pekerjaan rumah yang ibu kerjakan adalah pekerjaan yang harus diberi harga, bukan dianggap sebelah mata.

2. Paham dengan Segala Konsekuensi


Mau bekerja di dalam rumah atau di luar rumah, semua ada konsekuensinya. Sama-sama ada enak dan tidak enaknya. Ibu, sebelum memutuskan mau jadi ibu rumahan atau kantoran, harus tahu dan paham betul konsekuensi atas pilihan yang diambil. 

Ibu yang bekerja di luar rumah tentu akan memiliki waktu yang lebih sedikit dibanding ibu yang memilih sepenuhnya berada di rumah. Ibu yang memilih di rumah tentu memiliki akses ke luar  rumah yang lebih sedikit dibanding ibu  kantoran Pertanyaannya adalah kamu siap enggak? 

Dengan memahami semua konsekuensi yang muncul, tak ada lagi alasan untuk menyesal bekerja atau menyesal tinggal di rumah. Dengan memahami konsekuensi yang muncul, Ibu akan fokus untuk menyiasatinya konsekuensi yang timbul agar tak menjadi masalah berkepanjangan. 

3. Kembangkan Diri dengan Sesuatu yang Disukai

Menjadi ibu rumahan tak lantas membuat hidup kita hanya berkutat seputar dapur, sumur, dan kasur. Bangunlah, Esmeralda! Kita hidup di era industri 4.0. Mudah sekali menggenggam dunia. Tak harus keluar rumah untuk berekspresi dan berkreasi. 

Sewaktu menjalani menjadi ibu rumahan, Mamak Mahajeng sempat merasa depresi dengan kegiatan yang monoton. Pekerjaan yang sama dan tak ada tantangan. Ketika pekerjaan rumah sudah beres, anak tidur, nah … puncak emosi melanda. Bingung mau ngapain.

Untungnya, hobi berselancar di media sosial membuat saya menemukan sesuatu yang saya senangi. Saya jadi sadar bahwa saya mulai tertarik dengan menulis. Lalu, saya mulai tertarik ngeblog. Dua kegiatan ini benar-benar membuat saya merasa bahwa saya tetap hidup. Tak ada alasan lagi untuk merasa kosong dan monoton. 

Intinya, Kawan Suzan hanya perlu menemukan apa yang membuat teman-teman senang dan bersemangat melakukannya. Karena musuh utama menjadi ibu rumahan adalah bosan dengan rutinitas. Syukur-syukur jika akhirnya kesenangan tersebut justru menjadi sumber penghasilan.

4. Cek Keuangan Keluarga


Uang itu memang sepele tapi tak bisa disepelekan. Dulu sewaktu saya memutuskan menjadi ibu rumahan, suami saya adalah PNS golongan IIIa yang baru diangkat dan gajinya tidak utuh lagi. Kalau tidak salah waktu itu hanya Rp700.000. Bayangkan apa yang bisa didapat dengan uang segitu? 

Antara nekat dan bodoh memang. Namun, satu hal yang saya yakini. Sekalipun tidak lagi bekerja, rejeki saya pasti ada. Entah mengalir dari kran yang mana. Toh, sampai sekarang kami masih hidup dan bahagia. Body saya yang ginuk-ginuk ini tentu bisa membuktikan bahwa hidup saya jauh dari sengsara.  

Saya pernah hidup susah, tapi itu tidak menjadikan saya merasa sengsara. Saya dan pak Taji pernah berada di fase sulit ekonomi, bahkan membeli bensin untuk motor saya enggak kuat. Namun, dari sana kami belajar bahwa asalkan mau bergerak, ada banyak rezeki yang siap dikucurkan. Saya pernah belajar membuat jajanan untuk dititipkan di kantin sekolah. Seorang DEVI, yang belajar masak ketika sudah bersuami, belajar membuat penganan untuk dijual. Sempet banyak keluarga yang enggak percaya. Namun, waktu itu saya justru bisa nabung. Itulah rezeki. Konsep hitung-hitungan matematika itu beda banget sama konsep hitung-hitungan rezeki.

Capai? Banget. Sulit? Iya. Namun, saya bahagia saja karena saya enjoy dengan setiap fase kehidupan yang saya jalani. 

Ketika Kawan Suzan memutuskan untuk resign, cek keuangan keluarga. Apakah uang yang diberikan suami sudah mencukupi semua kebutuhan keluarga? Kalau uang suami masih jauh dari cukup, apakah Kawan Suzan siap berpikir dan bekerja lebih keras untuk menutup kekurangannya? Hal apa kiranya ymenamang bisa teman-teman lakukan untuk menambah pundi-pundi keluarga sekalipun berada di rumah.

5. Analisis Untung Rugi

Saya sebenarnya senang menjadi ibu rumahan. Saya jadi merasa dekat  dan lebih berarti  untuk anak-anak. Saya bisa mengasuh anak-anak dengan kurikulum ala-ala saya sendiri. Untuk pengasuhan, saya lebih idealis ketimbang ketika saya sudah bekerja seperti sekarang.

Lalu, mengapa saya kembali bekerja? Diskusi saya dan Pak Taji di meja bundar ketika makan membuat saya memutuskan kembali bekerja. Secara jujur, Pak Taji memang lebih suka saya berada di rumah saja. Mengurus keperluannya juga anak-anak. Namun, Pak Taji justru berpikir jauh ke depan. Ayahnya anak-anak menjabarkan plus dan minus-nya jika saya bekerja maupun di rumah saja. Akhirnya, bismillah. Saya kembali ke luar rumah.

Kondisi setiap orang tentu berbeda. Apa yang baik bagi saya belum tentu baik untuk yang lain; begitu juga sebaliknya. Kalau Kawan Suzan sedang galau antara mau resign atau tidak, baiknya diskusikan dengan pasangan. Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan bermanfaat.

Mau bekerja di luar rumah atau di dalam rumah, ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang mulia. Salam dari Mamak Mahajeng, Ibu rumah tangga yang nyambi jadi abdi negara!

Usir Pening Gara-Gara Pembelajaran Daring, Vitalis Body Wash Jagonya

Selasa, 31 Maret 2020


Sudah hampir 2 minggu working form home. Bagaimana rasanya? Nano-nano.  Di satu sisi, Mamak harus merhatiin ratusan anak (orang lain) melalui HP. Di satu sisi, ada 2 balita di rumah yang nyata-nyata minta diperhatiin. Yess! Sejak anjuran “di rumah saja”, Kirana sama Kanaya otomotis saya karantina untuk tidak ke mana-mana dulu. PR banget buat ayah dan ibunya untuk membuat mereka betah di rumah dong!


Pembelajaran Daring yang Bikin Pening


Kalau ditanya enakan kerja (di sekolah) atau di rumah, maka saya akan jawab enak di rumah asal enggak ada kerjaan.  Tapi nyatanya, sebagai abdi negara hidup Mamak Mahajeng terikat oleh sumpah jabatan. Walaupun sekolah terpaksa diliburkan, pekerjaan tidak ada liburnya dong.


Soal pembelajaraan daring sebenernya saya tidak begitu khawatir. Jauh sebelum ada pandemik Corona dan masyarakat diminta social distancing, saya sudah mulai menerapkan pembelajaran daring. Melalui grup Whatsapp “Ruang Bahasa” saya mengajak siswa-siswa belajar. Untuk memantapkan materi Ujian Nasional, Mamak mengajak para siswa bermain Quizizz yang soalnya tentu saja disesuaikan kisi-kisi. Kadang, Mamak juga meminta anak-anak membuat tugas yang diunggah di media sosial. Intinya ini bukan hal baru bagi saya dan siswa yang saya ampu.


Soal pembelajaran dan penugasan daring, insya Allah aman. Apalagi pelajaran yang diajarkan Bahasa Indonesia. Banyak celah yang bisa dimanfaatkan. Seperti kemarin ketika demam video tiktok jejogedan yang bikin mesem, Mamak berpikir dong bagaimana caranya mengajak anak-anak membuat video tiktok berfaedah. Akhirnya, jadi deh tugas membuat video tiktok mengenai teks prosedur.


Masalahnya bukan pada pembelajarannya, tetapi pada pembentukan karakternya. Lha wong ketemu tiap hari saja kami masih kesulitan, apalagi ketemu via online, tanpa tatap muka langsung. Aduh.. duh!


Semua yang serba mendadak ini membuat banyak siswa dan guru tak siap. Siswa belum teredukasi mengenai virus ini. Siswa tak paham benar jika mereka diliburkan bukan untuk liburan. Ini yang akhirnya menjadi masalah.


Hari pertama mereka belajar di rumah; ada yang mancing, ada yang nongkrong, ada yang piknik. Allah ya Rabb.  Keadaan ini bener-bener bikin kepala pusing bukan kepalang. Mewanti-wanti mereka melalui grup Whatsapp setiap hari tak juga membuat mereka mau diam di rumah. Ini yang bikin tensi tinggi setiap harinya. 


Nduk, Nang! Kalian enggak mungkin diliburkan kalau saja negara kita aman-aman saja. Negara enggak mungkin meniadakan ujian nasional yang sudah disiapkan setengah mati jika negara kita tidak diujung tanduk. Negaramu lagi dalam keadaan genting dan kalian malah berkeliaran? 


Sungguh, minggu-minggu pertama menjalani working and school from home bikin kepala saya pening bukan main. Bawaanya mau emosi, tapi enggak tahu mesti emosi sama siapa. 


Penugasan yang Mengedukasi


Semenjak melihat realita bahwa para siswa malah keasyikan dengan masa (di)libur(kan) ini, akhirnya Mamak Mahajeng putar otak bagaimana caranya laporan penugasan yang diminta atasan terpenuhi, tapi para siswa teredukasi dengan apa yang terjadi.


1.      Berkomentar di Facebook


Mereka tak paham bahwa ini adalah libur yang bukan liburan. Mereka libur karena ada kondisi gawat. Saya sangat bawel untuk masalah ini. Sayangnya, tak sebagian siswa yang sekolah dipinggiran memiliki  kecakapan literasi yang baik. Belum lagi, orang tua yang juga belum teredukasi mengenai masalah Corona ini. Akhirnya, saya meminta para siswa stalking akun IG salah satunya adalah akun Najwa dan Narasi TV. Lalu, saya membuat sebuah tulisan mengenai “Tetap di Rumah”. Saya meminta siswa mengomentari tulisan saya. Tujuan utama saya adalah mereka mau membaca. Walaupun terpaksa sebagai penggugur kewajiban melaksanakan tugas, biarlah. Namanya juga ikhtiar.


2.      Membuat Poster Edukasi


Jika saya bisa mengedukasi siswa saya, harapan saya adalah mereka bisa mengedukasi orang di sekitar, minimal keluarga. Karena saya sadar, keluarga siswa-siswa saya kebanyakan adalah masyarakat kelas bawah. Mereka benar-benar butuh edukasi soal ini. Tugas selanjutnya, saya meminta mereka membuat poster edukasi soal corona. Mau tidak mau, dalam mengerjakan tugas mereka akan membaca banyak informasi mengenai virus ini. Semoga dengan begitu, mereka sudah paham mengapa mereka harus di rumah saja.


3.      Membuat Tulisan Persuasif untuk Diam  Di Rumah


Memasuki minggu kedua masa dirumahkan, para siswa sudah mulai bosan. Saya paham kondisi itu. Jangankan para siswa, kami pun, guru mereka, sangat bosan dan ingin melakukan aktivitas seperti biasa. Namun, saya harus memahamkan mereka bahwa mereka harus tinggal di rumah. Akhirnya saya mengirim beberapa video yang saya rasa cukup memberi arahan mengapa mereka harus di rumah. Setelah itu, saya meminta mereka menulis status di media sosial yang berisi ajakan untuk diam di rumah.


4.      Membuat Video Persuasif


Minggu ketiga.

“Kapan kita masuk sekolah, Bu?” Banyak dari mereka yang bertanya begitu. Saya katakan pada mereka, makanya di rumah saja. Biar musibah ini segera berakhir dan kita bisa bertemu kembali. Akhirnya, melalui diskusi saya mencoba mengedukasi mereka mengapa masa libur diperpanjang dan diperpanjang lagi. Di akhir pembelajaran, saya memberi penugasan untuk membuat video yang mengajak masyarakat diam di rumah saja. Semoga pandemik ini segera berakhir.

 

Ketika Si Kecil Protes Emaknya Di Rumah Tapi Kerja Melulu


Awalnya, saya sama suami bertekad untuk tidak membawa pekerjaan ke rumah. Sebanyak apapun, kalau bisa dikerjaan di tempat kerja. Nah, ketika menjalani Working From Home tentu saja hal ini tidak bisa kami taati lagi. Saya sama suami yang sama-sama guru malah merasa pekerjaan kami justru semakin banyak. Jam kerja kita jadi enggak jelas. Bahkan bisa dibilang 24 jam. Bukan hanya memberi penugasan, tetapi bagaiamana mengedukasi para siswa dan memastikan mereka tidak ke mana-mana. Belum lagi, kami harus membalas pertanyaan-pertanyaan dari para siswa. 


Hingga suatu waktu, anak sulung saya yang berusia 4 tahun, Kirana, menyuarakan isi hatinya.


“Yang satu pegang laptop, yang satu pegang HP. Piye to iki (gimana sih ini)?” begitu katanya.


Sederhana, tapi jleb. Perlahan kami memang harus mengomunikasikan padanya agar dia paham mengapa orang tuanya kini harus bekerja saat di rumah. 


Akhirnya, saya yang masih memakai daster tapi sudah duduk di depan laptop sejak pagi ini pamit buat mandi. Biar wangi dan bersih. Jadi, pikirannya jernih saat nanti ngobrol sama Kirana.


Mamak inget kalau kemarin baru saja dapat kiriman Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash. Ambil dulu Vitalis Body Washnya sebelum meluncur ke kamar mandi dong. Ternyata berasa mandi parfumnya. Wanginya bener-bener bikin rileks.


Kok wanginya bikin nyaman banget sih, pikir saya. Akhirnya, saya baca tulisan di botol berwarna hijau ini. Fresh Dazzle, Skin Refreshing with Yuzu Orange Extract and Green Tea Extract. Pantesan. Kandungan Jeruk Yuzu dan Teh hijau kan memang terbukti efektif untuk menenangkan dan menambah semangat. Enggak salah deh tadi pamit mandi buat nenangin diri.


Akhirnya setelah bermeditasi di kamar mandi, saya ngomong ke Kirana kalau Mamaknya ini sementara waktu kerja di rumah. Mamak minta izin untuk di depan laptop dan megang HP dari pagi sampai siang.


“Nanti kalau udah siangan, Mamak nemenin Mbak Nana sama Dik Naya main, ya!” jelas saya. Untungnya Mbak Kirana paham dan mau ngerti.




Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash Bikin Harimu Jadi Manis


Nah, yang bikin seneng sama Vitalis Body Wash ini adalah wanginya yang tahan lama. Walau sudah berjam-jam, masih nempel. Si bungsu seneng banget ngelendeot Mamaknya saat lagi kerja. Padahal, Kanaya itu paling sensitif sama bau-bauan. Tapi, semenjak Mamak pakai sabun dari Vitalis ini Kanaya enggak mau jauh-jauh.





Enggak heran sih kalau soal ini. Vitalis kan salah satu market leader di bidang parfum. Makanya, body wash-nya wanginyanya enak banget. Di varian body wash Fresh Dazzle, parfum ini diawali dengan Bergamot yang segar, ditambah Floral Bouquet yang memberi kesan feminim, plus Musk Amber wanginya tahan sepanjang hari.


Nah, biasanya nih kalau body wash wangi banget bikin kulit kering. Nah, Vitalis ini enggak. Ternyata ada high quality moisturizer yang menjadikan body wash ini tetap bikin kulit lembab. Well, kayanya bakal jadi salah satu barang yang wajib dibeli tiap bulan nih. Oh iya, sebagai tambahan informasi. Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash ini punya 3 varian. Ada Fresh Dazzle yang Mamak Mahajeng pakai. Fresh Dazzle ini memberikan manfaat skin refreshing. Ada pula  White Glow yang memberikan manfaat skin brightening. Varian selanjutnya adalah Soft Beauty yang memberikan manfaat skin nourishing.  Kalau mau mencoba, pilih saja varian sesuai kebutuhan kulit kalian.


Sementara kerja di rumah, Vitalis Body Wash ini bakal jadi temen setia Mamak Mahajeng untuk membuat hari lebih manis. Mudah-mudahan pandemik segera usai dan kita bisa beraktivitas seperti biasa.

 

 


RUMBEL LITERASI MEDIA: Berdaya Bersama, Berkarya Berirama

Sabtu, 11 Januari 2020



Sejak lulus matrikulasi batch 6, bisa dibilang aku adalah matrikan yang masih jalan di tempat. Saking tahu dirinya, aku belum berani melanjutkan ke step berikutnya. Manajemen waktuku memang masih berantakan. Padahal, ketika matrikulasi udah diberi tahu bagaimana cara mengatur waktu agar 24 jam itu cukup untuk semua kebutuhan, baik yang menyenangkan orang lain ataupun yang menyenangkan diri sendiri. 

Alhasil, aku jadi tidak bisa aktif di grup-grup yang aku ikuti. Salah satunya, Rumbel Literasi Media.

Rumbel Literasi Media




Rumbel ini adalah wadah belajar anggota #IbuProfesionalSemarang yang menyukai bidang tulis-menulis. Banyak hal baru yang aku dapatkan dengan kesukaan yang satu ini. Namun, kembali ke masalah aku, manejemen waktu, aku jadi belom bisa konsisten.

Secara personal, aku belum cukup mengenal rumbel ini. Sesekali hanya merapel chat grup ketika ada waktu. Belum banyak yang kukenal juga. Salah satu yang kukenal adalah Mbak Marita karena dia fasilitatorku. Maaf  ya, Mbak. Masih sering ngumpetnya aku.

Resah Jika Harus Berpisah


Liburan semester kemarin berniat menghidupkan kembali semangat menulis. Sudah terlalu padam sebelum menyala. Tentu saja, hal ini tak mudah. Paling enggak, aku harus punya lingkungan yang bisa menjaga agar niat ini terus membara.


Aku berjanji sama diri sendiri untuk mulai aktif dan menyempatkan diri bertandang di beberapa grup yang sudah kuikuti. Salah satunya, ya grup Rumbel Literasi Media ini. Betapa terkejut ketika kemarin bertandang ke grup, justru dapat berita grup ini bakal dibubarin karena terlalu adem ayem saja. Ya memang sih, aku sendir sejak masuk grup pun cenderung diem. Seandainya diumpakan rumah, aku cuma tiduran di kamar tanpa melakukan sesuatu yang cukup berarti. 

Well, sedih banget. Pasalnya, aku memang lagi pengen banget mendongkrak semangat nulis setelah hampir setahun melempem seperti kerupuk yang terkena air. Udah tahu diri sih dan enggak muluk-muluk, minimal seminggu sekali bisa ngepos satu tulisan di blog. 

Semoga saja pembubaran Rumbel Literasi Media hanyalah wacana yang tidak akan terlaksana. Yuk Man-Teman yang tergabung di grup ini, mari kita #SaveRumbelLM kita. Aku yakin masih banyak anggota rumbel ini yang butuh pelukan dari teman-teman agar semangat menulisnya menyala lagi. Butuh dukungan dan pecutan agar tidak memadamkan apa yang membuatnya bahagia. Menulis.

Membesar dengan Hal-hal  Kecil


Menurutku, komunitas tak hanya membesar dengan hal-hal besar yang dilakukan. Justru, banyak hal kecil dan sederhana yang bisa membuatnya lebih berkesan dan bercahaya.



Sudah kuceritakan di awal bahwa salah satu kekuranganku adalah manajemen waktu. Mudah-mudahan dengan membuat jadwal yang tidak terlalu padat justru membuat para anggota yang masih ingin rumbel ini bertahan bisa turut berkontribusi.

1. Tantangan Menulis Pekanan

Menyisakan satu hari dalam satu minggu untuk menulis tentu bukanlah hal yang berat dan masih dibilang masuk akal. Menulis hal-hal sederhana dengan cara yang santai. Intinya adalah yang terpenting menulis. Konsisten adalah tujuan akhir program ini. Sistemnya bisa dicari sistem yang paling pas sehingga semua anggota mau atau tidak mau, mau menulis. Termasuk aku.

2. Tamu Bulanan

Yang namanya wanita, pasti akrab dengan tamu bulanan. Tapi, yang aku maksud bukan tamu yang itu ya.

Biasanya nih, anggota grup menulis itu akan terpecut ketika ada tamu dari luar yang datang. Berbagi ilmu atau minimal berbagi kisah. Siapa tahu, apa yang disampaikan para tamu membuat semangat anggota semakin membara dan mendapat banyak ilmu baru yang penting sekali untuk meningkatkan keterampilan menulisnya.

3. Setahun Berkarya

Kalau yang ini, semoga tidak muluk-muluk. Aku hanya berpikir jika setiap bulan kita ditantang dengan satu tulisan, setiap bulan dapet ilmu baru untuk mengasah keterampilan atau kepribadian menulis tentu akan sangat menyenangkan jika dalam rentang setahun ada satu karya yang berhasil ditelurkan. Satu karya untuk #semestakarya.

Mudah-mudahan masih ada harapan untuk rumbel ini. Mamak Mahajeng butuh pelukan hangat untuk tetap menulis, kurasa begitupun Kawan Suzan lain yang gabung dalam #RumbelLM. 

Gandos Pak Gandos Memang Jos Gandos

Rabu, 01 Januari 2020
Pengertian Gandos



Tadi siang ketika jalan sama suami, ketemu bapak si penjual gandos. Karena emang suami suka sama penganan ini maka menepilah kami. Ketika memesan dengan menyebut sejumlah uang, si Bapak bilang tapi harus nunggu. Lah, cuma menunggu berapa menit ini, enggak masalahlah buat kami. Lumayan bisa sembari ngobrol. 

Apa sih GANDOS itu?


Gandos merupakan penganan tradisional dari Jawa Tengah. Makanan satu ini termasuk jenis makanan yang sudah lumayan sulit ditemukan. Seringkali, ketika suami pengen makan gandos, kami gagal menemukan penjual gandos.


Kue Gandos


Gandos terbuat dari adonan tepung beras, santan, dan parutan kelapa. Rasanya gurih. Nikmat sekali dilahap ketika masih hangat. Enggak heran deh kalau orang-orang generasi X suka banget. Contohnya, Pak Tadjie. Kata Pak Tadjie, makanan ini legend. 😁

Cara Membuat Gandos


Sebenernya sih membuat gandos itu cukup mudah. Bahan dasarnya juga gampang dicari kok. 

Bahan:

Tepung beras 250 gram
Santan 800 ml
Kelapa yang diparut kasar 250 gram
Telur 2 butir
Daun pandan (jika suka)
Minyak untuk olesan

Cara Pembuatan

  1. Panaskan ¼ bagian tepung dan setengahnya bagian santan hingga mengental.
  2. Tambahkan sisa tepung, kelapa parut, garam, telur, dan sisa santan secara bertahap. Aduk hingga merata. Adonan gandos cukup kental tapi tetap masih bisa dituang.
  3. Panaskan cetakan. Cetakan kue gandos ini hampir sama dengan cetakan kue pukis. 
  4. Olesi cetakan dengan minyak.
  5. Tuang adonan hingga ¾ cetakan. Tutup cetakan. 
  6. Masak dengan api kecil. Tunggu hingga kering dan kecoklatan. Gandros yang sudah matang akan wangi baunya.

Sekadar catatan ya, Kawan Suzan. Gandos ini lebih lezat dinikmati ketika masih hangat. Cocok banget dinikmati di musim penghujan seperti sekarang. Dihidangkan bersama teh atau kopi hangat. Yummiii  sekali pastinya. Kalau Kawan Suzan suka manis, temen-temen bisa menambahkan taburan gula di atasnya.

Belajar Memaknai Kehidupan dari Pak Gandos


penjual gandos


Namanya Pak Sutris, aslinya dari Candi, Desa Karangmanggis. Sehari-hari mangkal di depan toko di seberang Masjid Tampingan. Di desanya, Pak Sutris lebih populer dengan panggilan Pak Gandos. 

“Kalau nyari saya di Candi, jangan panggil Pak Sutris. Nanti orang-orang bingung. Soalnya ada beberapa orang yang memiliki nama Sutris. Sebut saja Pak Gandos, pasti banyak yang tahu,” tuturnya tadi sembari menyiapkan gandos untuk kami.

1. Gigih dan Ulet


Gandos mengajarkan tentang kegigihan dan keuletan. Sudah sejak usia 30 tahun Pak Gandos menjajakan makanan ini. Awal mulanya si Bapak berjualan di daerah Boja. Kalau sekarang, cukup mangkal di Tampingan orang sudah pada tahu, begitu katanya.

Awal mulanya, Pak Gandos hanya melihat tukang gandos yang berjualan di Pasar Jrakah, Semarang. Ia mengamati penjual itu seharian. Ia pun belajar membuat penganan ini secara otodidak. Tanpa guru, tanpa bantuan resep. Tak ada resep istemewa, katanya. Pokoknya bahannya tepung beras, santan, dan parutan kelapa. 

Ternyata gandos Pak Gandos memang terbukti kelezatannya. Sembari menunggu gandos pesanan kami, sudah beberapa kali beliau menolak pelanggan.

2. Mempertahankan Nilai 

Pak Gandos memasak kuenya dengan kompor minyak. Saat ditanya mengapa tidak menggunakan kompor gas saja, beliau manjawab rasanya beda. 

“Kalau pakai kompor gas, kalau apinya terlalu besar cepet gosong. Kalau apinya kecil, enggak mateng-mateng. Susah mendapatkan kematangan yang pas,” tuturnya.
Kalau untuk aku pribadi sih: ah, sugesti Bapak saja! Enakan masak pakai kompor gas ke mana-manalah. Apalagi harga minyak tanah lumayan, Cuy! Dari Pak Gandos, saya baru tahu kalau harga minyak tanah sekarang Rp15.000. Untuk berjalan sehari, Pak Gandos biasanya menghabiskan 2 liter minyak.

Si Bapak keluar dari rumahnya biasanya pukul 09.00 waktu setempat. Ia akan berjalan kaki dari Candi hingga Tampingan sembari memikul dagangannya. Jika di tengah jalan ada yang membeli dagangannya, beliau akan melayani. 

Saat kutanya kenapa enggak pakai motor saja, katanya nanti nilai gandosnya hilang.

“Kalau jualannya pakai motor, ya bukan tukang gandos. Jualan gandos yang begini, dipikul saja.”

Baiklah, Pak. Semoga Pak Gandos sehat selalu ya.

Jualan gandos dengan cara memikul dagangannya menurutnya adalah salah satu resep sehatnya. Untuk usianya yang sudah 65 tahun, tubuh Pak Gandos terlihat cukup sehat dan bugar. 

“Selama saya hidup, saya baru satu kali masuk rumah sakit. Lima hari kalau enggak salah. Wah, lamanya. Namun, saat teman-teman sebaya saya banyak mengeluh asam urat, pegal-pegal, saya Alhamdulillah tidak pernah merasakannya. Mungkin karena saya lebih suka jalan kaki. Di rumah ada motor sebenernya, tapi saya lebih suka jalan kalau jualan,” 

Jadi malu. Aku mau ke warung deket rumah yang berjarak 3 rumah saja sering naik motor. 

3. Rezeki sudah ditakar, Enggak mungkin Tertukar

Nah, ini adalah pelajaran paling utama dari obrolan kami. Bagaimana cara Pak Gandos memandang rezeki sungguh pantas diacungi jempol. 

Saat melayani kami, beberapa pembeli datang. Ketika ada yang menanyakan apakah dagangannya masih, beliau pasti menjawab masih, tetapi harus nunggu. Beberapa ada yang rela nunggu, beberapa ada yang enggak jadi beli.

Saat kutanya, kenapa enggak pakai dua kompor saja sih, Pak? Lumayan loh tuh pembelinya. 

“Ah, karena ndelalah hari ini ramai saja, Mbak. Biasanya, ya enggak seperti ini. Lagipula, rezeki saya kan sudah ditakar. Kalau takarannya sudah segini, mau ngoyo seperti apa, ya tetap segini, Mbak.”


quote rezeki


“Saya pernah lho, Mbak. Sebelum pukul 12.00 dagangan sudah habis. Saya pulang ke rumah. Buat adonan lagi. Lah, sampai sore enggak laku, Mbak! Ya, sudah. Saya percaya kalau takarannya segini, ya diterima saja. Setiap orang sudah ada garisnya sendiri-sendiri. Ada yang kaya, ada yang melarat seperti saya” ceritanya panjang lebar.

Wah, aku enggak menyangka Pak Gandos bisa menuturkan hal seperti ini. Sebuah pelajaran berharga. Kembali pasrah pada takdir. Yes, walaupun tetap harus berusaha, tetapi takdir itu sudah tertakar. Pasrah adalah yang utama. Terima kasih untuk obrolannya hari ini ya, Pak. 

Semoga Pak Gandos senantiasa sehat agar bisa tetap berjualan. Biar anak cucu saya kenal sama makanan ini. Tadi Kanaya cukup lahap makan gandosnya Pak Gandos. Gandos Pak Gandos ini enak. Gurih. Rasanya beneran nagih. Soal harga, murah banget. Kalau dihitung-hitung, sebijinya cuma 500 perak, setangkap Rp1000.  Kalau lewat, insya Allah beli lagi.

Kawan Suzan yang rumahnya sekitar Singorojo, Boja, Limbangan, mampir deh nyicipi gandosnya Pak Gandos. Dijamin jos gandos. Awas kalau ketagihan, Mamak Mahajeng sudah peringatkan ya! 😄

Tujuh Kiat Sukses CPNS Berdasarkan Pengalaman Mamak Mahajeng

Minggu, 29 Desember 2019
Trik CPNS


Hai Kawan Suzan pejuang NIP? Bagaimana persiapan kalian menghadapi tes CPNS? Sudah berapa persen nih?

Kok pakai persen segala sih? 
La, iya! Apapun itu bukankah mesti direncanakan dengan matang.

Mamak Mahajeng percaya selama tes CPNS masih menggunakan CAT dan #ASNKiniBeda, tes CPNS akan berjalan dengan bersih. 

Halah, itu mah slogan saja! Apa pun sistemnya. pasti masih bisa disusupi. 

Yakin? Dari mana coba? Semua orang bisa mengakses informasi secara bebas. Informasi digelar dengan sangat terbuka. Sekadar pengetahuan saja ya, saat kita lagi tes di ruang tes, semua orang di luar yang sedang menunggu bisa memantau hasilnya. Hasil itu juga dengan mudah dapat difoto. Untuk jaga-jaga jikalau hasil di pengumuman tidak sama dengan hasil yang diperoleh ketika tes. Begitu masih bisa bilang kurang transparan?

Nah, kembali tes CPNS. Selain faktor takdir sebagai penentu, ada beberapa hal yang wajib kita usahakan dalam menghadapi tes CPNS. Mau tahu kiat Mamak Mahajeng dalam menghadapi tes CPNS kemarin? Baca sampai tuntas ya!

1. Cerdas Mencari dan Menerima Informasi


Menjelang tes CPNS begini bakal marak hoaks. Apalagi dengan kemudahan berbagi informasi melalui media sosial, banyak banget informasi yang asal di-share

Banyak Hoaks yang Beredar Pada Musim CPNS


Sebagai calon PNS handal, kita mesti cerdas dengan berita. Cara termudah adalah cek sumbernya langsung. Ikuti Medsos Resmi BKN dan penyelenggara CPNS Setempat

Penyelenggara utama CPNS adalah BKN kemudian Pemerintah Daerah setempat. Nah, Mamak Mahajeng ikuti semua akun officialnya. Dengan mengiku akun BKN, baik facebook, instagram, maupun twitternya,kita bisa lebih cepat dalam menerima informasi sekaligus mengecek kebenaran informasi.

2. Pahami Jadwal Tentaftif Pelaksanaan CPNS


Jadwal  CPNS 2019
Sumber : Instagram @bkngoidofficial

Namanya tentatif, pasti ya bisa saja berubah. Namun, paling enggak kita punya bayangan bagaimana membuat perencanaan menghadapi tes CPNS.

3. Cerdas Bergaul


Komunikasi bukanlah hal yang sulit saat ini. Berbagai platfrorm media sosial menjamur. Nah, Mamak Mahajeng termasuk orang yang memanfaatkan media sosial untuk mempersiapkan tes CPNS. 

Biasanya ada grup CPNS di facebook, whatsapp, atau telegram. Mamak Mahajeng ikuti semua. Selain ajang bertukar informasi, ada banyak manfaat yang didapat. Biasanya anggota di grup akan berbagi e-book atau soal-soal, kadang juga saling melempar dan menjawab soal. Bahkan nih, kalu sudah masa tes akan ada beberapa anggota grup yang berbagi soal yang mereka kerjakan. Nah, ini adalah poin jika jadwal tes kita agak lumayan di belakang. Kita dapat menganalisis jenis soal-soal yang keluar. Kalau Mamak Mahajeng bilang sih, bergaul dengan teman-teman pejuang NIP di grup media sosial itu semacam wahana belajar kelompok jarak jauh. 😄

4. Cerdas Belajar


Pernah enggak Kawan Suzan belajar mati-matian tetapi ngerasa enggak ada satu pun soal yang dipelajari keluar? Itu artinya Kawan Suzan tidak belajar dengan cerdas.

Aduh, Dev! Aku tiap ngelihat buku soal-soal tes CPNS udah ngantuk saja. Baru buka berapa lembar bawaannya nguap mulu. Nah, ini. Cek lagi seberapa kuat tekad yang kamu miliki? Kalau aku prinsipnya, 
Lakukan usaha terbaik, pasrahkan hasilnya!

Nah, kembali ke belajar. Bagaimana sih caranya belajar yang cerdas? 

Pelajari materi yang hanya memang perlu dipelajari. Caranya? Cek kisi-kisi tes CPNS. Materi yang diujikan dalam tes CPNS itu sudah diatur dalam Permen  tersendri. Untuk CPNS tahun 2019 diatur dalam Permen PAN RB 23/ 2019. Kalau Kawan Suzan mengikuti medsos BKN pasti enggak ketinggalan info ini.

Kisi-kisi Tes CPNS 2019
Sumber : Instagram @bkngoidofficial

Kalau Mamak Mahajeng biasanya akan tulis ulang atau cetak kisi-kisinya. Setiap materi yang sudah berhasil Mamak pelajari akan Mamak centang. Jadi PR-nya adalah belajar lebih keras untuk materi yang masih belum katam.

5. Cerdas Memanfaatkan Waktu Luang


Belajar untuk tes CPNS itu enggak bisa dengan sistem kebut semalem. Prinsipnya adalah 1x7 lebih baik dari 7x1. Belajar rutin 10 menit selama 7 hari itu lebih baik dari belajar 70 menit dalam sehari.

Tapi, aku punya balita Dev. Tapi, waktuku habis buat ngajar Dev. Tapi, aku sibuk jualan Dev. Kalau dituruti mah akan banyak tapi-tapi yang lain. Makanya, manfaatkan waktu luang dengan baik. Belajar tidak selalu harus mengerjakan soal.

Pada masa tes, aku sering mantengin youtube mengenai trik mengerjakan tes CPNS. Anak-anak main, aku ngawasi sambil belajar. Aku juga mendowload beberapa aplikasi soal CPNS. Bentuknya yang seperti game cuklup membantu terutama untuk materi TWK yang lebih membutuhkan daya ingat. Kalau senggang, waktu berselancar di facebook kualihkan dengan belajar melalui aplikasi. Enggak perlu lama-lama, 15 menit menjelang tidur setiap harinya sudah cukup.

6. Cerdas Mengerjakan


Dalam mengerjakan tes CPNS, kita juga enggak bisa asal mengerjakan. Kita harus mengetahui potensi yang ada pada diri kita masing-masing.

Tes CPNS itu terdiri atas Seleksi Kemapuan Dasar dan Seleksi Kemampuan Bidang dengan bobot 40%:60%. Namun, tidak semua pelamar bisa berpeluang ikut SKB. Paling banyak peserta yang akan ikut SKB hanya 3 kali dari jumlah formasi. Jika di sebuah instansi hanya ada 1 formasi, maka peserta yang akan ikut SKN hanya 3 peserta. 

Sementara itu, SKD terdiri atas 3 bagian, yaitu TWK, TIU, dan TKP. Setiap bagian memiliki nilai ambang batas.Untuk formasi umum, nilai ambang batas atau passing grade TWK hanya 65, TIU 80, dan TKP 126.  Jadi, sampai di sini jelas jika mau ikut tahap selanjutnya, PR-nya adalah lolos nilai ambang batas dan mempunyai jumlah nilai terbanyak pada tes SKD.

Perlu Kawan Suzan tahu, tes CPNS saat ini menggunakan Computer Assisted Test atau lebih populer dengan CAT. Hasil/ nilai tes itu real time alias langsung keluar begitu kita selesai. Ada 100 soal yang terdiri atas 35 soal TWK, 30 soal TIU, dan 35 soal TKP dengan waktu pengerjaan 90 menit. Masing-masing soal mempunyai skor 5 jika benar, kecuali TKP. Karena setiap jawaban di TKP mempunyai skor 1-5.

Passing Grade CPNS 2020
Sumber : Instagram @bkngoidofficial


Dengan melihat nilai ambang batas/ passing grade kita hanya membutuhkan 13 jawaban benar untuk mendapat skor 65 pada soal TWK, 16 jawaban benar untuk mendapat skor 80 pada  soal TIU,  dan 26 jawaban dengan skor 5 atau 32 jawaban dengan skor 4 untuk mendapat skor 126 pada TKP.

Setelah sudah tahu berapa minimal soal yang harus dijawab benar, Kawan Suzan harus tahu potensi diri kawan-kawan. Misal nih, Mamak Mahajeng. Aku tuh paling susah di soal TWK. Kemudian, pas masa tes kemarin berdasarkan hasil pengamatan banyak yang enggak lulus passing grade di TKP maka strategi yang aku gunakan adalah mengerjakan yang paling tidak kukuasai dulu. Dengan dasar pemikiran, kalau yang agak susah aku pasti butuh waktu lama buat nganalisis. Maka aku kerjakan TKP, baru TWK, dan terakhir TIU. Aku sih mikirnya cuma begini, kalau nanti aku kehabisan waktu, aku bisa lebih cepat mengerjakan bagian TIU. Makanya kukerjakan paling akhir. Namun, ada juga yang lebih suka mengerjakan yang paling mudah dulu. Ini sih lebih kembali ke trik masing-masing ya.

Cuma pesen Mamak, kerjakan sejumlah soal minimal yang harus benar dulu, baru lanjut bagian lain.  Jangan langsung dibabat habis. Kalau ada sisa waktu, baru selesaikan yang belum terisi. Pengalaman teman-teman yang ikut tes CPNS tahun lalu, jika TWK tinggi, nilai TIU rendah. Sebaliknya, ada yang TKP tinggi; TWK rendah. Karena apa? Karena mereka fokus pada satu bidang saja. Ingat, nilai tinggi tapi tidak semua nilai ambang terpenuhi itu sama artinya kawan-kawan tidak bisa melaju ke SKB.

7. Pasrah dan Tawakal


Ini yang terakhir dan yang paling penting, pasrah dan tawakal. Apapun hasilnya, serahkan sama pembuat Sang Maha Pembuat  Ketetapan. Masalah lolos dan tidak lolos adalah hak prerogratif Allah. Yang penting, jika pun tidak lolos, kita tidak malu karena telah  berusaha sebaik kita bisa. 

Begitulah pengalamanku yang bisa kubagi untuk Kawan Suzan yang sedang memperjuangkan NIP. Semoga bisa diambil manfaatnya. Jika ada Kawan Suzan yang punya kiat lain, mungkin bisa dibagi di kolom komentar ya!




Menjelang Tahun Baru, Begini Cara Membuat Resolusi

Sabtu, 28 Desember 2019
Resolusi 2020


Sudah di penghujung tahun. Enggak kerasa 2019 tinggal beberapa hari saja. Bagaimana tahun 2019 kalian, Kawan Suzan? Bagi Mamak Mahajeng, tahun 2019 adalah tahun yang luar biasa.

Beberapa mimpi yang bahkan sebenarnya sudah dikubur justru tercapai dengan mudah. Beberapa target pengembangan diri banyak melesat. Namun apa pun itu, Mamak Mahajeng bersyukur untuk setiap hal yang sudah terjadi di 2019.

Menjelang tahun baru identik dengan resolusi. Hampir sebagian postingan di media sosial atau tulisan di blog membahas tentang ini. Sebenernya apa sih pengertian resolusi?

Apa Sih Resolusi Itu?


Arti resolusi
Makna Resolusi Berdasarkan KBBI

Kalau secara leksikal alias makna kamus, resolusi mempunyai tiga pengertian. Coba deh Kawan Suzan perhatikan! Sama sekali enggak ada kaitannya dengan pengharapan atau pencapaian, bukan?

Makna Pertama


re.so.lu.si1 /résolusi/
n putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal: rapat akhirnya mengeluarkan suatu -- yang akan diajukan kepada pemerintah.


Kawan Suzan pasti akrab dong dengan Resolusi PBB? Nah, penggunaan  kata resolusi pada Resolusi PBB menurut Mamak Mahajeng merujuk pada pengertian ini.

Makna Kedua

re.so.lu.si2 /résolusi/
n Komp pengukuran tingkat ketajaman gambar yang dihasilkan oleh pencetak atau monitor.

Ketika Kawan Suzan membaca ulasan mengenai HP, pasti Kawan Suzan pernah menemui kalimat semacam ini. Resolusi kamera mencapai 20 MP membuat kualitas gambar yang dihasilkan sangat tajam.  Nah, kata resolusi pada kalimat tersebut merujuk pada makna kedua kata resolusi: banyak piksel yang mampu ditangkap sensor kamera (digital). 

Makna Ketiga

re.so.lu.si3 /résolusi/
n proses atau tindakan memisahkan materi seperti senyawa kimia atau sumber radiasi elektromagnetik ke dalam bagian penyusunnya.

Nah, kalau makna yang ketiga ini berkaitan dengan ilmu kimia. Mamak Mahajeng enggak bisa menjelaskan. Intinya resolusi adalah istilah dalam bidang kimia.

Nah, lho? Enggak ada benang merahnya sama sekali antara makna resolusi berdasarkan KBBI dengan resolusi yang dimaknai sebagai pengharapan ketika menyambut tahun baru.

Perluasan Makna Resolusi

Kalau kita mau tahu sejarah penggunaan kata resolusi sebagai bentuk pengharapan atu apa saja yang akan kita capai di tahun yang baru, kita bakal nemuin banyak artikel. Salah satunya yang mengaitkan penggunaan kata resolusi dengan tahun baru adalah masyarakat Babilonia ketika perayaan Akitu ribuan tahun silam. Kalau Kawan Suzan penasaran, kawan-kawan bisa berselancar sendiri. 

Jika dilihat dari makna leksikalnya, tentu saja kata resolusi tidak tepat jika dikaitkan dengan tahun baru. Namun, yang namanya bahasa itu dinamis Saudara. Bahasa adalah penanda manusia. Manusia selalu bergerak, berkembang; tak heran jika bahasa pun demikian.

Merujuk pada makna pertama, resolusi mengandung unsur tuntutan. Bisa dibilang bila resolusi adalah tuntutan terhadap diri sendiri di masa mendatang, di tahun yang baru. Jadi, ya enggak masalah juga lah ya kata resolusi dikaitkan dengan tahun baru. Kalau disambung-sambungin, masih bisa kok. 😃

Tapi, kalau Kawan Suzan enggak setuju, mungkin Kawan Suzan bisa menyebutnya sebagai Tekad Tahun Baru, sepert Goenawan Muhamad.



Strategi Membuat Resolusi

Pernah enggak dapat komentar, kamu tiap tahun bikin resolusi tapi isinya sama mulu. Enggak ada yang berhasil dong? Aku dong, sering! Namanya juga usaha. 

Tahun 2020 aku enggak mau asal bikin resolusi. Ada beberapa hal yang aku pertimbangin. Nah, ini cara Mamak Mahajeng menyusun resolusinya. 

1. Wajar

Kata orang kalau mimpi yang gede sekalian. Seandainya semesta mengamini, enggak nyesel mimpinya terlelu receh. 

Bener, sih. Tapi, kalau untuk resolusi enggak deh.  Kalau pegawai, tiap awal tahun ada penyusunan SKP tuh. Belum tentu rencana SKP yang muluk-muluk hasilnya oke. Sama dengan bikin resolusi. Ketimbang bikin resolusi super wah tapi sampai akhir tahun enggak terlaksana, mending bikin resolusi yang realistis saja.

Apa resolusi paling wajar untuk tahun  2020 buat Mamak Mahajeng?
Mamak Mahajeng pengen banget bisa kirim tulisan ke media. Mudah-mudahan saja berhasil, ya!

2. Rinci

Resolusi tahun baru harus rinci. Tujuannya apa? Agar tepat sasaran. Misalnya nih resolusi tahun 2020 Mamak Mahajeng pengen punya berat bada ideal, yakni 55 kg. Untuk resolusi yang ini, tolong diamini ya temen-temen!

3. Terukur

Artinya, ada standar yang jelas. Pencapaian seperti apa yang ditargetkan.  Misalnya nih, tahun 2020, Mamak Mahajeng pengennya minimal satu minggu bisa posting satu tulisan di susanadevi.com.

4. Komitmen

Ini paling penting, Kawan. Apapun, tanpa komitmen yang kuat tidak akan tercapai. Kalau aku sendiri sih biasanya suka nulis apa saja yang mau aku capai. Tujuannya sih sederhana, kalau enggak sengaja membaca lagi jadi timbul tekad untuk mencapai apa yang sudah ditargetkan.

5. Bagikan 

Bagi Mamak Mahajeng, penting sekali ada orang lain yang tahu resolusi yang kita targetkan. Untuk apa? Untuk mengawasi dan mengingatkan. Aku sih biasanya menceritakan apa saja yang ingin kucapai kepada Pak Tadjie. Jadi, Pak Tadjie bisa jadi satpam dan membunyikan alarm kalau aku ngelakuin hal yang bakal membuat targer 2020 gagal. Misal nih, Mamak Mahajeng tuh suka banget ngemil. Kalau Pak Tadjie lihat Mamak asyik sama camilannya, doi pasti bilang, “Katanya mau diet?”
Enggak tahu kenapa, camilannya jadi pahit!

Makanya, kalau Kawan Suzan punya resolusi untuk tahun 2020 jangan sungkan berbagi. Melalui postingan ini ,Mamak Mahajeng juga mau membagi Target tekad Tahun Baru, ah. Semoga aj bisa jadi pengingat dan penyemangat untuk mencapai.

Resolusi 2020 Mamak Mahajeng

1. Minimal satu minggu satu kali harus punya waktu yang berkualitas bersama Duo Mahajeng

Entah bikin mainan bareng, jalan-jalan tipis, atau kruntelan seharian di kasur. 

Kirana tuh masih suka drama. Liburan kali ini dia bilang “Nana seneng Ibuk di rumah. Nana enggak mau main di luar, ah. Nana kangen Ibuk!”

Aduh … duh … duh, Na! Mamakmu tuh rasanya mau salto kalau kamu ngomong gini, Nduk.
Tapi, emang PR banget sih buat Mamak Mahajeng dan Pak Tadjie. Pokoknya wajib banget ini mah ngeluangin waktu sehari full buat Duo Mahajeng.

2. Minimal satu minggu satu kali menerbitkan tulisan di blog ini

Aku enggak mau bayar domain sia-sia. Eh …

Enggak, sih! Menulis itu menurutku kebiasaan juga. Kalau sudah terlalu lama mandek, rasanya susah buat mulai lagi. 

3. Minimal sampai bulan Juni, tulisanku bisa nembus media

Mamak Mahajeng tuh lagi getol banget belajar nulis. Mudah-mudahan bisa membuat tulisan yang masuk kriteria media.

4. Minimal sampai Desember nyantol lomba blog

Enggak harus juara 1 sih, tapi kalau jadi juara enggak nolak juga.

5. Punya usaha sampingan yang kerannya mengucur deras

Jadi, kalau ada orang datang mau pinjem duit enggak kesulitan nyari alasan karena uang di dompet tinggal selembar.

Bismillah, semoga apa pun yang dipanjatkan sampai ke langit, diamini semeta, dan diijabah Sang Pemilik Segala Keputusan.

Nah, Mamak Mahajeng sudah membagi resolusi 2020-nya. Kalau Kawan Suzan sendiri, apa resolusi kalian untuk tahun depan?

5 Manfaat Ngeblog Ini Mengubah Hidupku

Jumat, 27 Desember 2019

Manfaat Ngeblog

Ternyata sudah setahun lebih Mamak Mahajeng ngeblog. Well … bukan waktu yang sebentar memang, sayangnya aku belum bisa memaksimalkan rumah ini. 

Awalnya, dengan pengetahuan yang minus dan kenekatan yang maksimal aku membangun susanadevi.com di wordpress berbayar. Sejauh aku ngeblog pakai wordpress, rasanya asyik sekali. Otak-atiknya mudah dipelajari. Banyak tutorial di google maupun di youtube. Intinya, kalau ketemu masalah cukup browsing. Namun, karena beberapa pertimbangan, akhirnya hijrahlah aku. 

Prinsipnya sih, kalau ada yang gratis, ngapain bayar? 😁

Terserahlah ya mau  ngeblog di mana, yang penting aktivitasnya ngeblognya. Nah, ini! Ternyata sudah sejak maret 2019 aku hiatus dari mengisi rumah virtual ini. Peralihan dari IRT Rumahan menjadi Ibu Pekerja cukup menyita tenaga dan pikiran.  Sungguh enggak mudah, Saudara!

Aku bersyukur sekali kenal berkenalan dengan blog. Dari pengalaman ngeblog yang masih seujung kuku ini, ternyata banyak sekali yang aku dapatkan.

Ngeblog Membuat Otak Tidak Tumpul

Ketika bertemu temen-temen seangkatan CPNS, mereka enggak percaya kalau tadinya Mamak Mahajeng cuma ibu rumahan. Hampir tiga tahun aku hanya di rumah, pergi pun kalau enggak sama suami enggak pernah. Makanya awal-awal kerja, aku mesti belajar naik motor lagi. 

Kamu di rumah ngapain, Dev?
Banyaaaaak, tapi utamanya ya cuma ngurus anak sama suami. 

Kok Bisa? 
Ya, bisa saja.

Aku bilang kalau rahasianya adalah ngeblog, Kawan Suzan percaya enggak? Sedikit banyak, hobi baruku ini aku rasa paling membantuku dalam mengerjakan tes CPNS kemarin.

Gara-gara ngeblog, aku terbiasa membaca dan menulis. Membaca referensi sana-sini. Bahkan, materi di buku-buku yang semasa kuliah tidak pernah aku baca akhirnya menjadi bahan postingan. Menyusun dan mengembangkan ide-ide jadi sebuah tulisan. Belum  lagi, aku suka otak-atik blog yang hanya bermodal tanya Paman Google dan Akang Youtube. Emh, aktivitas ini benar-benar membuat aku jadi berasa haus untuk belajar. Otakku berasa senantiasa diasah. Walau kadang kalau belum nemu solusi ketika datang masalah kepala rasanya seperti mau pecah. Intinya, kegiatan ngeblog bagi aku menjadi semacam pengasah agar otak enggak tumpul.

Ngeblog Membuat Aku Terbiasa Memecahkan Masalah

Kalau ada yang bilang “Ngeblog itu Mudah”, jangan percaya! Ngeblog itu sulit. Orang mau ngeblog, mesti siap menghadapi masalah. Orang mau ngeblog, harus siap belajar dan belajar Prinsipnya satu: tak ada masalah yang tak memiliki jalan keluar, begitu yang aku pegang.

Kata Bijak


Seperti kemarin, ketika aku mau migrasi dari wordpress ke blogspot. Bagaimana caranya, artikel yang pernah aku tulis masih ada dan tidak harus aku tulis ulang. Aku merasa cukup beruntung dapat menikmati kecanggihan internet. Apapun masalahnya, ada saja solusinya. Walaupun, masih ada masalah yang belum teratasi. Gambar-gambar dalam  postingan blog lama enggak ikut hijrah. Makanya jangan heran kalau tulisan lama aku banyak yang tidak ada gambarnya. Rencana untuk menata lagi ada, cuma belum sempet juga nih. 


Ngeblog Membuat Lebih Kreatif 

Kalau ini, aku enggak bisa ngasih gambaran. Soalnya, teman dekat dan sahabatku yang bilang begitu. Kalau aku mah mikirnya aku udah kreatif sejak dalam kandungan. (Lari, takut ditimpuk panci).


Ngeblog Mengubah Cara Pandang 

Dulu, aku masih sering menanggapi sesuatu dengan emosi. Lebih mudah baper kalau kata Pak Tadjie.
Sekarang emangnya udah enggak? Ya, masih sih. Hanya saja, sedikit berkurang lah!

Sekarang nih, aku lebih hati-hati sebelum berkomentar. Takut jika seandainya apa yang aku lontarkan ternyata menyakiti orang lain. Takut jika tanggapanku akhirnya hanya memperkeruh situasi. Dan, aku mencoba memandang sesuatu dari tempat yang netral. Jangan sampai apa yang aku sampaikan ada tendensi khusus sehingga cenderung berpihak. 

Aku juga enggak tahu mengapa begini. Kadang aku tuh suka minder kalau berkunjung ke blog orang lain dan menemukan sesuatu yang adem di sana. Entahlah, kadang aku merasa watak seseorang bisa terlihat dari caranya bertutur (red: menulis). Dari pengamatan aku, seseorang dengan kemampuan tinggi biasanya lebih rendah hati. Kalau yang belagu-belagu gitu sih biasanya ilmunya masih  cethek. Hahaha, bener enggak?

Ngeblog Membuatku Ingin Selalu Berbagi

Aku ingat benar bahwa tujuan pertama aku membangun susanadevi.com adalah untuk mengabadikan ilmu yang aku dapat di bangku kuliah. Waktu itu aku masih jadi  ibu yang memilih penuh waktu di rumah. 

Apalagi yang bisa kau bagikan selain ilmu yang (mungkin) bermanfaat untuk orang lain?

Kadang sempet mikir, ngapain sih repot-repot baca-baca dari banyak sumber lalu meramunya menjadi tulisan. Emang ada yang baca tulisanmu? Tapi, aku yakin. Apa yang aku tulis suatu saat akan dibaca banyak orang. Kadang seneng kalau ada orang yang awalnya belum kenal mengucapkan terima kasih karena aku sudah memposting sebuah tulisan. Wuih, rasanya lebih indah dari dapet duit segepok. Walaupun, kalau tiba-tiba ada yang ngasih duit segepok juga tidak akan aku tolak. 


Kata Bijak Berbagi


Sebenernya, masih banyak sih manfaat lain yang aku dapat dari ngeblog. Hanya saja, lima yang sudah aku sebutkan di atas itu paling memberi pengaruh buatku
Kalau Kawan Suzan sendiri, apa manfaat ngeblog yang paling terasa buat kalian? Bisa share pengalaman kalian di kolom komentar ya!

Sukses CPNS Ala Mamak Mahajeng

Rabu, 25 Desember 2019


Lagi musim CPNS-an, nih. Adakah di antara Kawan Suzan yang tengah menjadi pejuang NIP? Semoga Allah meridloi dan memudahkan setiap usaha kalian, ya! 

Berbicara soal CPNS, aku sudah tiga kali ikut lho.

1. Pemkab Karangasem, Bali

Tahun 2013, tahun pertama aku ikut CPNS. Waktu itu masa Mamak Mahajeng masih muda, jiwa petualanganya masih membara. 

Ada 9 formasi yang dibutuhkan, lumayan banyak memang untuk tahun itu. Kami, aku dan teman-teman seangkatan PPG Unnes, berbondong-bondong melakukan perjananan ke timur. Perjalanan Semarang-Denpasar kami lakukan dengan bus, lalu kami melanjutkan perjalanan ke Karangasem dengan menyewa motor. Modalnya, cukup ninggalin KTP.😂

Aku, Mbak Tiwi, Mbak Ulin, Faiz, Nazil, Hambali, sama Diah. Bener-bener momen enggak terlupakan.


Antara nekat sama bodoh emang beda-beda tipis. Waktu itu sembrono saja milih di sana. Yang penting jadi PNS dulu, punya  NIP dulu. Untung saja enggak lulus. Bayangin betapa repotnya kalau ternyata aku lulus. 

Masa itu udah berlaku passing grade, tapi masih ujian tulis. Belum menggunakan CAT seperti sekarang. Aku sih lupa berapa skorku waktu itu, tapi yang jelas sudah memenuhi passing grade hanya enggak masuk sembilan teratas.

2. Pemkab Kendal

Tahun 2014, aku ikut menjajal keberuntungan lagi. Tesnya di Jogja, Cuy. Pagi-pagi buta motoran sama mantan pacar yang sekarang jadi ayahnya Duo Mahajeng. Tes CPNS tahun itu pertama kalinya tes CPNS menggunakan CAT, jadi skor langsung ketahuan begitu klik selesai.

Pada tahun ini, aku sudah berpikir  untuk menikah. Makanya, pas daftar CPNS udah enggak mau jauh-jauh. Formasi yang dibutuhkan Kendal waktu itu hanya 1. Bismillah aja lah ya.

Nah, ada yang menarik dari CPNS tahun ini. Jadi, kata ayahnya anak-anak yang waktu itu masih berstatus sebagai pacar, sejak menit pertama hingga 5 menit sebelum aku keluar, nilaiku selalu berada di peringkat atas. Waktu itu, peserta tes sesiku hampir semua memperebutkan formasi guru Bahasa Indonesia. Perlu Kawan Suzan tahu, dengan sistem CAT siapa pun yang mengantar teman-teman dapat melihat skor yang teman-teman peroleh sementara kita mengerjakan di dalam ruangan. Konon, nonton skor peserta ujian CPNS itu lebih menegangkan dari melihat pertandingan sepak bola. Lebih deg-degan yang nganter ketimbang yang ngerjain tes. 


Taraaaa, ketika keluar ujian aku berada di urutan ke dua. Nah, dari sini aku mulai diajari konsep rezeki dan takdir sama Allah. Kalau belum waktunya, ya memang belum. Tapi aku percaya, jika tes CPNS masih menggunakan CAT, suatu saat aku pasti lolos. Kepercayaan diriku memang kadang terlalu tinggi. 😆

3. Pemkab Kendal

Ini adalah masaku. Ini adalah waktuku. 2018. Takdir.

Sebenernya, aku udah enggan buat ikut tes cpns kali ini. Pasalnya, aku udah terlalu lama di rumah. Kasihan anak-anak kalau ibunya tiba-tiba kerja. Namun, suami justru yang meyakinkan. Aku inget betul kata suamiku. 

“Ayah seneng ibu mau di rumah ngurus Ayah sama anak-anak. Secara kodrat, memang seharusnya begitu. Namun, Ayah tahu Ibuk punya banyak potensi yang bisa dikembangkan jika Ibuk di luar rumah dan bertemu banyak orang. Ayah tahu Ibuk masih suka mengajar. Lagipula, saat ini Ibuk seneng-seneng saja di rumah. Anak-anak masih selalu di rumah. Ibuk bisa bermain bersama anak-anak sepuasnya. Namun, beberapa tahun lagi anak-akan akan sekolah, akan jarang di rumah. Ibu pasti kesepian dan ujung-ujungnya nelpon ayah buat pulang”.

Cjiah, enggak enak banget ujungnya ya kan? Lalu kata dia, 
“Tidak semua ibu yang bekerja tidak bisa menyayangi dan memerhatikan anaknya. Banyak orang sukses di luar sana yang berada di dekapan ibu  pekerja”

Ah, jleb memang. Aku memang punya sedikit trauma di masa lalu. 

“Aku ikut. Jika Ibuk berhasil, maka memang takdir ibu buat ngajar lagi. Namun, jika kali ini gagal jangan pernah minta Ibuk untuk mencoba lagi!” begitu kataku pada suami. 

Daaaaan, aku BERHASIL saudara! BERHASIL  dengan sangat mudah. Padahal waktu itu aku adalah ibu dengan 2 balita. Kirana baru 3 tahun dan Kanaya baru setahun. Ketika yang lain pada demo minta diturunkan passing grade TKP, Mamak Mahajeng dengan takdirnya melenggang santai dengan ke-bejoan-nya. Tidak bejo gimana coba? Passing grade TKP itu 143 dan nilaiku cuma 144.  Dan, aku satu-satunya peserta yang lolos passing grade di sekolah yang aku incar.


Di sini aku mulai paham rencana Allah. Mengapa waktu itu aku enggak lolos di Karangasem. Kenapa enggak lolos di Kendal yang tahun 2014. Karena Allah pengen menempatkanku di sekolah yang deket dengan rumah. Seleksi CPNS tahun 2018 berbeda dengan CPNS sebelumnya. Pelamar bisa memilih instansi yang akan ia daftar.

Nah, banyak temen-temenku yang heran. Dev. Kok bisa sih? Kamu kan udah lama banget di rumah saja. Cuma megang ulekan sama ngucek ompol. Kok gampang banget sih? Apa sih tipsnya?

Aku sendiri pun bingung kalau ditanya soal ini. Aku hanya percaya, apapun yang saat ini kujalani adalah bagian takdir yang sudah dirancang oleh Allah sedemikian rupa. 

Terlepas dari takdir, kadang aku juga sempet mikir, kok bisa ya? Dari hasil perenungan mendalam, cjiah … ada beberapa hal yang mungkin mempermudah tes CPNS kemarin. 

1. Ridlo Suami

Seperti yang kubilang, awal mula aku daftar CPNS tahun 2018 kemarin adalah karena suamiku. Pak Tadjie bilang selalu ridlo aku bekerja asal jadi guru. Pernah aku meminta izin padanya mendaftar jadi Pendamping PKH. Pak Tadjie sih oke saja. Namun, dalam hati ia masih berat. Alhasil, hanya di administrasi saja aku enggak lolos pemirsa. Memalukan sekali kan kalah sebelum berperang. Aku menyadari benar, bahwa keberhasilan seorang istri tergantung ridlo suami.

2. Menggenggam Mimpi

Dulu sewaktu aku mengutarakan akan resign dari SMKN 7 Semarang, salah seorang sahabat berkomentar “enggak sayang Dev? Itu sekolah punya nama, lho! Banyak temen-temen yang pengen ngajar belum dapet tempat.”

Aku bilang kalau suatu saat nasibku jadi guru, aku pasti akan kembali. Entah bagaimana caranya. Aku mengutarakannya sekaligus memegangnya dalam hati. Aku menggenggam mimpiku.

Kepada setiap orang yang menyayangkan keputusanku menjadi ibu rumahan aku selalu mengatakan itu. Aku percaya, jika Allah menakdirkanku menjadi guru, aku pasti akan kembali mengajar. Ternyata Allah memberi jalan melalui CPNS-an kemarin.

3. Menulis dan Ngeblog

Masa menjadi ibu rumahan membawa banyak hikmah buatku. Walaupun aku sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, aku sama sekali tak suka dengan kegiatan menulis. Masa kuliah hanya kujalani sebagai bentuk pelampiasan terhadap kekesalanku pada putusan orang tuaku untuk berpisah. 
Allah memang sebaik-baiknya perancang kehidupan. Pada fase ini, aku bertemu dengan komunitas-komunitas nulis di dunia maya. Sekalipun aku memang tidak bisa aktif, ada banyak hal yang kupelajari. Lalu, tetiba aku tersangkut pada hobi baru: ngeblog. 

Dua hobi ini membuat otakku senantiasa terasah. Mau tidak mau aku seperti dituntut untuk belajar dan belajar. Ya, belajar yang menyenangkan! Paling enggak, otakku jadi tidak menumpul. 

4. Rajin Latihan Soal

Percaya enggak, dari ketiga seleksi CPNS yang kuikuti, seleksi yang terakhir yang paling aku anggap mudah. Soal TWK jauh dari soal mengingat. Cukup kita memahami tentang kebangsaan dan sejarah negara. Soal-soal TIU juga enggak serumit yang ada di buku-buku latihan soal CPNS. Angka-angka yang digunakan angka kecil. Lebih main ke penalaran sama pemahaman saja. Nah, kalau TKP memamg menjebak. Jawabannya hampir sama. Hanya saja, kalau aku sih yang penting konsisten saja. Soal TKP itu intinya hampir sama, kaya diulang-ulang.

Latihan soal membantuku mempercepat waktu mengerjakan sekaligus melatih aku mengatur waktu. Sekiranya aku sudah mencapai passing grade untuk salah satu bidang, aku lanjut ke bidang lain. Baru jika ada waktu, aku menyelesaikan soal yang awalnya kulewati.

5. Doa Orang Terkasih

Aku percaya bahwa doa dari orang-orang terkasih untuk kita sangat didengar. Walaupun kita sendiri juga tak boleh berhenti berdoa. Bapak adalah satu-satunya keluarga di luar suami yang mendukungku menjadi ibu rumahan waktu itu. Bapak juga yang selalu percaya bahwa jika suatu saat nanti aku ditakdirkanmenjadi guru, akan terbuka jalan. Ibuku memang belum ridlo sepenuhnya aku jadi ibu rumahan. Namun, aku selalu percaya bahwa banyak doa terbaik yang beliau lantunkan. 

Tes kemarin, aku memang sengaja enggak bercerita pada Bapak dan Ibu. Takut enggak lolos, takut nantinya malah disuruh nyari-nyari kerja lagi. Namun, aku percaya mereka tak pernah berhenti mendoakanku.

Emh, kayanya itu saja sih yang bisa kubagi. Kamu enggak lebih sering beribadah pas mau ikut tes? Lah, bukannya beribadah itu, mau kamu akan menghadapi ujian  mau enggak, tetep wajib ya? 😃

Bagi Kawan Suzan yang sedang menjadi pejuang NIP: berdoa, berusaha, dan yakin bisa!