Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tetap Waras Walau Tak Mengajar di Kelas

tetap-waras-walau-tak-mengajar-di-kelas

Pusing! Melihat beranda Facebook isinya emak muda yang ngeluh semua soal pembelajaran daring. Mereka kagak tahu saja nih, banyak guru yang kepala rasanya mau njepat!

Emang enak jadi guru di masa pandemi? Kalau boleh milih nih ya, daripada makan ati, tenaga, juga  pikiran mending kagak usah deh ada sekolah-sekolah segala selama pandemi. Anak-anak dikembalikan saja pada orang tua. Sok atuh mau diapain, toh anak-anak mereka juga. Para guru juga biar ada waktu ngurus anak mereka. 

Aduh, panas! Nyeruput es cendol dulu biar dingin.😂

Tarik napas ... lepas ...

Tarik napas ... lepas ...

Tarik napas ... lepas ...

Mau bagimana lagi? Kita tidak tahu sampai kapan pandemi ini berlangsung. Apalagi yang bisa dilakukan selain beradaptasi? Toh, kita tidak mungkin membiarkan pendidikan berhenti begitu saja. Kualitas SDM kita sudah jauh tertinggal, apa jadinya kalau pendidikan diliburkan sampai batas waktu  yang belum ditentukan?

Kiat Guru Tetap Waras Walau Tak Mengajar di Kelas

Guru juga manusia. Wajar sih kalau kadang mangkel. Namun, ingat! Sebagai guru, kita mempunyai janji-yang mungkin tidak pernah terucap-untuk mengutamakan anak didik. Biar tetap waras, saya ada beberapa kiat yang bisa dilakukan selama kita menghadapi pembelajaran di masa pandemi Covid.

1. Abaikan Komentar Sampah

Pernah suatu hari seorang guru senior di sekolah saya mengeluh karena membaca grup RT di lingkungan rumahnya yang mengatakan bahwa para guru makan gaji buta. Beliau sakit hati. Secara anak tetangga itu menjadi salah satu siswanya. Ada juga salah seorang teman yang marah-marah setelah membaca postingan di media sosial yang mencaci-maki guru. 

Aduh, sebenarnya gampang saja bagi kami mengatakan:

"Kalau memang tak berkenan, silakan bawa pulang anak Anda, silakan didik sesuai dengan keinginan Anda!"

Namun, ternyata hati nurani kami berontak. Kami tak cukup kuat untuk mengatakan hal demikian. Ya sudah. Cukuplah dua tangan ini hanya kami gunakan untuk menutup telinga. Tak pelu diladeni. Jika kebutulan melihat komentar sampah, abaikan saja. Lewati. Tak perlu ditengok, apalagi dikomentari.

Masih banyak kok orang tua yang akhirnya sadar bahwa mendidik anak tidak mudah. Fokus saja pada sesuatu yang baik, yang buruk ditinggalkan.

2. Sadari Bahwa Kita Berada di Kondisi Khusus

Pandemi adalah kondisi yang luar biasa. Maka sudah sepatutnya guru menyadari bahwa mereka tidak boleh berekspetasi terlalu tinggi terhadap pembelajaran yang dilakukan. Abaikan capaian kurikulum, begitu Mas Menteri sering menyampaikan.

Pada masa ini, anak-anak lebih membutuhkan pendidikan karakter dan literasi dalam berbagai aspeknya. Bagaimana mereka bersikap kritis dan inovatif menghadapi berbagai tuntuntan zaman. Mereka perlu dibukakan mata untuk melihat beragam kemungkinan akan hari esok.

Pembelajaran matematika bukan soal luas bangun datar dan hitungan laba-rugi. Mereka bisa diajak melihat peluang gurihnya bisnis online. Di story WA saya yang kebanyakan adalah murid-murid saya yang kelas IX dan sekarang kelas X, sering sekali terlihat beragam barang dan jasa jualan. Ada yang menjual softcase HP, pernak-pernik, bahkan kosmetik. 

Menurut saya ini bagus, artinya mereka sudah menangkap peluang. Tinggal bagaimana mereka menerapkan ilmu-ilmu yang sudah dipelajari agar tidak salah langkah. Pondasi karakter mereka perlu diperkuat agar memprioritaskan pendidikan sekalipun sudah mampu menghasilkan uang. Mereka harus mempunyai jiwa pembelajar.

Saat seperti ini, guru harus berpikir bahwa teori memang penting tetapi ada yang lebih penting: menyiapkan mereka mampu menghadapi tantangan setelah lepas kuliah.

3. Selalu Belajar dan Membuka Diri

Belajar secara daring adalah hal yang baru bagi semua kalangan. Ada banyak hal yang harus dipahami dan ditelusuri. Namun, saya yakin, mau daring mau luring, jika niat awal adalah belajar, maka tujuan pembelajaran akan tercapai.

Saat ini banyak sekali pelatihan untuk guru berkaitan dengan pembelajaran baik yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan atau bahkan pihak swasta, baik yang gratis dan berbayar. Ikuti. Banyak ilmu dan wawasan yang bisa kita gunakan.

Saya mengikuti media sosial Kementerian Pendidikan dan instansi pemerintah lainnya yang berkaitan dengan profesi saya sebagai guru. Tujuannya apa? Agar lebih cepet mengikuti pelatihan yang mereka selenggarakan.

4. Berikan yang Terbaik, Jangan Harap Imbalan yang Terbaik

Jika sudah memberi sesuatu. Lupakan! Jangan mengharap balasan! Kadang, mengharap balasan hanya akan membuat kita merasa lelah.

Ini saya alami di masa awal-awal daring. Ketika saya sudah berusaha menyiapkan pembelajaran semaksimal yang saya bisa, saya berharap ada timbal balik yang mereka berikan. Ketika apa yang saya dapat tidak sesuai harapan, saya menjadi kecewa. 

Sekarang saya belajar legawa. Saya sudah memberikan apa yang harus saya berikan. Saya sudah menunaikan kewajiban yang harus saya selesaikan. Jika mereka lantas menerima dengan baik dan kemudian memberikan timbal balik yang sepadan, itu adalah anugerah. Jikapun tidak, saya sudah berusaha.

Saya selalu mengatakan pada anak murid saya bahwa nasib mereka ada di tangan mereka sendiri. Mereka mau sukses, mereka mau berhasil bukan karena orang tua apalagi guru, tetapi semua tergantung apa yang mereka lakukan.

5. Pendidikan Bukan Hanya Tanggung Jawab Guru

Jangan merasa terbebani dengan tanggung jawab pendidikan. Pendidikan bukan sepenuhnya tanggung jawab guru. Guru, dalam hal ini sekolah, hanyalah partner. Pendidikan yang utama adalah keluarga. Pendidikan yang paling pokok adalah pendidikan dari orang tua.

Mau sekeras apapun guru berusaha, jika orang tua toleran dengan apa yang dilakukan anak, percuma. Setiap sekolah pasti melarang siswanya merokok. Namun, apakah setiap orang tua melarang anaknya merokok? 

Lihat sekeliling! Banyak sekali anak remaja yang berani tenteng-tenteng rokok di jalan. Ada memang yang petak dengan orang tua, tetapi ada juga mengakui bahwa orang tua mereka sudah tahu, bahkan memberi uang untuk membeli rokok. Ini hanya contoh umum. 

Jika ada beberapa hal yang memang di luar kendali kita sebagai guru, ya sudahlah! Pastikan kita sudah melakukan apa yang harus dilakukan. Selebihnya, itu bukan tanggung jawab penuh kita.

6. Lakukan dengan Senang Hati

Kamu tahu mengapa para guru lebih awet muda? Karena mereka bisa bersenang-senang setiap hari. Sekalipun pandemi, bukan berarti pembelajaran tak bisa menyenangkan. 

Sekalipun dengan sarana yang terbatas atau tatap muka virtual yang waktunya hanya sebentar, berbahagialah! Tertawa dengan anak-anak adalah cara meningkatkan imun. 

Lakukan setiap hal yang harus dilakukan dengan suka cita. Buang jauh-jauh rasa terpaksa dan dan enggan. 

7. Luangkan Waktu Bersenang-Senang

Lakukan apapun yang bisa membuatmu bahagia: memasak, menyanyi, menggambar, menulis, menonton film, atau sekadar jalan-jalan keliling kampung.

Beri waktu untuk dirimu sendiri. Jangan sampai kamu tak memiliki waktu untuk membahagiakan diri sendiri. 


Penutup

Semua pasti ada masanya. Saya yakin itu. Saya percaya masa-masa sulit ini akan segera berakhir. Sembari menunggu, kita hanya butuh bertahan dan beradaptasi. Bukankah setelah melewati ujian, kita tidak boleh berada di kelas yang sama. Kita harus naik kelas! Kita harus lebih baik dari sebelumnya. 

Tetap sehat, tetap kuat Para Guru di Indonesia. Kita bisa!😊

Salam, 
susana-devi


Susana Devi Anggasari
Susana Devi Anggasari Hai, saya Susana Devi. Mamak dari Duo Mahajeng, Mahajeng Kirana dan Mahajeng Kanaya. Saya ibu rumah tangga yang nyambi jadi PNS. Untuk menjalin kerja sama, silakan hubungi saya.

1 komentar untuk "Tetap Waras Walau Tak Mengajar di Kelas"

  1. Makasih mbak, ijin jadikan tulisan sampean jadi role model buat tulisanku. Keren abis.

    BalasHapus

Berlangganan via Email