RUMBEL LITERASI MEDIA: Berdaya Bersama, Berkarya Berirama

Sabtu, 11 Januari 2020



Sejak lulus matrikulasi batch 6, bisa dibilang aku adalah matrikan yang masih jalan di tempat. Saking tahu dirinya, aku belum berani melanjutkan ke step berikutnya. Manajemen waktuku memang masih berantakan. Padahal, ketika matrikulasi udah diberi tahu bagaimana cara mengatur waktu agar 24 jam itu cukup untuk semua kebutuhan, baik yang menyenangkan orang lain ataupun yang menyenangkan diri sendiri. 

Alhasil, aku jadi tidak bisa aktif di grup-grup yang aku ikuti. Salah satunya, Rumbel Literasi Media.

Rumbel Literasi Media




Rumbel ini adalah wadah belajar anggota #IbuProfesionalSemarang yang menyukai bidang tulis-menulis. Banyak hal baru yang aku dapatkan dengan kesukaan yang satu ini. Namun, kembali ke masalah aku, manejemen waktu, aku jadi belom bisa konsisten.

Secara personal, aku belum cukup mengenal rumbel ini. Sesekali hanya merapel chat grup ketika ada waktu. Belum banyak yang kukenal juga. Salah satu yang kukenal adalah Mbak Marita karena dia fasilitatorku. Maaf  ya, Mbak. Masih sering ngumpetnya aku.

Resah Jika Harus Berpisah


Liburan semester kemarin berniat menghidupkan kembali semangat menulis. Sudah terlalu padam sebelum menyala. Tentu saja, hal ini tak mudah. Paling enggak, aku harus punya lingkungan yang bisa menjaga agar niat ini terus membara.


Aku berjanji sama diri sendiri untuk mulai aktif dan menyempatkan diri bertandang di beberapa grup yang sudah kuikuti. Salah satunya, ya grup Rumbel Literasi Media ini. Betapa terkejut ketika kemarin bertandang ke grup, justru dapat berita grup ini bakal dibubarin karena terlalu adem ayem saja. Ya memang sih, aku sendir sejak masuk grup pun cenderung diem. Seandainya diumpakan rumah, aku cuma tiduran di kamar tanpa melakukan sesuatu yang cukup berarti. 

Well, sedih banget. Pasalnya, aku memang lagi pengen banget mendongkrak semangat nulis setelah hampir setahun melempem seperti kerupuk yang terkena air. Udah tahu diri sih dan enggak muluk-muluk, minimal seminggu sekali bisa ngepos satu tulisan di blog. 

Semoga saja pembubaran Rumbel Literasi Media hanyalah wacana yang tidak akan terlaksana. Yuk Man-Teman yang tergabung di grup ini, mari kita #SaveRumbelLM kita. Aku yakin masih banyak anggota rumbel ini yang butuh pelukan dari teman-teman agar semangat menulisnya menyala lagi. Butuh dukungan dan pecutan agar tidak memadamkan apa yang membuatnya bahagia. Menulis.

Membesar dengan Hal-hal  Kecil


Menurutku, komunitas tak hanya membesar dengan hal-hal besar yang dilakukan. Justru, banyak hal kecil dan sederhana yang bisa membuatnya lebih berkesan dan bercahaya.



Sudah kuceritakan di awal bahwa salah satu kekuranganku adalah manajemen waktu. Mudah-mudahan dengan membuat jadwal yang tidak terlalu padat justru membuat para anggota yang masih ingin rumbel ini bertahan bisa turut berkontribusi.

1. Tantangan Menulis Pekanan

Menyisakan satu hari dalam satu minggu untuk menulis tentu bukanlah hal yang berat dan masih dibilang masuk akal. Menulis hal-hal sederhana dengan cara yang santai. Intinya adalah yang terpenting menulis. Konsisten adalah tujuan akhir program ini. Sistemnya bisa dicari sistem yang paling pas sehingga semua anggota mau atau tidak mau, mau menulis. Termasuk aku.

2. Tamu Bulanan

Yang namanya wanita, pasti akrab dengan tamu bulanan. Tapi, yang aku maksud bukan tamu yang itu ya.

Biasanya nih, anggota grup menulis itu akan terpecut ketika ada tamu dari luar yang datang. Berbagi ilmu atau minimal berbagi kisah. Siapa tahu, apa yang disampaikan para tamu membuat semangat anggota semakin membara dan mendapat banyak ilmu baru yang penting sekali untuk meningkatkan keterampilan menulisnya.

3. Setahun Berkarya

Kalau yang ini, semoga tidak muluk-muluk. Aku hanya berpikir jika setiap bulan kita ditantang dengan satu tulisan, setiap bulan dapet ilmu baru untuk mengasah keterampilan atau kepribadian menulis tentu akan sangat menyenangkan jika dalam rentang setahun ada satu karya yang berhasil ditelurkan. Satu karya untuk #semestakarya.

Mudah-mudahan masih ada harapan untuk rumbel ini. Mamak Mahajeng butuh pelukan hangat untuk tetap menulis, kurasa begitupun Kawan Suzan lain yang gabung dalam #RumbelLM. 

Gandos Pak Gandos Memang Jos Gandos

Rabu, 01 Januari 2020
Pengertian Gandos



Tadi siang ketika jalan sama suami, ketemu bapak si penjual gandos. Karena emang suami suka sama penganan ini maka menepilah kami. Ketika memesan dengan menyebut sejumlah uang, si Bapak bilang tapi harus nunggu. Lah, cuma menunggu berapa menit ini, enggak masalahlah buat kami. Lumayan bisa sembari ngobrol. 

Apa sih GANDOS itu?


Gandos merupakan penganan tradisional dari Jawa Tengah. Makanan satu ini termasuk jenis makanan yang sudah lumayan sulit ditemukan. Seringkali, ketika suami pengen makan gandos, kami gagal menemukan penjual gandos.


Kue Gandos


Gandos terbuat dari adonan tepung beras, santan, dan parutan kelapa. Rasanya gurih. Nikmat sekali dilahap ketika masih hangat. Enggak heran deh kalau orang-orang generasi X suka banget. Contohnya, Pak Tadjie. Kata Pak Tadjie, makanan ini legend. 😁

Cara Membuat Gandos


Sebenernya sih membuat gandos itu cukup mudah. Bahan dasarnya juga gampang dicari kok. 

Bahan:

Tepung beras 250 gram
Santan 800 ml
Kelapa yang diparut kasar 250 gram
Telur 2 butir
Daun pandan (jika suka)
Minyak untuk olesan

Cara Pembuatan

  1. Panaskan ¼ bagian tepung dan setengahnya bagian santan hingga mengental.
  2. Tambahkan sisa tepung, kelapa parut, garam, telur, dan sisa santan secara bertahap. Aduk hingga merata. Adonan gandos cukup kental tapi tetap masih bisa dituang.
  3. Panaskan cetakan. Cetakan kue gandos ini hampir sama dengan cetakan kue pukis. 
  4. Olesi cetakan dengan minyak.
  5. Tuang adonan hingga ¾ cetakan. Tutup cetakan. 
  6. Masak dengan api kecil. Tunggu hingga kering dan kecoklatan. Gandros yang sudah matang akan wangi baunya.

Sekadar catatan ya, Kawan Suzan. Gandos ini lebih lezat dinikmati ketika masih hangat. Cocok banget dinikmati di musim penghujan seperti sekarang. Dihidangkan bersama teh atau kopi hangat. Yummiii  sekali pastinya. Kalau Kawan Suzan suka manis, temen-temen bisa menambahkan taburan gula di atasnya.

Belajar Memaknai Kehidupan dari Pak Gandos


penjual gandos


Namanya Pak Sutris, aslinya dari Candi, Desa Karangmanggis. Sehari-hari mangkal di depan toko di seberang Masjid Tampingan. Di desanya, Pak Sutris lebih populer dengan panggilan Pak Gandos. 

“Kalau nyari saya di Candi, jangan panggil Pak Sutris. Nanti orang-orang bingung. Soalnya ada beberapa orang yang memiliki nama Sutris. Sebut saja Pak Gandos, pasti banyak yang tahu,” tuturnya tadi sembari menyiapkan gandos untuk kami.

1. Gigih dan Ulet


Gandos mengajarkan tentang kegigihan dan keuletan. Sudah sejak usia 30 tahun Pak Gandos menjajakan makanan ini. Awal mulanya si Bapak berjualan di daerah Boja. Kalau sekarang, cukup mangkal di Tampingan orang sudah pada tahu, begitu katanya.

Awal mulanya, Pak Gandos hanya melihat tukang gandos yang berjualan di Pasar Jrakah, Semarang. Ia mengamati penjual itu seharian. Ia pun belajar membuat penganan ini secara otodidak. Tanpa guru, tanpa bantuan resep. Tak ada resep istemewa, katanya. Pokoknya bahannya tepung beras, santan, dan parutan kelapa. 

Ternyata gandos Pak Gandos memang terbukti kelezatannya. Sembari menunggu gandos pesanan kami, sudah beberapa kali beliau menolak pelanggan.

2. Mempertahankan Nilai 

Pak Gandos memasak kuenya dengan kompor minyak. Saat ditanya mengapa tidak menggunakan kompor gas saja, beliau manjawab rasanya beda. 

“Kalau pakai kompor gas, kalau apinya terlalu besar cepet gosong. Kalau apinya kecil, enggak mateng-mateng. Susah mendapatkan kematangan yang pas,” tuturnya.
Kalau untuk aku pribadi sih: ah, sugesti Bapak saja! Enakan masak pakai kompor gas ke mana-manalah. Apalagi harga minyak tanah lumayan, Cuy! Dari Pak Gandos, saya baru tahu kalau harga minyak tanah sekarang Rp15.000. Untuk berjalan sehari, Pak Gandos biasanya menghabiskan 2 liter minyak.

Si Bapak keluar dari rumahnya biasanya pukul 09.00 waktu setempat. Ia akan berjalan kaki dari Candi hingga Tampingan sembari memikul dagangannya. Jika di tengah jalan ada yang membeli dagangannya, beliau akan melayani. 

Saat kutanya kenapa enggak pakai motor saja, katanya nanti nilai gandosnya hilang.

“Kalau jualannya pakai motor, ya bukan tukang gandos. Jualan gandos yang begini, dipikul saja.”

Baiklah, Pak. Semoga Pak Gandos sehat selalu ya.

Jualan gandos dengan cara memikul dagangannya menurutnya adalah salah satu resep sehatnya. Untuk usianya yang sudah 65 tahun, tubuh Pak Gandos terlihat cukup sehat dan bugar. 

“Selama saya hidup, saya baru satu kali masuk rumah sakit. Lima hari kalau enggak salah. Wah, lamanya. Namun, saat teman-teman sebaya saya banyak mengeluh asam urat, pegal-pegal, saya Alhamdulillah tidak pernah merasakannya. Mungkin karena saya lebih suka jalan kaki. Di rumah ada motor sebenernya, tapi saya lebih suka jalan kalau jualan,” 

Jadi malu. Aku mau ke warung deket rumah yang berjarak 3 rumah saja sering naik motor. 

3. Rezeki sudah ditakar, Enggak mungkin Tertukar

Nah, ini adalah pelajaran paling utama dari obrolan kami. Bagaimana cara Pak Gandos memandang rezeki sungguh pantas diacungi jempol. 

Saat melayani kami, beberapa pembeli datang. Ketika ada yang menanyakan apakah dagangannya masih, beliau pasti menjawab masih, tetapi harus nunggu. Beberapa ada yang rela nunggu, beberapa ada yang enggak jadi beli.

Saat kutanya, kenapa enggak pakai dua kompor saja sih, Pak? Lumayan loh tuh pembelinya. 

“Ah, karena ndelalah hari ini ramai saja, Mbak. Biasanya, ya enggak seperti ini. Lagipula, rezeki saya kan sudah ditakar. Kalau takarannya sudah segini, mau ngoyo seperti apa, ya tetap segini, Mbak.”


quote rezeki


“Saya pernah lho, Mbak. Sebelum pukul 12.00 dagangan sudah habis. Saya pulang ke rumah. Buat adonan lagi. Lah, sampai sore enggak laku, Mbak! Ya, sudah. Saya percaya kalau takarannya segini, ya diterima saja. Setiap orang sudah ada garisnya sendiri-sendiri. Ada yang kaya, ada yang melarat seperti saya” ceritanya panjang lebar.

Wah, aku enggak menyangka Pak Gandos bisa menuturkan hal seperti ini. Sebuah pelajaran berharga. Kembali pasrah pada takdir. Yes, walaupun tetap harus berusaha, tetapi takdir itu sudah tertakar. Pasrah adalah yang utama. Terima kasih untuk obrolannya hari ini ya, Pak. 

Semoga Pak Gandos senantiasa sehat agar bisa tetap berjualan. Biar anak cucu saya kenal sama makanan ini. Tadi Kanaya cukup lahap makan gandosnya Pak Gandos. Gandos Pak Gandos ini enak. Gurih. Rasanya beneran nagih. Soal harga, murah banget. Kalau dihitung-hitung, sebijinya cuma 500 perak, setangkap Rp1000.  Kalau lewat, insya Allah beli lagi.

Kawan Suzan yang rumahnya sekitar Singorojo, Boja, Limbangan, mampir deh nyicipi gandosnya Pak Gandos. Dijamin jos gandos. Awas kalau ketagihan, Mamak Mahajeng sudah peringatkan ya! 😄