PNS: Warisan Bernama “Hidup Aman”
Di negeri ini,entah mengapa menjadi PNS adalah cita-cita yang diwariskan turun-temurun seperti resep opor yang khusus dihidangkan saat lebaran.
Nanti setelah lulus kuliah, semoga cepat
diterima menjadi PNS.
Kalimat itu seperti doa yang dirapal setiap usai salat.
Seperti tujuan akhir anak-anak yang sadar orang tuanya tak punya banyak sawah
dan kebun untuk diwariskan. Mau bagaimana lagi?Menjadi dokter terlalu mahal.
Jual ginjal saja belum tentu cukup, apalagi LULUS. Jadi pengusaha, terlalu
berisiko. Jadi seniman dan sastrawan terlalu dinggap bercanda dengan hidup.
Maka, jadi PNS adalah satu-satunya jawaban untuk hidup tenang. Gaji tetap, hari
tua aman; katanya.
Sejak menikah, PNS bukan lagi tujuan.Namun, aku tahu,
keluargaku , tepatnya Bapak dan Ibu akan senang. Kita terlalu diajarkan bahwa
hidup yang bahagia adalah hidup yang stabil. Tidak perlu terlalu tinggi, tapi jangan
terlalu rendah. Nyaman, tidak banyak gelombang. Tenang, tidak banyak kejutan.
Lalu, pada suatu detik berhenti, takdir membawaku
menjadi bagian dari sistem yang diidam-idamkan banyak orang ini.
Dan ternyata, hidup tak sesederhana menerima SK lalu
selesai.
Pagi yang Selalu Datang Terlalu Cepat
Ada pagi yang dimulai sebelum benar-benar sempat
bermimpi. Alarm HP berbunyi, membangunkan tubuh yang kadang sudah memberi alarm
untuk mengambil jeda tapi tak pernah sempat. Seragam harus rapi, senyum harus
tersimpul. Padahal, ada anak ang merajuk karena PR-nya baru ia ingat lima menit
setelah ia terbangun.
Cukup dilalui, hari ini pasti selesai. Besok, kita
ulang rutinitas yang sama. Berat mulanya, tapi anehnya, lama-lama tubuh akan menganggap ini bukanlah
hal yang berat.
Tubuh manusia rasa-rasanya memang dirancang seperti
itu: terbiasa karena terpaksa atau terpaksa bisa.
Menjadi Guru, Menjadi Manusia
Menjadi guru adalah pilihan yang tak pernah aku
sesali. Namun sesekali, ini menjadi pilihan yang terasa berat. Tapi tenang, tidak
selalu. Hanya saat hari-hari terasa berat.
Di sekolah harus menjelaksan pelajaran dengan suara
lantang dan terlihat bersemangat, meski kadang kepala penuh dengan semoga yang
entah kapan akan segera terwujud. Harus tersenyum dan sabar menghadapi murid,
padahal anak sendiri diburu-buru dengan wajah ditekuk-tekuk.
Aku tahu, murid-murid yang cari perhatian itu,
hanyalah anak-anak yang kehilangan arah. Mereka hanya butuh didengar. Mereka
bertingkah dan paling ribut karena rumah mereka terlalu sunyi.
Lucunya, aku paham mengapa kami, guru, harus mencoba
memahami itu. Lalu, aku berpikir, jangan-jangan anakku menjadi murid cari
perhatian karena di rumah ibunya sudah kehabisan energi.
Ah, semoga tidak. Allah, jaga anakku seperti aku
menjaga anak-anak yang tak pernah kulahirkan ini.
Stabilitas yang Tak Benar Stabil
Untungnya, aku punya suami yang tidak menganut paham patriarki kaku. Ia mau
berbagi tugas, bahkan kerap ia mengambil porsi lebih. Ia tahu, wanitanya butuh
ditopang sedemikian rupa. Kami saling membantu semampunya. Bergantian,
memastikan rumah selalu bisa menjadi tempat paling nyaman untuk pulang.
Namun belakangan, aku sadar ada sesuatu yang sebenarnya tak pernah
disampaikan orang-orang tua. Entah karena mereka tak tahu atau memang tidak mau
tahu. Ternyata menjadi PNS tidak sestabil yang dibayangkan orang-orang.
Mungkin beberapa tahun lalu,iya. Tapi sekarang?
Kenaikan gaji terasa seperti formalitas yang bahkan kalah cepat dibanding
naiknya harga cabai, uang sekolah, biaya listrik, dan kebutuhan anak-anak. Sementara,
orang masih menganggap PNS hidup tanpa cemas.
Padahal, aku yakin banyak dari kami yang setiap malam khawatir apakah
gajinya cukup hingga tanggal gajian. Tak sedikit yang menunda membeli barang
yang sebenarnya dibutuhkan karena ada kebutuhan yang lebih mendesak untuk
diprioritaskan.
Bolehlah “gaji tetap” terdengar menenangkan, kalau itu cukup banyak. Namun
kenyatannya, angka itu seperti angka yang lebih sering diam di tempat sementara
kebutuhan berlari ke mana-mana.
Dan di titik itu aku mulai sadar, stabilitas yang selama ini dijual kepada kami ternyata rapuh sekali. Dan anak-anak muda, juga anakku nanti, harus tahu hal ini.
Boleh kamu menjadi PNS, tapi kamu tidak boleh mengandalkan ini menjadi satu-satunya
pintu penghasilan.
Kita tidak tahu sampai kapan negara akan baik-baik saja. Jika negara ini
kenapa-kenapa, siapa lagi kalau bukan aku dan kamu, para pegawai rendahan, yang
bisa segera dipangkas untuk mengurangi beban negara?
Kita ini mudah sekali menjadi angka.
Anggaran dipotong.
Tunjangan dikurangi.
Rekrutmen dihentikan.
Tenaga dirampingkan.
Mungkin itu sebabnya semakin ke sini aku semakin percaya:manusia tidak bisa
menggantungkan seluruh hidupnya hanya pada satu pintu.
Dunia berubah terlalu cepat. Terlalu banyak ketidakpastian. Tidak selalu
harus hitungan tahun, bahkan dalam hitungan bulan, minggu, hari semua bisa
berubah.
Justru rasa aman adalah hal paling berbahaya. Rasa aman membuat seseorang
berhenti menyiapkan kemungkinan lain.
Menjadi PNS terasa seperti pagar paling kokoh untuk melindungi masa depan.
Padahal, pagar tetap bisa roboh.
Sementara itu, orang-orang yang sejak awal
hidup sebagai pengusaha, sekecil apa pun usahanya, diam-diam punya daya tahan
yang berbeda.
Mereka terbiasa hidup dengan kemungkinan rugi
dan untung. Mereka terbiasa memutar otak agar semua tetap berjalan. Sedangkan
kita?
Terlalu lama hidup dalam zona aman dan nyaman membuat
banyak dari kita lupa caranya bertahan. Kita pandai bekerja sesuai prosedur,
tapi sering gagap saat hidup meminta improvisasi.
Dan... mungkin itu yang paling menakutkan: bukan tentang gaji yang kecil, melainkan tentang ketergantungan yang terlalu besar pada sesuatu yang kita kira
akan aman selamanya.
Salam,




Posting Komentar untuk "PNS: Warisan Bernama “Hidup Aman”"
Posting Komentar
Sugeng rawuh di susanadevi.com. Silakan tinggalkan jejak di sini. Semua jejak yang mengandung "kotoran" tidak akan ditampilkan ya!