PNS: Warisan Bernama “Hidup Aman”

ilustrasi gaya crayon anak tentang kehidupan PNS Indonesia dengan tulisan “PNS: Warisan Bernama Hidup Aman”

Di negeri ini,entah mengapa menjadi PNS adalah cita-cita yang diwariskan turun-temurun seperti resep opor yang khusus dihidangkan saat lebaran.

Nanti setelah lulus kuliah, semoga cepat diterima menjadi PNS.

Kalimat itu seperti doa yang dirapal setiap usai salat. Seperti tujuan akhir anak-anak yang sadar orang tuanya tak punya banyak sawah dan kebun untuk diwariskan. Mau bagaimana lagi?Menjadi dokter terlalu mahal. Jual ginjal saja belum tentu cukup, apalagi LULUS. Jadi pengusaha, terlalu berisiko. Jadi seniman dan sastrawan terlalu dinggap bercanda dengan hidup. Maka, jadi PNS adalah satu-satunya jawaban untuk hidup tenang. Gaji tetap, hari tua aman; katanya.

Sejak menikah, PNS bukan lagi tujuan.Namun, aku tahu, keluargaku , tepatnya Bapak dan Ibu akan senang. Kita terlalu diajarkan bahwa hidup yang bahagia adalah hidup yang stabil. Tidak perlu terlalu tinggi, tapi jangan terlalu rendah. Nyaman, tidak banyak gelombang. Tenang, tidak banyak kejutan.

Lalu, pada suatu detik berhenti, takdir membawaku menjadi bagian dari sistem yang diidam-idamkan banyak orang ini.

Dan ternyata, hidup tak sesederhana menerima SK lalu selesai.

Pagi yang Selalu Datang Terlalu Cepat

Ada pagi yang dimulai sebelum benar-benar sempat bermimpi. Alarm HP berbunyi, membangunkan tubuh yang kadang sudah memberi alarm untuk mengambil jeda tapi tak pernah sempat. Seragam harus rapi, senyum harus tersimpul. Padahal, ada anak ang merajuk karena PR-nya baru ia ingat lima menit setelah ia terbangun.  

Ilustrasi emosional gaya crayon tentang kehidupan ibu guru PNS berhijab yang membagi perannya antara sekolah dan keluarga.

Kadang, aku rindu hidup merdeka. Bangun, menyesap kopi dalam-dalam, dan bersiap tanpa buru-buru. Sayangnya, aku tahu hidup memaksa untuk terus berjalan.

Cukup dilalui, hari ini pasti selesai. Besok, kita ulang rutinitas yang sama. Berat mulanya, tapi anehnya,  lama-lama tubuh akan menganggap ini bukanlah hal yang berat.

Tubuh manusia rasa-rasanya memang dirancang seperti itu: terbiasa karena terpaksa atau terpaksa bisa.

Menjadi Guru, Menjadi Manusia

Menjadi guru adalah pilihan yang tak pernah aku sesali. Namun sesekali, ini menjadi pilihan yang terasa berat. Tapi tenang, tidak selalu. Hanya saat hari-hari terasa berat.

Di sekolah harus menjelaksan pelajaran dengan suara lantang dan terlihat bersemangat, meski kadang kepala penuh dengan semoga yang entah kapan akan segera terwujud. Harus tersenyum dan sabar menghadapi murid, padahal anak sendiri diburu-buru dengan wajah ditekuk-tekuk.

Aku tahu, murid-murid yang cari perhatian itu, hanyalah anak-anak yang kehilangan arah. Mereka hanya butuh didengar. Mereka bertingkah dan paling ribut karena rumah mereka terlalu sunyi.

Ilustrasi gaya gambar krayon anak menampilkan guru perempuan berhijab memeluk murid di kelas dan anak kandungnya menunggu di rumah sambil menggambar ibunya, menggambarkan kehidupan ibu guru bekerja.


Lucunya, aku paham mengapa kami, guru, harus mencoba memahami itu. Lalu, aku berpikir, jangan-jangan anakku menjadi murid cari perhatian karena di rumah ibunya sudah kehabisan energi.

Ah, semoga tidak. Allah, jaga anakku seperti aku menjaga anak-anak yang tak pernah kulahirkan ini.

Stabilitas yang Tak Benar Stabil

Untungnya, aku punya suami yang tidak menganut paham patriarki kaku. Ia mau berbagi tugas, bahkan kerap ia mengambil porsi lebih. Ia tahu, wanitanya butuh ditopang sedemikian rupa. Kami saling membantu semampunya. Bergantian, memastikan rumah selalu bisa menjadi tempat paling nyaman untuk pulang.

Namun belakangan, aku sadar ada sesuatu yang sebenarnya tak pernah disampaikan orang-orang tua. Entah karena mereka tak tahu atau memang tidak mau tahu. Ternyata menjadi PNS tidak sestabil yang dibayangkan orang-orang.

Mungkin beberapa tahun lalu,iya. Tapi sekarang?

Kenaikan gaji terasa seperti formalitas yang bahkan kalah cepat dibanding naiknya harga cabai, uang sekolah, biaya listrik, dan kebutuhan anak-anak. Sementara, orang masih menganggap PNS hidup tanpa cemas.

Padahal, aku yakin banyak dari kami yang setiap malam khawatir apakah gajinya cukup hingga tanggal gajian. Tak sedikit yang menunda membeli barang yang sebenarnya dibutuhkan karena ada kebutuhan yang lebih mendesak untuk diprioritaskan.

Bolehlah “gaji tetap” terdengar menenangkan, kalau itu cukup banyak. Namun kenyatannya, angka itu seperti angka yang lebih sering diam di tempat sementara kebutuhan berlari ke mana-mana.

Gambar crayon anak menampilkan ibu guru berhijab dan keluarganya di tengah kecemasan ekonomi dan biaya hidup yang terus naik.

Dan di titik itu aku mulai sadar, stabilitas yang selama ini dijual kepada kami ternyata rapuh sekali. Dan anak-anak muda, juga anakku nanti, harus tahu hal ini.

Boleh kamu menjadi PNS, tapi kamu tidak boleh mengandalkan ini menjadi satu-satunya pintu penghasilan.

Kita tidak tahu sampai kapan negara akan baik-baik saja. Jika negara ini kenapa-kenapa, siapa lagi kalau bukan aku dan kamu, para pegawai rendahan, yang bisa segera dipangkas untuk mengurangi beban negara?

Kita ini mudah sekali menjadi angka.

Anggaran dipotong.
Tunjangan dikurangi.
Rekrutmen dihentikan.
Tenaga dirampingkan.

Mungkin itu sebabnya semakin ke sini aku semakin percaya:manusia tidak bisa menggantungkan seluruh hidupnya hanya pada satu pintu.

Dunia berubah terlalu cepat. Terlalu banyak ketidakpastian. Tidak selalu harus hitungan tahun, bahkan dalam hitungan bulan, minggu, hari semua bisa berubah.

Justru rasa aman adalah hal paling berbahaya. Rasa aman membuat seseorang berhenti menyiapkan kemungkinan lain.

Menjadi PNS terasa seperti pagar paling kokoh untuk melindungi masa depan. Padahal, pagar tetap bisa roboh.

Sementara itu, orang-orang yang sejak awal hidup sebagai pengusaha, sekecil apa pun usahanya, diam-diam punya daya tahan yang berbeda.

Mereka terbiasa hidup dengan kemungkinan rugi dan untung. Mereka terbiasa memutar otak agar semua tetap berjalan. Sedangkan kita?

Terlalu lama hidup dalam zona aman dan nyaman membuat banyak dari kita lupa caranya bertahan. Kita pandai bekerja sesuai prosedur, tapi sering gagap saat hidup meminta improvisasi.

Dan... mungkin itu yang paling menakutkan: bukan tentang gaji yang kecil, melainkan tentang ketergantungan yang terlalu besar pada sesuatu yang kita kira akan aman selamanya.


Salam, 



 

Susana Devi Anggasari
Susana Devi Anggasari Hai, saya Susana Devi. Mamak dari Duo Mahajeng, Mahajeng Kirana dan Mahajeng Kanaya. Untuk menjalin kerja sama, silakan hubungi saya.

Posting Komentar untuk "PNS: Warisan Bernama “Hidup Aman”"