Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Marni

pentigraf

"Tidak bisa dibiarkan, Pak! Tak ada ampun. Siapa pun yang berani mengganggu Marni harus berhadapan denganku! Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri."

Bu Wardjo mengeram sembari menahan tangis. Marni baginya bukan sekadar rewang. Marni sudah ia anggap anak sendiri. Semenjak Marni ditinggal ibunya mati lima belas tahun lalu, Bu Wardjo bertekad untuk merawat Marni sepenuh hati. Walaupun ibu Warni hanyalah rewang di rumah besar itu, keduanya sudah bersahabat sejak kecil, bahkan sebelum keduanya bisa saling menyapa.

Marni duduk menunduk. Tubuhnya berguncang-guncang. Tak ada suara, hanya isak tangis. Ia tahu ia sudah sangat menyakiti Bu Wardjo. Perempuan yang ia cintai setengah mati. Bukan hanya melempar tahu pada wajah keluarga, apa yang menimpanya sudah merobek-robek hati perempuan setengah baya yang selalu tampil ayu dan rupawan. Sebesar apapun ia berusaha menjahit luka yang ia torehkan, luka itu akan menganga.

"Maafkan Marni, Ibu. Aku akan pergi dan merawat anak yang kukandung tanpa melibatkan ayahnya, suami yang selalu Ibu anggap tanpa cela," hatinya bertekad. Ia bersimpuh di kaki Bu Wardjo tanpa sedikit pun sudi menatap mata lelaki yang sedari tadi hanya diam mendengar sumpah serapah istrinya.


Susana Devi Anggasari
Susana Devi Anggasari Hai, saya Susana Devi. Mamak dari Duo Mahajeng, Mahajeng Kirana dan Mahajeng Kanaya. Saya ibu rumah tangga yang nyambi jadi PNS. Untuk menjalin kerja sama, silakan hubungi saya.

Posting Komentar untuk "Marni"

Berlangganan via Email