Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jangan Labeli Anak "Broken Home"

curhatan-anak-broken-home

Jangan labeli anak dengan keluarga yang orang tuanya memilih bercerai sebagai anak broken home. Sungguh itu jahat. Hati mereka sudah remuk, tak perlu direnyuk.

"Oh, pantes saja kelakuannya begitu. Orang tuanya saja bercerai!"
"Enggak heran dia nakal begitu. Bapak-ibunya pisah sejak dia kecil."
"Lah, dia lagi yang bikin rusuh? Pantes saja. Bapaknya saja enggak jelas di mana?"

Apa yang salah dengan si anak? Jika memang bapak-ibunya bersalah, apakah lantas si anak berhak mendapat imbas? Bukankah tak ada dosa turunan? 

Mereka tak bisa memilih terlahir dari rahim siapa. Mereka tak bisa meminta dilahirkan di keluarga seperti apa. 

Hidup mereka sudah suram, tak perlu dipermuram dengan celoteh kita. Tak mudah menerima kenyataan bahwa mereka tak bisa merasakan yang orang lain bisa rasakan. 

"Teman saya setiap hari dibawain bekal ibunya. Saya boro-boro. Kalau laper, ya cari warung!"
"Gimana enggak telat bangun. Teman-teman ada yang bangunin. Saya paling alarm HP. Itupun sering enggak denger!"
"Mereka rapi. wajar! Ibu mereka sudah nyiapin baju dan keperluan setiap hari. Saya harus nyiapin sendiri!"

Mungkin begitu suara hati anak-anak yang dilabeli broken home. Mereka menjalani kerasnya hidup lebih awal dibanding teman-teman seusianya. 

Ketika teman-teman seusianya masih dimanjakan dengan berbagai kemudahan, mereka harus menyiapkan segala sendiri. Ketika teman-teman seumurannya masih meminta pertimbangan orang tua, mereka berusaha memutuskan sendiri. Boro-boro meminta pertimbangan, mengutarakan apa yang mereka rasakan saya sulitnya minta ampun.

Perpisahan dalam rumah tangga biasanya mengandung drama tak berkesudahan. Tak banyak pasangan yang memilih mengakhiri biduk rumah tangga bisa saling legawa untuk berpisah baik-baik. Jikapun ada, saya yakin sangat sedikit jumlahnya.

Kadang pernah enggak sih berpikir kenapa anak-anak korban cerai ini suka berulah? Mereka sebenarnya anak baik. Hanya saja, mereka kurang perhatian. Makanya, mereka mencari perhatian dengan membuat masalah.

Justru harusnya ketika melihat mereka berulah, kita mengambil peran. Merangkul mereka dan memberi mereka perhatian. 

Hati-hati. Jangan sampai justru memberi sunpah serapah. Bisa jadi umpatan yang kita lontarkan menjadi magnet yang menarik nasib buruk pada anak-anak kita. Toh, tidak berpisah pun sanngat berpotensi menciptakan anak broken

Jangan dikira broken home hanya terjadi karena perceraian. Lihat kembali rumah kita. Sudahkan menjadi rumah yang nyaman untuk berpulang? Sudahkah anak-anak bebas menceritakan berbagai hal pada ayah ibunya? Sudahkah suami-istri mengkomunikasikan langkah yang akan dituju?

Jangan sampai kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak!

Salam, 






Susana Devi Anggasari
Susana Devi Anggasari Hai, saya Susana Devi. Mamak dari Duo Mahajeng, Mahajeng Kirana dan Mahajeng Kanaya. Saya ibu rumah tangga yang nyambi jadi PNS. Untuk menjalin kerja sama, silakan hubungi saya.

7 komentar untuk "Jangan Labeli Anak "Broken Home""

  1. Setuju banget sama tulisan, Kakak..
    Harusnya g boleh mikir kayak gitu ke anak korban perceraian org tua..
    Itu hanya bkin mental anak makin hancur aja..

    BalasHapus
  2. Ironisnya, "melabeli" seperti ini sudah sering sekali terjadi ya mbak :(

    BalasHapus
  3. Reminder untuk masyarakat, khususnya keluarga di Indonesia.

    Mantap

    BalasHapus
  4. Sepakat. Orang tua saya bercerai sejak saya SD. Tapi saya tidak merasa bahwa saya "broken". Perceraian mereka membuat saya bekajar untuk lebih kuat.

    BalasHapus
  5. Masukan dech buatku ... karena kalau ketemu anak bermasalah ternyata ujungnya di rumah juga ada something ...

    BalasHapus
  6. Wah...mengena sekali tulisannya. Memang tak seharusnya melabeli anak. Mereka berhak mendapat kehidupan yang membahagiakan

    BalasHapus
  7. Nah, iya. Melabeli anak itu akan terekam seumur hidup di alam bawah sadar. So, jangan sampai deh...

    BalasHapus

Berlangganan via Email