Menebar Kebaikan? Siapa Takut!

menebar-kebaikan-siapa-takut


Saya terkadang kagum dengan banyak orang yang bisa melakukan sesuatu yang luar biasa kepada orang lain. Membuat panti asuhan, membuat rumah belajar, membuat kelompok kerja. Mereka keren sekali, sayang aku kok belum bisa kaya gitu ya! Begitu saya sering berpikir.

Setiap manusia pasti memiliki  keinginan, yang entah datangnya dari mana, ingin berarti untuk orang lain. Sejatinya setiap orang ingin menjadi pahlawan untuk orang lain. Sayangnya, tak semua orang “merasa” punya kesempatan itu.

“Aku hanya manusia kere. Hidupku saja perlu dikasihani, kok!” 


“Aku tidak punya waktu untuk hal-hal semacam itu. 
Aktif di organisasi kemasyarakatan macam itu
 hanya untuk orang-orang yang sudah mapan. 
Kalau aku sibuk jadi sukarelawan, mau makan apa anak-istriku?

Benarkah begitu? Jika seperti itu, bukankah hanya orang kaya yang punya peluang besar untuk “membeli” tiket surga? Lalu, apakah tidak ada orang miskin di surga kelak?


semua-orang-bisa-menebar-kebaikan

Selama ini kita terlalu banyak dicekoki tontonan kebaikan ala orang kaya, hingga lupa bahwa semua bisa berbuat baik. Kawan Suzan pasti pernah menonton. Seorang artis menyamar menjadi gembel yang perlu ditolong. Sebelum ada yang menolong, pasti ada beberapa orang menolak permintaan gembel. Lalu, saat ada yang menolong tiba-tiba gembel itu justru memberi uang jutaan rupiah. Penonton pun terharu.

Puja-puji untuk artis. Doa melimpah ruah untuk artis. Namun, ada yang terlupakan. Mana doa untuk kebaikan orang yang tulus menolong si gembel? Bukankah menolong tanpa pamrih adalah kebaikan yang terlalu rendah untuk dinilai dengan uang jutaan rupiah saja?Atau memang sejatinya uang lebih terlihat dari kebaikan-kebaikan lain yang mungkin dilakukan?

 

Ah, kembali lagi. Bukankah kalau begitu nanti di surga akan lebih banyak orang kaya dibanding orang miskin? Lalu, bagaimana nasib orang miskin? Sudah hidup di dunia susah, payah pula meraih surga? 

 Ada pola pikir yang perlu diubah di masyarakat kita. Kebaikan tak semata perkara harta. Setiap orang berpotensi menebar kebaikan.

 Pemulung yang pekerjaannya memunguti sampah, ia menebar kebaikan. Tanpanya, sampah menumpuk di mana-mana.

 Pak Ogah di pertigaan jalan, sungguh ia luar biasa. Ia menjadi penolong buat emak-emak yang  takut menyebrang jalan macam saya. Ia juga menebar kebaikan tanpa banyak dielukannya sebagai sesuatu yang luar biasa. 

Kebaikan milik semua umat. Semua orang berkesempatan berbuat baik, tanpa terkecuali.

 

lakukan peran terbaikmu

Pernah enggak bertanya kebaikan macam apa yang bisa saya lakukan? Saya pernah dibuat depresi karena merasa tak bisa berbuat baik. Ingin berbuat sesuatu, tapi tak mampu. Semacam cebol ngayahi lintang. Dan itu sungguh menyiksa.

Hingga pada penemuan bahwa melakukan hal terbaik sesuai peran yang bisa dilakukan adalah kebaikan. Sungguh, kebaikan tak perlu dicari karena sejatinya kita semua memiliki peluang berbuat baik.

Penyapu jalan yang membersihkan jalanan dengan bersih, ia menebar kebaikan. Petugas layanan publik yang menolak tip dengan alasan ia sudah memperoleh upah atas pekerjaannya, ia sudah melakukan kebaikan. Tetangga yang mau berbagi makanan, ia sudah melakukan derma pada sesama.

Lalu, kebaikan apa yang bisa kita tebarkan? Banyak! Apapun peranmu, lakukan peranmu sebaik yang kamu bisa. Dengan begitu, kamu sudah menebar kebaikan. Kalau kamu pegawai, lakukan pekerjaan sesuai tupoksi. Kalau kamu pedagang, timbang daganganmu dengan benar. Jangan sampai ada selisih. Dengan melakukan segala pekerjaan dengan standar kerja terbaik, kita sebenarnya sudah turut menebar kebaikan.

Oh iya, saya bersyukur Tuhan menakdirkan saya kembali mengajar. Bagi saya, guru semacam tiket untuk banyak menebar kebaikan. Semoga.

menebar-kebaikan-sebagai-guru
Mengunjungi Salah Satu Siswa yang Sering Tidak Masuk Sekolah

Namanya Solehan. Salah satu siswa saya di sekolah. Ia juga menjadi anak wali saya di kelas. Saya terpaksa mendatangi rumahnya malam hari agar saya bisa bertemu kedua orang tuanya atau minimal salah satu dari mereka. Saya harus bertemu dengan ibu atau bapaknya karena ada masa depan yang lebih baik yang mungkin bisa diwujudkan

Ia menjadi spesial karena jarang sekali berangkat ke sekolah. Dalam satu bulan, mungkin hanya seminggu ia berangkat sekolah. Apa yang dia lakukan? Menjadi buruh cuci motor. Sepertinya, uang Rp10.000 sebagai upahnya memburuh tampak lebih berarti ketimbang masa depan yang belum pasti yang akan ia dapat lantaran sekolah.

Berulang kali saya mengatakan padanya, boleh bekerja. Namun, jangan lupa sekolah. Itu pun jika kamu masih mau hidup lebih baik, berpikir untuk tidak selamanya menjadi buruh kasar seperti sekarang. Nyatanya, ia hanya mengiyakan dan mengulanginya dari minggu ke minggu.

Menyalakan mimpi adalah tugas dan tanggung jawab saya. Kebanyakan siswa saya adalah kaum marjinal yang merasa sekolah tak ada gunanya. Tak ada mimpi yang patut dikejar hanya dengan sekolah.

Hampir di setiap kali saya mengajar, saya berusaha membuat mereka punya mimpi. Mereka semua punya kesempatan untuk hidup lebih baik. Membuat mereka punya keinginan mengubah nasib. Ya, walau saya sendiri sadar dan paham, ini bukan perkara mudah. Toh, banyak sarjana yang menganggur kan? Lalu buat apa sekolah tinggi-tinggi?

Mengenyam pendidikan bukan semata mendapatkan ijazah untuk melamar pekerjaan. Pendidikan membuat manusia mau berpikir. Manusia yang mau berpikir akan berusaha menciptakan peluang dalam hidupnya. Ini poin yang ingin saya sampaikan kepada mereka. Saya yakin, dari 150-an siswa yang saya didik, setidaknya akan ada satu yang memahami apa yang berulang kali saya sampaikan. Semoga.


quote-tentang-kebaikan

Kalian percaya bahwa kebaikan adalah warisan yang bisa diwariskan? Saya sangat percaya. Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa saya yang seperti sekarang adalah bentukan dari orang tua saya di masa silam.

Bapak saya mengajarkan idealisme dalam bekerja. Bapak adalah PNS yang waktu itu bekerja sebagai carik. Kami bukanlah orang kaya, tapi cukup jika hanya untuk hidup sehari-hari waktu itu. Pernah semasa saya kelas satu SMA, saya meminta Bapak membelikan sepeda motor. Lalu apa yang beliau katakan?

“Kamu mau sepeda motor seperti apa? Nanti Bapak belikan. Tapi, setelah itu kamu jangan nyari Bapak! Bapak mungkin sudah ada di kantor polisi.” Begitu kira-kira jawaban Bapak waktu itu.

Sejak saat itu, saya tak pernah lagi meminta barang mahal padanya. Jawaban singkatnya memberi banyak pelajaran. Ia bisa saja memberi materi berlebih pada keluarganya. Namun, tidak pernah Bapak lakukan. Ia pantang menerima sesuatu yang bukan haknya. Bapak menebar kebaikan dengan ajaran hidup yang saya pegang hingga saat ini.

Lalu, Ibu. Ibu saya adalah karyawan swasta di Balai Latihan Kerja TKI. Sering saya protes ketika dulu Ibu membawa orang yang tak dikenal pulang ke rumah. Waktu itu saya masih kecil.

Saya ingat ada seorang perempuan yang kata Ibu berasal dari Kalimantan, saya lupa namanya. Ibu bilang kalau Mbak itu adalah TKI yang bekerja di Malaysia. Ibu menemukannya di bandara ketika mengantar calon TKI yang mau berangkat ke luar negeri. Kemungkinan, Si Mbak kabur dari majikannya. Mau pulang ke rumah, belum ada biaya. Kedua tangannya mengalami luka yang cukup parah. Seperti alergi sabun atau semacamnya. Ibu membiarkan Mbak di rumah hingga tanggannya sembuh. Sementara itu, Ibu juga mencarikan ongkos untuk Mbak pulang.

Waktu itu saya nanya ke Ibu, “Kok Ibu mau sih membantu orang yang enggak dikenal? Nanti kalau ditipu bagaimana?”

“Ibu punya dua anak gadis yang tidak pernah bisa ibu jaga seorang diri. Dengan membantu orang lain, ibu berharap nanti jika anak-anak ibu mengalami kesulitan akan banyak mailakat yang dikirim buat menjaga kalian,” begitu Ibu menjawab.

Saya kecil tentu tak sepenuhnya paham dengan apa yang disampaikan Ibu. Hingga saat saya nekat menjadi guru SM3T. Ende, Nusa Tenggara Timur.  Di tempat yang baru dan serba asing ini saya mendapat keluarga dan sahabat-sahabat yang baiknya luar biasa. Baru saya pahami maksud perkataan Ibu.

Ketika masalah datang silih berganti dan saya tak bisa meminta tolong keluarga, banyak bantuan datang dari  orang yang awalnya tidak saya kenal. Momen ini membuat saya jadi teringat apa yang pernah Ibu lakukan dan sampaikan. Momen ini yang mengajarkan pada saya ada hukum tabur tuai kebaikan. Kebaikan berbagi itu akan datang, entah kepada kita sendiri, entah kepada anak keturunan kita. 

memetik-hikmah-kebaikan
Orang-Orang Baik Selama Saya Mengajar di Ende

Bukankah terkadang kebaikan yang datang kepada kita adalah buah kebaikan yang ditanam orang-orang di sekeliling kita?

Saat ini saya mempunyai dua gadis kecil. Sebagai orang tua, saya pun ingin seperti Bapak dan Ibu. Membekali Kirana dan Kanaya hati yang mudah menggerakkan mereka berbuat baik. Semoga dimampukan.


menebar-kebaikan-bersama-dompet-dhuafa

Sebaik-baiknya nasihat, adalah nasihat yang diteladankan. Begitu yang saya yakini.  Oleh karena itu, kami, saya dan suami,berusaha untuk memberi contoh nyata agar nantinya Kirana dan Kanaya mudah berbagi. Sekecil apapun kebaikan yang kami lakukan, kami selalu melibatkan anak-anak.

Jangan tunggu menjadi besar untuk memberi kebaikan. Karena tak ada yang menjamin, esok masih ada. Jika kita hanya bisa tersenyum ramah pada orang lain, tebar kebaikan dengan kegembiraan yang katanya bisa menular. Jika kita hanya punya tenaga yang bisa disumbang, tebar kebaikan dengan tenaga untuk meringankan beban orang lain. Jika kita punya harta walau sedikit, jangan lupa sisihkan untuk sedekah. Percayalah, tidak ada orang bersedekah lantas menjadi miskin

Namun, jika Kawan Suzan mau bersedekah. Kawan Suzan harus hati-hati. Apalagi sekarang. Banyak sekali lembaga filantropi atau badan amal bermunculan. Jika Kawan Suzan mau bersedekah, terlebih melalui pihak ketiga atau memanfaatkan pihak ketiga, pastikan kalian bekerja sama dengan pihak yang tepat.

Salah satu lembaga yang bisa kalian percaya untuk beramal adalah Dompet Dhuafa. Lembaga nirlaba yang berdiri sejak 1993 ini concern pada pengelolaan dana zakat, infak, sedekah, wakaf (ZISWAF), serta dana lainnya yang halal dan legal dari perorangan, kelompok, perusahaan maupun lembaga.

Mengapa saya menyarankan Dompet Dhuafa? Karena Dompet Dhuafa tuh KALEM. 


alasan-menebar-kebaikan-bersama-dompet-dhuafa
Alasan Menebar Kebaikan Bersama Dompet Dhuafa

kalkulator-zakat

Bulan Puasa, menjelang Lebaran. Salah satu kebaikan yang wajib dilakukan adalah zakat. Namun, perlu digarisbawahi bahwa ada yang membedakan antara zakat dan berbagi harta lain. Dalam zakat ada syariat dan tuntunannya. Ada patokan dan ketentuan yang harus ditaati. Ada takaran.

Tidak semua orang paham bagaimana cara menghitung besarnya zakat yang harus dikeluarkan. Dompet Dhuafa memahami itu. Sebagai badan amal yang memahami permasalahan yang dihadapi masyarakat, Dompet Dhuafa menyediakan kalkulator zakat. Hal ini tentu saja memudahkan kita dalam menghitung zakat yang harus dikeluarkan.

 

Dalam menitipkan zakat, infak, sedekah dan wakaf (ZISWAF) tentu keamanahan menjadi faktor penting.  Keamanahan Dompet Dhuafa dapat dilihat dari transparannya laporan yang disampaikan. Dompet Dhuafa sangat menyadari akan pentingnya kepercayaan masyarakat pada lembaganya. Enggak heran, sejak awal berdirinya lembaga ini sudah menjalankan audit laporan keuangan yang dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik.

Semua laporan keuangan dapat diakses masyarakat melalui halaman publikasi Dompet Dhuafa. Di sana kita dapat melihat bagaimana program-program Dompet Dhuafa berjalan, termasuk dalam pembiayaannya. Kita juga dapat melihat laporan tahunan dan laporan keuangan yang sudah diaudit. Intinya, kita dapat turut serta memantau dana yang didonasikan melalui lembaga ini.

Enggak heran jika dalam perjalanannya sudah banyak penghargaan yang diperoleh Dompet Dhuafa, terutama dalam bidang transparansi. Pada tahun 2018 Dompet Dhuafa menerima penghargaan dari Registrasi Akuntan Publik PKF sebagai lembaga yang transparans dan memiliki akuntabilitas. Pada tahun sebelumnya, 2017, Dompet Dhuafa dinyatakan sebagai Laznas dengan operasional terbaik oleh Baznas.

 

dompet-dhuafa-legal

Dompet Dhuafa adalah yayasan berbadan hukum yang sah. Pembentukan yayasan dilakukan tanggal 14 September 1994 di hadapan Notaris H. Abu Yusuf, S.H. Hal tersebut disahkan melalui Berita Acara Negara RI No. 163/A.YAY.HKM/1996/PNJAKSEL. Jadi, enggak perlu ragu lagi, kan?

 

dompet-dhuafa-efektif-menyalurkan-bantuan

Harapan setiap orang yang menyisihkan hartanya untuk orang lain adalah tepat guna. Jangan sampai harta yang sudah disisihkan tidak tepat sasaran. Salah penggunaan.

Dompet Dhuafa memiliki lima pilar program dengan berbagai program yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Progam-progam yang dihadirkan tentu sudah melalui analisis yang tajam. Intinya, progam yang ada bertujuan untuk memberdayakan masyarakat.

Selain itu, kita juga dapat memilih pengkhususan donasi mau diarahkan ke progam mana. Misal, saya seorang yang miris dengan pendidikan yang ada di Indonesia, maka saya bisa mengkhususkan donasi saya untuk program-program pendidikan.


mudah-berdonasi-melalui-dompet-dhuafa

Melakukan zakat, infak, sedekah dan wakaf (ziswaf) melalui Dompet Dhuafa itu mudah banget. Selain bisa dilakukan online dengan klak-klik ponsel saja, Dompet Dhuafa juga memberikan layanan jemput zakat.

Selain itu, Dompet Dhuafa juga sangat ringan dan menjangkau semua kalangan untuk menebar kebaikan. Bagaimana tidak? Tidak dengan Rp10.000 kita sudah dapat memberikan donasi untuk kebermanfaatan umat. Jadi, enggak mesti kaya dulu untuk bersedekah, bukan?

 

kesimpulan-menebar-kebaikan

Mari kita mulai dari diri sendiri. Mulai dari hal kecil yang bisa kita lakukan. Semua orang berpotensi menebar kebaikan. Semua orang berpeluang menuai kebaikan.

 Ingat! Jangan tunggu kita bisa melakukan hal besar jika kita tak mau melakukan hal kecil. Bukankah kebaikan besar bermula dari kebaikan-kebaikan kecil yang kita istiqomahkan?


Catatan:

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”


 

 

 


Susana Devi Anggasari
Hai, saya Susana Devi. Mamak dari Duo Mahajeng, Mahajeng Kirana dan Mahajeng Kanaya. Saya ibu rumah tangga yang nyambi jadi PNS. Untuk menjalin kerja sama, silakan hubungi saya.
Terbaru Lebih lama

Related Posts

4 komentar

  1. Aku slalu ngajarin anak2ku untuk suka berbagi. Setidaknya itu wujud rasa syukur Krn slama ini mereka bisa hidup berkecukupan. Even katanya senyum aja sudah sedekah, apalagi memberikan sesuatu yg berguna utk makhluk lainnya

    Kucing liar DTG k rumah, aku slalu minta mereka utk ttp diterima, ksh makan. Makanya makanan kucing dry food selalu ada di rumahku. Ato kalo ada pengamen, kasih dengan uang jajan mereka yg aku kasih bulanan. Ga ush takut abis utk hal2 materi. Percaya aja itu tabungan kalian di akhirat. Itu aja yg slalu aku tekanin ke mereka.

    Kalo dompet dhuafa, udh lama juga aku pake mereka utk menyalurkan zakat, kurban dan wakaf. Udh percaya dari dulu, jd ga prnh berat ato ragu utk menyalurkan zakat dan lainnya ke mereka :)

    BalasHapus
  2. maaksih sahringnya, menebar kebaikan akan membuat bahagia

    BalasHapus
  3. Salut buat Bu guru yang tetap memberikan semangat pada muridnya untuk bermimpi agar masa depan mereka lebih baik, apalagi mengajar di Ende Nusa Tenggara Timur pasti tidak mudah ya. Tetap semangat ya Bu guru.

    Semoga menang lombanya ya Bu guru.😊

    BalasHapus
  4. Semoga solehan bisa melanjutkan sekolah terus ya mbak. Syukur2 bisa smpe perguruan tinggi, karena semangatnya luar biasa :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Sugeng rawuh di susanadevi.com. Silakan tinggalkan jejak di sini. Semua jejak yang mengandung "kotoran" tidak akan ditampilkan ya!

Subscribe Our Newsletter