Usir Pening Gara-Gara Pembelajaran Daring, Vitalis Body Wash Jagonya



Sudah hampir 2 minggu working form home. Bagaimana rasanya? Nano-nano.  Di satu sisi, Mamak harus merhatiin ratusan anak (orang lain) melalui HP. Di satu sisi, ada 2 balita di rumah yang nyata-nyata minta diperhatiin. Yess! Sejak anjuran “di rumah saja”, Kirana sama Kanaya otomotis saya karantina untuk tidak ke mana-mana dulu. PR banget buat ayah dan ibunya untuk membuat mereka betah di rumah dong!


Pembelajaran Daring yang Bikin Pening


Kalau ditanya enakan kerja (di sekolah) atau di rumah, maka saya akan jawab enak di rumah asal enggak ada kerjaan.  Tapi nyatanya, sebagai abdi negara hidup Mamak Mahajeng terikat oleh sumpah jabatan. Walaupun sekolah terpaksa diliburkan, pekerjaan tidak ada liburnya dong.


Soal pembelajaraan daring sebenernya saya tidak begitu khawatir. Jauh sebelum ada pandemik Corona dan masyarakat diminta social distancing, saya sudah mulai menerapkan pembelajaran daring. Melalui grup Whatsapp “Ruang Bahasa” saya mengajak siswa-siswa belajar. Untuk memantapkan materi Ujian Nasional, Mamak mengajak para siswa bermain Quizizz yang soalnya tentu saja disesuaikan kisi-kisi. Kadang, Mamak juga meminta anak-anak membuat tugas yang diunggah di media sosial. Intinya ini bukan hal baru bagi saya dan siswa yang saya ampu.


Soal pembelajaran dan penugasan daring, insya Allah aman. Apalagi pelajaran yang diajarkan Bahasa Indonesia. Banyak celah yang bisa dimanfaatkan. Seperti kemarin ketika demam video tiktok jejogedan yang bikin mesem, Mamak berpikir dong bagaimana caranya mengajak anak-anak membuat video tiktok berfaedah. Akhirnya, jadi deh tugas membuat video tiktok mengenai teks prosedur.


Masalahnya bukan pada pembelajarannya, tetapi pada pembentukan karakternya. Lha wong ketemu tiap hari saja kami masih kesulitan, apalagi ketemu via online, tanpa tatap muka langsung. Aduh.. duh!


Semua yang serba mendadak ini membuat banyak siswa dan guru tak siap. Siswa belum teredukasi mengenai virus ini. Siswa tak paham benar jika mereka diliburkan bukan untuk liburan. Ini yang akhirnya menjadi masalah.


Hari pertama mereka belajar di rumah; ada yang mancing, ada yang nongkrong, ada yang piknik. Allah ya Rabb.  Keadaan ini bener-bener bikin kepala pusing bukan kepalang. Mewanti-wanti mereka melalui grup Whatsapp setiap hari tak juga membuat mereka mau diam di rumah. Ini yang bikin tensi tinggi setiap harinya. 


Nduk, Nang! Kalian enggak mungkin diliburkan kalau saja negara kita aman-aman saja. Negara enggak mungkin meniadakan ujian nasional yang sudah disiapkan setengah mati jika negara kita tidak diujung tanduk. Negaramu lagi dalam keadaan genting dan kalian malah berkeliaran? 


Sungguh, minggu-minggu pertama menjalani working and school from home bikin kepala saya pening bukan main. Bawaanya mau emosi, tapi enggak tahu mesti emosi sama siapa. 


Penugasan yang Mengedukasi


Semenjak melihat realita bahwa para siswa malah keasyikan dengan masa (di)libur(kan) ini, akhirnya Mamak Mahajeng putar otak bagaimana caranya laporan penugasan yang diminta atasan terpenuhi, tapi para siswa teredukasi dengan apa yang terjadi.


1.      Berkomentar di Facebook


Mereka tak paham bahwa ini adalah libur yang bukan liburan. Mereka libur karena ada kondisi gawat. Saya sangat bawel untuk masalah ini. Sayangnya, tak sebagian siswa yang sekolah dipinggiran memiliki  kecakapan literasi yang baik. Belum lagi, orang tua yang juga belum teredukasi mengenai masalah Corona ini. Akhirnya, saya meminta para siswa stalking akun IG salah satunya adalah akun Najwa dan Narasi TV. Lalu, saya membuat sebuah tulisan mengenai “Tetap di Rumah”. Saya meminta siswa mengomentari tulisan saya. Tujuan utama saya adalah mereka mau membaca. Walaupun terpaksa sebagai penggugur kewajiban melaksanakan tugas, biarlah. Namanya juga ikhtiar.


2.      Membuat Poster Edukasi


Jika saya bisa mengedukasi siswa saya, harapan saya adalah mereka bisa mengedukasi orang di sekitar, minimal keluarga. Karena saya sadar, keluarga siswa-siswa saya kebanyakan adalah masyarakat kelas bawah. Mereka benar-benar butuh edukasi soal ini. Tugas selanjutnya, saya meminta mereka membuat poster edukasi soal corona. Mau tidak mau, dalam mengerjakan tugas mereka akan membaca banyak informasi mengenai virus ini. Semoga dengan begitu, mereka sudah paham mengapa mereka harus di rumah saja.


3.      Membuat Tulisan Persuasif untuk Diam  Di Rumah


Memasuki minggu kedua masa dirumahkan, para siswa sudah mulai bosan. Saya paham kondisi itu. Jangankan para siswa, kami pun, guru mereka, sangat bosan dan ingin melakukan aktivitas seperti biasa. Namun, saya harus memahamkan mereka bahwa mereka harus tinggal di rumah. Akhirnya saya mengirim beberapa video yang saya rasa cukup memberi arahan mengapa mereka harus di rumah. Setelah itu, saya meminta mereka menulis status di media sosial yang berisi ajakan untuk diam di rumah.


4.      Membuat Video Persuasif


Minggu ketiga.

“Kapan kita masuk sekolah, Bu?” Banyak dari mereka yang bertanya begitu. Saya katakan pada mereka, makanya di rumah saja. Biar musibah ini segera berakhir dan kita bisa bertemu kembali. Akhirnya, melalui diskusi saya mencoba mengedukasi mereka mengapa masa libur diperpanjang dan diperpanjang lagi. Di akhir pembelajaran, saya memberi penugasan untuk membuat video yang mengajak masyarakat diam di rumah saja. Semoga pandemik ini segera berakhir.

 

Ketika Si Kecil Protes Emaknya Di Rumah Tapi Kerja Melulu


Awalnya, saya sama suami bertekad untuk tidak membawa pekerjaan ke rumah. Sebanyak apapun, kalau bisa dikerjaan di tempat kerja. Nah, ketika menjalani Working From Home tentu saja hal ini tidak bisa kami taati lagi. Saya sama suami yang sama-sama guru malah merasa pekerjaan kami justru semakin banyak. Jam kerja kita jadi enggak jelas. Bahkan bisa dibilang 24 jam. Bukan hanya memberi penugasan, tetapi bagaiamana mengedukasi para siswa dan memastikan mereka tidak ke mana-mana. Belum lagi, kami harus membalas pertanyaan-pertanyaan dari para siswa. 


Hingga suatu waktu, anak sulung saya yang berusia 4 tahun, Kirana, menyuarakan isi hatinya.


“Yang satu pegang laptop, yang satu pegang HP. Piye to iki (gimana sih ini)?” begitu katanya.


Sederhana, tapi jleb. Perlahan kami memang harus mengomunikasikan padanya agar dia paham mengapa orang tuanya kini harus bekerja saat di rumah. 


Akhirnya, saya yang masih memakai daster tapi sudah duduk di depan laptop sejak pagi ini pamit buat mandi. Biar wangi dan bersih. Jadi, pikirannya jernih saat nanti ngobrol sama Kirana.


Mamak inget kalau kemarin baru saja dapat kiriman Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash. Ambil dulu Vitalis Body Washnya sebelum meluncur ke kamar mandi dong. Ternyata berasa mandi parfumnya. Wanginya bener-bener bikin rileks.


Kok wanginya bikin nyaman banget sih, pikir saya. Akhirnya, saya baca tulisan di botol berwarna hijau ini. Fresh Dazzle, Skin Refreshing with Yuzu Orange Extract and Green Tea Extract. Pantesan. Kandungan Jeruk Yuzu dan Teh hijau kan memang terbukti efektif untuk menenangkan dan menambah semangat. Enggak salah deh tadi pamit mandi buat nenangin diri.


Akhirnya setelah bermeditasi di kamar mandi, saya ngomong ke Kirana kalau Mamaknya ini sementara waktu kerja di rumah. Mamak minta izin untuk di depan laptop dan megang HP dari pagi sampai siang.


“Nanti kalau udah siangan, Mamak nemenin Mbak Nana sama Dik Naya main, ya!” jelas saya. Untungnya Mbak Kirana paham dan mau ngerti.




Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash Bikin Harimu Jadi Manis


Nah, yang bikin seneng sama Vitalis Body Wash ini adalah wanginya yang tahan lama. Walau sudah berjam-jam, masih nempel. Si bungsu seneng banget ngelendeot Mamaknya saat lagi kerja. Padahal, Kanaya itu paling sensitif sama bau-bauan. Tapi, semenjak Mamak pakai sabun dari Vitalis ini Kanaya enggak mau jauh-jauh.





Enggak heran sih kalau soal ini. Vitalis kan salah satu market leader di bidang parfum. Makanya, body wash-nya wanginyanya enak banget. Di varian body wash Fresh Dazzle, parfum ini diawali dengan Bergamot yang segar, ditambah Floral Bouquet yang memberi kesan feminim, plus Musk Amber wanginya tahan sepanjang hari.


Nah, biasanya nih kalau body wash wangi banget bikin kulit kering. Nah, Vitalis ini enggak. Ternyata ada high quality moisturizer yang menjadikan body wash ini tetap bikin kulit lembab. Well, kayanya bakal jadi salah satu barang yang wajib dibeli tiap bulan nih. Oh iya, sebagai tambahan informasi. Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash ini punya 3 varian. Ada Fresh Dazzle yang Mamak Mahajeng pakai. Fresh Dazzle ini memberikan manfaat skin refreshing. Ada pula  White Glow yang memberikan manfaat skin brightening. Varian selanjutnya adalah Soft Beauty yang memberikan manfaat skin nourishing.  Kalau mau mencoba, pilih saja varian sesuai kebutuhan kulit kalian.


Sementara kerja di rumah, Vitalis Body Wash ini bakal jadi temen setia Mamak Mahajeng untuk membuat hari lebih manis. Mudah-mudahan pandemik segera usai dan kita bisa beraktivitas seperti biasa.

 

 


Susana Devi Anggasari
Hai, saya Susana Devi. Mamak dari Duo Mahajeng, Mahajeng Kirana dan Mahajeng Kanaya. Saya ibu rumah tangga yang nyambi jadi PNS. Untuk menjalin kerja sama, silakan hubungi saya.

Related Posts

5 komentar

  1. Ahhay.... Mamak mahajeng memang ruar binasah... Aq salut padamu say... Allah memberikan bakat yg tdk smua org bisa... Good luck for you...

    BalasHapus
  2. Mamak keren deh.saluttt..😍

    BalasHapus

Posting Komentar

Sugeng rawuh di susanadevi.com. Silakan tinggalkan jejak di sini. Semua jejak yang mengandung "kotoran" tidak akan ditampilkan ya!

Subscribe Our Newsletter