Sukses CPNS Ala Mamak Mahajeng

Rabu, 25 Desember 2019


Lagi musim CPNS-an, nih. Adakah di antara Kawan Suzan yang tengah menjadi pejuang NIP? Semoga Allah meridloi dan memudahkan setiap usaha kalian, ya! 

Berbicara soal CPNS, aku sudah tiga kali ikut lho.

1. Pemkab Karangasem, Bali

Tahun 2013, tahun pertama aku ikut CPNS. Waktu itu masa Mamak Mahajeng masih muda, jiwa petualanganya masih membara. 

Ada 9 formasi yang dibutuhkan, lumayan banyak memang untuk tahun itu. Kami, aku dan teman-teman seangkatan PPG Unnes, berbondong-bondong melakukan perjananan ke timur. Perjalanan Semarang-Denpasar kami lakukan dengan bus, lalu kami melanjutkan perjalanan ke Karangasem dengan menyewa motor. Modalnya, cukup ninggalin KTP.😂

Aku, Mbak Tiwi, Mbak Ulin, Faiz, Nazil, Hambali, sama Diah. Bener-bener momen enggak terlupakan.


Antara nekat sama bodoh emang beda-beda tipis. Waktu itu sembrono saja milih di sana. Yang penting jadi PNS dulu, punya  NIP dulu. Untung saja enggak lulus. Bayangin betapa repotnya kalau ternyata aku lulus. 

Masa itu udah berlaku passing grade, tapi masih ujian tulis. Belum menggunakan CAT seperti sekarang. Aku sih lupa berapa skorku waktu itu, tapi yang jelas sudah memenuhi passing grade hanya enggak masuk sembilan teratas.

2. Pemkab Kendal

Tahun 2014, aku ikut menjajal keberuntungan lagi. Tesnya di Jogja, Cuy. Pagi-pagi buta motoran sama mantan pacar yang sekarang jadi ayahnya Duo Mahajeng. Tes CPNS tahun itu pertama kalinya tes CPNS menggunakan CAT, jadi skor langsung ketahuan begitu klik selesai.

Pada tahun ini, aku sudah berpikir  untuk menikah. Makanya, pas daftar CPNS udah enggak mau jauh-jauh. Formasi yang dibutuhkan Kendal waktu itu hanya 1. Bismillah aja lah ya.

Nah, ada yang menarik dari CPNS tahun ini. Jadi, kata ayahnya anak-anak yang waktu itu masih berstatus sebagai pacar, sejak menit pertama hingga 5 menit sebelum aku keluar, nilaiku selalu berada di peringkat atas. Waktu itu, peserta tes sesiku hampir semua memperebutkan formasi guru Bahasa Indonesia. Perlu Kawan Suzan tahu, dengan sistem CAT siapa pun yang mengantar teman-teman dapat melihat skor yang teman-teman peroleh sementara kita mengerjakan di dalam ruangan. Konon, nonton skor peserta ujian CPNS itu lebih menegangkan dari melihat pertandingan sepak bola. Lebih deg-degan yang nganter ketimbang yang ngerjain tes. 


Taraaaa, ketika keluar ujian aku berada di urutan ke dua. Nah, dari sini aku mulai diajari konsep rezeki dan takdir sama Allah. Kalau belum waktunya, ya memang belum. Tapi aku percaya, jika tes CPNS masih menggunakan CAT, suatu saat aku pasti lolos. Kepercayaan diriku memang kadang terlalu tinggi. 😆

3. Pemkab Kendal

Ini adalah masaku. Ini adalah waktuku. 2018. Takdir.

Sebenernya, aku udah enggan buat ikut tes cpns kali ini. Pasalnya, aku udah terlalu lama di rumah. Kasihan anak-anak kalau ibunya tiba-tiba kerja. Namun, suami justru yang meyakinkan. Aku inget betul kata suamiku. 

“Ayah seneng ibu mau di rumah ngurus Ayah sama anak-anak. Secara kodrat, memang seharusnya begitu. Namun, Ayah tahu Ibuk punya banyak potensi yang bisa dikembangkan jika Ibuk di luar rumah dan bertemu banyak orang. Ayah tahu Ibuk masih suka mengajar. Lagipula, saat ini Ibuk seneng-seneng saja di rumah. Anak-anak masih selalu di rumah. Ibuk bisa bermain bersama anak-anak sepuasnya. Namun, beberapa tahun lagi anak-akan akan sekolah, akan jarang di rumah. Ibu pasti kesepian dan ujung-ujungnya nelpon ayah buat pulang”.

Cjiah, enggak enak banget ujungnya ya kan? Lalu kata dia, 
“Tidak semua ibu yang bekerja tidak bisa menyayangi dan memerhatikan anaknya. Banyak orang sukses di luar sana yang berada di dekapan ibu  pekerja”

Ah, jleb memang. Aku memang punya sedikit trauma di masa lalu. 

“Aku ikut. Jika Ibuk berhasil, maka memang takdir ibu buat ngajar lagi. Namun, jika kali ini gagal jangan pernah minta Ibuk untuk mencoba lagi!” begitu kataku pada suami. 

Daaaaan, aku BERHASIL saudara! BERHASIL  dengan sangat mudah. Padahal waktu itu aku adalah ibu dengan 2 balita. Kirana baru 3 tahun dan Kanaya baru setahun. Ketika yang lain pada demo minta diturunkan passing grade TKP, Mamak Mahajeng dengan takdirnya melenggang santai dengan ke-bejoan-nya. Tidak bejo gimana coba? Passing grade TKP itu 143 dan nilaiku cuma 144.  Dan, aku satu-satunya peserta yang lolos passing grade di sekolah yang aku incar.


Di sini aku mulai paham rencana Allah. Mengapa waktu itu aku enggak lolos di Karangasem. Kenapa enggak lolos di Kendal yang tahun 2014. Karena Allah pengen menempatkanku di sekolah yang deket dengan rumah. Seleksi CPNS tahun 2018 berbeda dengan CPNS sebelumnya. Pelamar bisa memilih instansi yang akan ia daftar.

Nah, banyak temen-temenku yang heran. Dev. Kok bisa sih? Kamu kan udah lama banget di rumah saja. Cuma megang ulekan sama ngucek ompol. Kok gampang banget sih? Apa sih tipsnya?

Aku sendiri pun bingung kalau ditanya soal ini. Aku hanya percaya, apapun yang saat ini kujalani adalah bagian takdir yang sudah dirancang oleh Allah sedemikian rupa. 

Terlepas dari takdir, kadang aku juga sempet mikir, kok bisa ya? Dari hasil perenungan mendalam, cjiah … ada beberapa hal yang mungkin mempermudah tes CPNS kemarin. 

1. Ridlo Suami

Seperti yang kubilang, awal mula aku daftar CPNS tahun 2018 kemarin adalah karena suamiku. Pak Tadjie bilang selalu ridlo aku bekerja asal jadi guru. Pernah aku meminta izin padanya mendaftar jadi Pendamping PKH. Pak Tadjie sih oke saja. Namun, dalam hati ia masih berat. Alhasil, hanya di administrasi saja aku enggak lolos pemirsa. Memalukan sekali kan kalah sebelum berperang. Aku menyadari benar, bahwa keberhasilan seorang istri tergantung ridlo suami.

2. Menggenggam Mimpi

Dulu sewaktu aku mengutarakan akan resign dari SMKN 7 Semarang, salah seorang sahabat berkomentar “enggak sayang Dev? Itu sekolah punya nama, lho! Banyak temen-temen yang pengen ngajar belum dapet tempat.”

Aku bilang kalau suatu saat nasibku jadi guru, aku pasti akan kembali. Entah bagaimana caranya. Aku mengutarakannya sekaligus memegangnya dalam hati. Aku menggenggam mimpiku.

Kepada setiap orang yang menyayangkan keputusanku menjadi ibu rumahan aku selalu mengatakan itu. Aku percaya, jika Allah menakdirkanku menjadi guru, aku pasti akan kembali mengajar. Ternyata Allah memberi jalan melalui CPNS-an kemarin.

3. Menulis dan Ngeblog

Masa menjadi ibu rumahan membawa banyak hikmah buatku. Walaupun aku sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, aku sama sekali tak suka dengan kegiatan menulis. Masa kuliah hanya kujalani sebagai bentuk pelampiasan terhadap kekesalanku pada putusan orang tuaku untuk berpisah. 
Allah memang sebaik-baiknya perancang kehidupan. Pada fase ini, aku bertemu dengan komunitas-komunitas nulis di dunia maya. Sekalipun aku memang tidak bisa aktif, ada banyak hal yang kupelajari. Lalu, tetiba aku tersangkut pada hobi baru: ngeblog. 

Dua hobi ini membuat otakku senantiasa terasah. Mau tidak mau aku seperti dituntut untuk belajar dan belajar. Ya, belajar yang menyenangkan! Paling enggak, otakku jadi tidak menumpul. 

4. Rajin Latihan Soal

Percaya enggak, dari ketiga seleksi CPNS yang kuikuti, seleksi yang terakhir yang paling aku anggap mudah. Soal TWK jauh dari soal mengingat. Cukup kita memahami tentang kebangsaan dan sejarah negara. Soal-soal TIU juga enggak serumit yang ada di buku-buku latihan soal CPNS. Angka-angka yang digunakan angka kecil. Lebih main ke penalaran sama pemahaman saja. Nah, kalau TKP memamg menjebak. Jawabannya hampir sama. Hanya saja, kalau aku sih yang penting konsisten saja. Soal TKP itu intinya hampir sama, kaya diulang-ulang.

Latihan soal membantuku mempercepat waktu mengerjakan sekaligus melatih aku mengatur waktu. Sekiranya aku sudah mencapai passing grade untuk salah satu bidang, aku lanjut ke bidang lain. Baru jika ada waktu, aku menyelesaikan soal yang awalnya kulewati.

5. Doa Orang Terkasih

Aku percaya bahwa doa dari orang-orang terkasih untuk kita sangat didengar. Walaupun kita sendiri juga tak boleh berhenti berdoa. Bapak adalah satu-satunya keluarga di luar suami yang mendukungku menjadi ibu rumahan waktu itu. Bapak juga yang selalu percaya bahwa jika suatu saat nanti aku ditakdirkanmenjadi guru, akan terbuka jalan. Ibuku memang belum ridlo sepenuhnya aku jadi ibu rumahan. Namun, aku selalu percaya bahwa banyak doa terbaik yang beliau lantunkan. 

Tes kemarin, aku memang sengaja enggak bercerita pada Bapak dan Ibu. Takut enggak lolos, takut nantinya malah disuruh nyari-nyari kerja lagi. Namun, aku percaya mereka tak pernah berhenti mendoakanku.

Emh, kayanya itu saja sih yang bisa kubagi. Kamu enggak lebih sering beribadah pas mau ikut tes? Lah, bukannya beribadah itu, mau kamu akan menghadapi ujian  mau enggak, tetep wajib ya? 😃

Bagi Kawan Suzan yang sedang menjadi pejuang NIP: berdoa, berusaha, dan yakin bisa!

8 komentar on "Sukses CPNS Ala Mamak Mahajeng"
  1. mamak mahajeng, apa yg km tulis selalu bikin aq semangat,

    BalasHapus
  2. Terharu biru mbul,,,km yg dulu keluar ngajar dr sekolah elit d Semarang dan inilah hadiahnya dr Allah... Selamat mbulll 😘😘😘

    BalasHapus
  3. Keren dev.. Tulisannya tmbh bagus2.. Mengalir bgt bahasanya... Pas tes cpns thn 2014 padahal skor km lbh tinggi dr aku, klo aku saingan sama km, aku gk bs lolos tuh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah, belum waktunya. Justru kalau aku dulu keterima malah sekolahnya jauh dari rumah, Zah. Hehehe

      Hapus

Sugeng rawuh di susanadevi.com. Silakan tinggalkan jejak di sini. Semua jejak yang mengandung "kotoran" tidak akan ditampilkan ya!

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9