Jangan Menyalin Tulisan Langsung dari Word ke Editor Blog

Selasa, 26 Maret 2019

Hai, Kawan Suzan. Beneran deh Mamak Mahajeng merasa kudet alias kurang up date. Namanya emak-emak, kudet sedikit tak apalah ya?

Sebagai narablog yang masih bayi, banyak banget ternyata yang harus dipelajari. Seringnya sih justru dapat pelajaran ketika mengalami masalah atau hambatan. Seperti yang mau saya bagi kepada kawan-kawan kali ini.
     
Ngedraft langsung atau tulis dulu di Word?

Kawan-kawan termasuk yang suka langsung ngedraft langsung di blog atau nulis dulu di Microsoft word? Kalau Mamak Mahajeng sih lebih nyaman nulis di word dulu baru disalin ke blog. Dan … teryata itu SALAH pemirsa. Jangan langsung copy-paste tulisan dari word ke blog kalau tak mau tampilannya jadi berantakan!

Beberapa waktu yang lalu ketika saya mencoba ikut lomba Dumet, saya mengalami masalah. Setelah artikel sudah diterbitkan, ternyata tampilannya hancur. Hancurnya sih enggak begitu parah, cuma ada beberapa bagian tulisan yang font-nya beda. Sekecil apapun, namanya masalah pasti mengganggu dong ya. Utak-atik seharian. Eh enggak ketemu-ketemu. Akhirnya, saya terpaksa ketik ulang langsung di blog. Lah, mau gimana lagi. Udah mepet DL, Cuy. Tapi alhamdulillah, artikel ini masuk di urutan keempat. Untuk narablog pemula, lumayanlah ya!


Ada yang tahu mengapa tulisan yang diketik di word tidak bisa langsung disalin dan ditempel di blog? Ternyata word dan blog itu mempunyai kode html yang tidak sama. Ketidaksamaan kode ini yang memicu terjadinya keberantakan yang tak diharapkan di postingan blog. Untuk urusan yang ini, jangan tanya ke Mamak Mahajeng ya. Saya enggak bisa menjelaskannya lebih detail.

Kalau gitu langsung ngedraf di blog langsung saja?

Nah, ini sulit bagi saya. Ada beberapa hal yang membuat saya lebih nyaman ngetik di word terlebih dulu ketimbang langsung di blog. Pasalnya, nih ...

1. Ngetik di word tidak butuh jaringan internet

Berhubung tinggal di desa dan di kaki gunung pula, jaringan internet di sini suka disayang-sayang-kan. Tiba-tiba suka ngilang, tiba-tiba suka limited, tiba-tiba suka no internet acces. Jadi, saya lebih suka ngetik di word.Buat ngetik, saya harus nunggu Nana sama Naya bobok atau minimal diajak jalan sama ayahnya. Bisa dibayangin dong, kalau pas ada waktu buat ngetik tapi jaringan enggak bersahabat, mau gimana coba? Entar giliran jaringan lancar, eh mereka nemplok terus kaya perangko yang habis ditempelin butir nasi. Kagak jadi nulis deh nantinya.

2. Sudah kadung terbiasa sama word

Namanya udah akrab kali ya, susah ke lain hati. Sejak bisa ngetik pake komputer yang layarnya segede televisi tabung sampai sekarang udah banyak laptop yang tipis dan bikin mupeng abis, saya kalau ngetik pake word. Agak susah kalau harus ngetik di tempat lain. Adakah kawan-kawan yang begitu juga?

Nah, karena saya memang sudah terlanjur jatuh cinta sama word dan belum pindah ke lain hati buat ngedraf langsung di blog, enggak tahu deh kalau besok, maka saya harus nyari solusi. Untung ya kita itu hidup di era Paman Gugel yang super cerdas. Pertanyaan apa saja bisa dijawab.

Dari tanya jawab saya kepadanya, ternyata ada beberapa cara yang bisa digunain untuk memindah tulisan dari word ke blog.

Cara untuk Memindahkan Tulisan dari Word ke Blog

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk memindahkan tulisan dari microsot word ke blog tanpa kendala. Kawan-kawan bisa menyesuaikan enaknya menggunakan cara yang mana.

1. Gunakan Notepad

Caranya cukup mudah: salin tulisan dari Word ke Notepad. Karena pada dasarnya Notepad hanya membaca teks, maka elemen lain yang ada dalam pengaturan tulisan kita di Word tidak akan menjadi masalah. Masalahnya, karena tidak ada pengaturan tampilan, maka tampilan tulisan pun jadi terlihat berantakan. Jadi, agak susah juga ketika harus mengatur tampilan postingan jika hanya melihat teks yang ada di notepad.


Namun, cara ini menjadi salah satu andalan saya sekarang. Soalnya lumayan cukup mudah. Kalau saya cukup bahan mentah saya salin dari notepad, lalu ketika mengedit saya lihat di word, terutama untuk pergantian pargraf dan pengaturan khusus lainnya.

2. Gunakan Media untuk Mengonversi ke Bentuk HTML

Salah satu media yang dapat digunakan untuk mengubah bentuk tulisan di word ke dalam kode HTML adalah menggunakan situs word2cleanhtml.com/. Karena menggunakan situs, maka pengerjaannya hanya bisa dilakukan dalam jaringan alias online.







Caranya sebenarnya sangat mudah. Kita cukup menyalin dan menempel tulisan dari word ke tempat yang disediakan, lalu klik convert to clean html. Kalau proses sudah selesai, kita tinggal menyalin hasilnya dengan klik Copy cleaned HTML to clipboard. Hasil yang sudah kita salin itu selanjutnya tinggal kita tempel di blog. Selanjutnya, tinggal lakukan beberapa pengaturan untuk menyesuaikan tampilan agar sesuai sama selera kita.

3. Menggunakan Fitur dari Microsoft Word

Nah, ini yang saya bilang kalau saya kudet. Jadi ternyata, ada banyak banget hal yang belum saya ketahui untuk memaksimalkan kinerja Word. Salah satunya lembar kerja untuk menyiapkan postingan blog. Ternyata di Word ada template yang bisa digunakan untuk menulis postingan blog sehingga kita tidak terganggu lagi dengan perbedaan kode html.

Caranya: Klik New-New Blog Post. Jika belum pernah menggunakan fitur ini, ada kotak dialog untuk menghubungkan word dengan blog. Kawan-kawan bisa melengkapinya jika ingin mengunggah secara otomatis tulisan yang sudah dibuat. Namun, jika hanya menyimpan saja dan mengunggahnya secara manual dapat dilewati.




Jika sudah selesai menulis, ada dua pilihan penanyangan yang dapat dipilih: Publish atau Publish as Draft. Kalau saya, lebih suka publish as draft untuk memastikan bahwa tayangan tulisan sudah sesuai dengan apa yang saya harapkan.

Penutup

Nah, ternyata setiap masalah selalu datang sepaket dengan solusi. Intinya hanya satu: JANGAN MENYERAH! Kalau saya pribadi sih untuk saat ini lebih memilih menulis draft di word dengan fitur lembar kerja blog pos lalu menyelesaikannya dengan publish as draft atau menyalinnya lebih dahulu di note pad. Bagi saya, kedua cara itu yang lebih nyaman.

Kalau kawan-kawan punya cara lain, boleh dong bagi pengalamannya. Siapa tahu bisa saya contoh.☺

Ayudisa

Minggu, 24 Maret 2019

Aku mendengar suara langkah kaki mendekat. Kuperkirakan ia seorang perempuan. Benar saja. Tak lama berselang, seorang gadis dengan jaket tebal berwarna biru muda membuka pintu. Ia mendorong masuk koper di sampingnya dengan kaki  kiri lalu melempar asal tas jinjing yang ia tenteng.


Rambutnya sedikit di bawah bahu, tidak keriting tapi juga tidak lurus. Warnanya hitam kecoklatan. Kulitnya tidak putih, tetapi ia mempunyai paras yang membuat semua orang ingin berlama-lama menatapnya.


Berani sekali ia datang di waktu seperti ini. Jarum pendek di jam dinding yang berada di seberang tempat tidur menunjuk angka tiga, artinya sebentar lagi subuh.


Dilepasnya jaket tebal yang membungkus tubuhnya lalu dilemparkan ke sofa warna merah mungur yang tak jauh dari tempat ia berdiri. Ia mengambil tas jinjing dan mengeluarkan pouch berwarna pastel. Setengah menyeret kaki, ia menuju meja rias di samping tempat tidur.


Wajahnya terlihat kuyu. Mungkin ia baru saja melakukan perjalanan cukup jauh. Tangannya mengeluarkan beberapa peralatan kosmetik yang tak kutahu namanya. Ia mengikat rambutnya sembarang, lalu mengusapkan kapas yang sudah ia tetesi dengan sejenis cairan bening. Ritual khas perempuan.


Apa semua perempuan menyukai melakukan pekerjaan yang membuang-buang waktu semacam itu?


Sudah hampir setengah jam ia duduk dan mengamati bayangan dirinya di cermin. Sesekali tangannya masih mengusap kapas ke pipinya yang tampak terawat. Apa ia sangat menyukai ritual ini? Kulihat kapas terakhir yang ia lempar ke tong sampah masih terlihat putih, bersih. Kurasa, sudah seharusnya ia menyudahi ini.


Ketika sedang asyik memperhatikan gadis yang belum kuketahui namanya ini, tanpa sengaja aku berhenti di matanya. Mata bermanik coklat yang sangat indah. Namun, aku seperti melihat sebuah telaga berkabut di dalamnya. Semakin kuselami, semakin terasa dingin dan menakutkan.


“Kamu tak usah mencariku lagi!” Aku dibuat kaget ketika dia melempar telepon selulernya ke atas tempat tidur setelah menghardik seseorang.


Mungkin dia sedang bertengkar dengan kekasihnya, pikirku.



Langit mulai menampakan warna. Semburat jingga di antara warna langit yang masih petang sepertinya menarik perhatian gadis itu. Ia beranjak dari tempatnya duduk, membuka jendela, dan menyibak gorden agar leluasa keluar. Lukisan paling indah membentang di atas sana. Tubuhnya menyandar pada tepian jendela. Matanya memandang jauh ke luar. Sesekali kudengar ia menghembuskan napas, lalu mencoba tersenyum. Aku yakin ada luka yang sedang ingin ia obati. 

Menjelang terbit fajar, pemandangan dari atas ini memang sangat indah. Sudah ratusan orang datang dan pergi. Mereka yang pernah singgah di sini selalu berharap dapat kembali datang. Bukan ... Bukan untuk bertemu denganku. Mereka datang untuk fajar dan senja di tempat ini. Tak apa, aku sudah cukup bahagia ketika mereka yang pernah datang ke mari akhirnya merindukan tempat ini. Apa lagi yang lebih indah selain tahu bahwa mereka menghabiskan kepalanya untuk selalu mengingatmu dan berharap bersua kembali. Ah, aku terlalu melakolis tampaknya! Bunyi ponsel teramat gaduh. Ia tak juga berniat mengambil ponselnya. Jika saja aku punya hak bicara, sudah kuperintahkan ia untuk mengangkatnya atau paling tidak mematikan nada deringnya. Benar-benar mengganggu romantisme fajar, langit, dan pagi. 

Aku bersyukur ketika melihat ia akhirnya mengambil ponsel yang tak juga berhenti berbunyi. Mungkin ia sama tak tahannya denganku.

“Ayudisa, kumohon kita perlu bertemu!” Lamat-lamat kudengar suara laki-laki dari dalam ponsel. Gadis cantik yang akhirnya kuketahui bernama Ayudisa itu hanya diam tanpa menjawab. Sesekali terdengar lenguhan berat

“Ayu, kita tak bisa berpisah tanpa penjelasan seperti ini! Kumohon, katakan di mana kamu berada? Aku akan segera ke sana,” ujar lelaki di seberang sana.

“Tak ada lagi yang harus dijelaskan. Semuanya sudah jelas. Mau dipaksa seperti apapun, kita tak mungkin dapat bersama. Dunia kita terlalu berbeda. Dan … ,” tiba-tiba Ayudisa sesengggukan. Ia tak lagi melanjutkan kata-kata yang ia ucapkan dengan sangat emosional sebelumnya.

“Aku tahu aku salah. Aku terlalu tunduk dan tak bisa memperjuangkanmu di hadapan keluargaku. Maaf!” lelaki di seberang sana berbicara nyaris berbisik.

Beberapa minggu yang lalu, berita di televisi juga heboh dengan romansa klasik semacam ini. Aku tak menyangka jika gadis yang menarik perhatianku sejak awal kadatangannya ternyata harus menanggung derita karena kisah cinta klasik macam ini.

Sekarang aku tahu mengapa Ayudisa tampak berbeda dengan tamu-tamu yang datang hari ini. Ia begitu spesial untukku. Terkadang, nasib tiba-tiba membuat ikatan tanpa kita sadari.

Sama sepertinya, aku juga sedang menyembuhkan luka. Mengamati beberapa orang yang datang lalu pergi adalah seperti obat penawar yang bisa sedikit mengurangi lara. Walaupun, pada akhirnya ketika tak ada seorang pun kamu akan melihat bahwa lukamu masih menganga.

Sebelum menjadi home stay bagi para tamu yang ingin menikmati fajar di Gunung Ungaran, rumah ini adalah rumah keluarga Didik Maryanto. Tak ada tangis dan amarah, hanya tawa dan saling goda. Pak Didik dan istrinya adalah potret keluarga idaman. Sampai pada suatu hari, kulihat Pak Dodik tergesa mengemasi pakaiannya ke dalam koperrsis seperti waktu Ayudisa datang tadi.

Semetara itu, di kamar Riana dan Riani istri Pak Dodik berlinang air mata. Sekarang, kamar itu berada dua kamar dari sini. Riana dan Riani masih lelap.  Mereka sangat cantik jika tertidur.

Sehari, seminggu, sebulan hingga berbulan-bulan lamanya Pak Dodik tak pernah kembali. Bahkan, istri Pak Dodik dan kedua putrinya pun akhirnya ikut pergi. 

Rumah ini tiba-tiba menjadi sangat sunyi.  Setiap hari aku menunggu, berharap jika mereka hanya berkunjung ke rumah kakek si kembar di Jogja atau sekadar menginap di hotel beberapa saat. Nyatanya, hingga saat ini, delapan tahun setelah mereka pergi mereka tak pernah kembali. Ada beberapa perpisahan yang sulit untuk dijelaskan. Ada beberapa perpisahan yang tak perlu kata berpisah. Sepertiku, Ayudisa hanya membutuhkan waktu.

Industri 4.0 Beri Peluang Perempuan Jalankan Peran Rumah Tangga danBerkarya

Sabtu, 23 Maret 2019
Sahabat           : Beb, sepertinya aku mau resign aja deh!

Saya                : Kenapa memang?

Sahabat           : Gajinya udah enggak cocok. Biaya ongkos pergi-pulang sama gaji udah enggak nutup. Kalau gini terus, bisa tekor.



Emh ... itu obrolan saya dengan sahabat di sebuah aplikasi pesan. Sahabat saya adalah pengajar lepas di salah satu bimbingan belajar konvensional. Dulu saya juga pernah mengajar di sini, tapi resign terlalu dini. Emh, pada masa kejayaannya, menjadi pengajar bimbingan belajar ini adalah salah satu prestasi. Selain karena seleksi masuknya ketat, honornya juga lumayan. Sekalipun jadi guru honorer di sekolah negeri, kebutuhan masih bisa ditutup dari honor ngajar di bimbel ini.



Sayangnya, tak ada yang abadi selain perubahan. Iya, kan? Begitu pula dengan kejayaan bimbingan belajar konvesional. Zaman selalu bergerak. Mau tidak mau, kita juga tidak boleh diam di tempat.



Beberapa orang begitu cerdas menangkap peluang perkembangan teknologi. Ketika semua hal dimudahkan oleh akses digital, beberapa pelaku bisnis bimbingan belajar membidik pasar baru dengan membuat bimbingan belajar online.



Kawan-kawan pasti tahu dong dengan start up Ruang Guru? Dengan kejeliannya melihat masalah sekaligus menawarkan ide, start up Indonesia ini berhasil meraih tiga penghargaan dalam kompetisi global MIT-SOLVE yang digelar di New York, Amerika Serikat. Ruang Guru mamfasilitasi orang-orang yang mempunyai kompetensi mengajar memiliki penghasilan tambahan dan memudahkan masyarakat mendapat pendidikan dengan cara yang sangat mudah.



Jadi, apa yang dapat kita pelajari dari kasus ini?



Di satu sisi, perkembangan teknologi memang membuat beberapa orang kehilangan pekerjaan; di sisi lainnya, perkembangan teknologi memunculkan pekerjaan baru.



        <h2>Menuju Revolusi Industri </h2>      
<figure>
<img width="768" height="1920" src="https://susanadevi.com/wp-content/uploads/2019/03/Revolusi-industri-768x1920.png" alt="" srcset="https://i2.wp.com/susanadevi.com/wp-content/uploads/2019/03/Revolusi-industri.png?resize=768%2C1920&amp;ssl=1 768w, https://i2.wp.com/susanadevi.com/wp-content/uploads/2019/03/Revolusi-industri.png?resize=120%2C300&amp;ssl=1 120w, https://i2.wp.com/susanadevi.com/wp-content/uploads/2019/03/Revolusi-industri.png?resize=410%2C1024&amp;ssl=1 410w, https://i2.wp.com/susanadevi.com/wp-content/uploads/2019/03/Revolusi-industri.png?w=800&amp;ssl=1 800w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /> <figcaption>Perjalanan Revolusi Industri</figcaption>
</figure>
<p style="text-align: justify;">Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dari waktu ke waktu. Dunia industri pun berusaha menyesuaikan. Pada 1750-an ditemukan mesin uap dan kereta api untuk menggantikan tenaga manusia dan hewan  menandai perubahan besar dalam industri yang akhirnya dikenal dengan revolusi industri 1.0.</p><p style="text-align: justify;">Kemudian, pada tahun 1870-an mulai ditemukan listrik dan motor pembakaran yang akhirnya memicu terciptanya alat komunikasi dan transportasi memunculkan revolusi industri 2.0. Pada tahun 1960-an ketika mulai ditemukan teknologi digital munculah revolusi 3.0. Muncul digitalisasi di berbagai bidang. Jarak dan waktu semakin tak memiliki batas. Satu per satu pekerjaan-pekerjaan yang semula dilakukan manusia diambil alih oleh mesin dan robot.</p><p style="text-align: justify;">Ternyata, perkembangan teknologi ini selain memberi manfaat juga menciptakan dampak besar. Banyak perusahaan besar yang tidak mampu bersaing menghadapi revolusi industry 3.0 terpaksa gulung tikar. Revolusi industry 3.0 menunjukan bahwa semua bisa bersaing dan mengambil peran dalam dunia industri. Keberhasilan pelaku industri tidak didasarkan pada besar kecil perusahaan, tetapi bagaimana kejelian dan kelincahan mengambil peluang.</p><p style="text-align: justify;">Dengan kemampuan beradaptasi atas disrupsi teknologi dan perpaduan teknologi fisik dan digital, masyarakat dihadapkan pada revolusi industry 4.0. Dengan kemampuan analitik, teknologi kognitif, kecerdasan buatan, dan internet of things (IoT), pelaku industri dihadapkan pada tantangan untung menghadirkan perusahaan digital yang  memberi efek langsung pada kehidupan nyata.</p><p style="text-align: justify;">Nah, pertanyaannya adalah</p><p style="text-align: justify;"><strong>Siapkah kita?</strong></p>
<h2>Potensi Perempuan Indonesia dalam Revolusi Industri 4.0</h2>
<p style="text-align: justify;">Kalau kita berbicara mengenai industry 4.0, maka kita tak bisa lepas dari membicarakan penggunaan internet.</p><p style="text-align: justify;">Berdasarkan laporan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (AJPII) 2017, 48,57% dari 132,7 juta jiwa pengguna internet di Indonesia adalah perempuan. Sementara itu dari sekian banyak pengguna internet, dua layanan terbanyak yang diakses adalah chatting dan sosial media yakni 89,35% dan 87,13%. Sementara itu yang pengguna yang mengakses internet untuk kegiatan ekonomi (jual produk) hanya 8,12%.</p><p style="text-align: justify;">Jadi, bagaimana menurut kawan-kawan?</p><p style="text-align: justify;">Kita mempunyai kekuatan besar dalam jumlah pengguna internet, sayangnya kebanyakan hanya digunakan untuk gaya hidup saja, tidak merambah pada industri kreatif. Padahal peluang itu sangat besar.</p><p style="text-align: justify;">Mau sampai kapan sih memanfaatkan internet hanya sekadar say hello dan chit-chat dengan aplikasi pesan? Enggak rugi saat yang lain dapat produktif hanya dengan memanfaatkan laptop/ smartphone yang tersambung internet, sedang kita hanya sibuk perang status di facebook? Kepo-kepon akun selegram dengan menggunakan tagar (#) tertentu. Ayolah, kita bisa lebih berdaya dari ini. </p>
<h2>Resign Menjadi Tonggak Awal Pemahaman Baru akan Peluang Tanpa Batas Industri 4.0</h2>
<p style="text-align: justify;">Beberapa tahun silam, ketika saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih di rumah, banyak sekali pro dan kontra. Eh, tidak! Lebih banyak kontra daripada yang pro,tepatnya</p><p style="text-align: justify;">Enggak sayang sama ijazah, Non? </p><p style="text-align: justify;">Enggak kasihan orang tua udah nyekolahin? </p><p style="text-align: justify;">Enggak mau bergantung sama orang tua? Dan masih banyak lagi.</p><p style="text-align: justify;">Dan kalau saat ini ditanya, nyesel enggak di rumah saja?</p><p style="text-align: justify;">Akan saya jawab dengan tegas (Caps Lock, Bold, Italic). J</p><p style="text-align: justify;"><strong><em>TIDAK!</em></strong></p><p style="text-align: justify;">Emh … saya bersyukur pernah berada di titik ini. Di titik ketika hanya berada di rumah untuk membersamai anak. Di sini saya menemukan banyak pelajaran berharga. Salah satunya adalah di era yang serba canggih ini, tidak ada batasan untuk produktif dan berkarya.</p><p style="text-align: justify;">Siapa bilang wanita hanya bisa berleha-leha di rumah? Siapa bilang wanita enggak bisa cari duit di rumah? Siapa bilang ilmu yang didapat sewaktu kuliah sia-sia kalau memilih di rumah?</p><p style="text-align: justify;"><strong>TIDAK … TIDAK … TIDAK! </strong>Sama sekali itu tidak benar.</p><p style="text-align: justify;">Ingat kan sama yang sampaikan di atas, bahwa di era industry 4.0 ini semua bisa bersaing dan berpeluang untuk sukses. Hanya kita mau atau tidak menangkap peluang.</p><p style="text-align: justify;"> </p>
<img width="768" height="768" src="https://susanadevi.com/wp-content/uploads/2019/03/SUSANADEVI.COM_-768x768.png" alt="" srcset="https://i0.wp.com/susanadevi.com/wp-content/uploads/2019/03/SUSANADEVI.COM_.png?resize=768%2C768&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/susanadevi.com/wp-content/uploads/2019/03/SUSANADEVI.COM_.png?resize=150%2C150&amp;ssl=1 150w, https://i0.wp.com/susanadevi.com/wp-content/uploads/2019/03/SUSANADEVI.COM_.png?resize=300%2C300&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/susanadevi.com/wp-content/uploads/2019/03/SUSANADEVI.COM_.png?resize=1024%2C1024&amp;ssl=1 1024w, https://i0.wp.com/susanadevi.com/wp-content/uploads/2019/03/SUSANADEVI.COM_.png?w=1080&amp;ssl=1 1080w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" />
<p style="text-align: justify;">Jika dulu perempuan tidak dapat berkembang karena keterbatasan ruang gerak—perempuan apabila sudah berumah tangga terlebih memiliki anak umunya memiliki ruang gerak yang tak sebebas laki-laki. Dengan datangnya industry 4.0 ini, hal tersebut tidak berlaku.</p><p style="text-align: justify;">Sekalipun menjadi ibu yang memilih bekerja di ranah domestik, perempuan dapat berkarya tanpa batas. Suami dan anak terurus, fulus masuk kantong terus.</p><p style="text-align: justify;">Perempuan yang bisa memasak, bisa membisniskan hasil masakannya melalui internet. Andai kerepotan memasak, resep masakan andalan pun dapat dibisniskan. Membuat buku resep masakan berupa buku cetak atau e-book bahkan membangun blog berisi resep masakan dapat memberi keuntungan. </p><p style="text-align: justify;">Salah satu perempuan yang dapat memanfaatkan industri 4.0 dengan kemampuannya di dapur adalah Cynthia Tenggara dengan <a href="https://www.berrykitchen.com/">berrykitchen</a>-nya.  Ia membuat <em>start up</em> di bidang katering makanan. </p><p style="text-align: justify;">Perempuan yang suka menjahit dapat memasarkan baju jahitannya melalui internet. Tinggal memilih media sosial atau membangun toko online sendiri. </p><p style="text-align: justify;">Perempuan yang suka berfoto ria dapat menjual jasa endorse atau buzzer produk. Hati senang, dompet mengembang. Ssst, udah tahu belun jika tarif endorse Ria Ricis konon mulai Rp5juta, lho. Industri 4,0 benar-benar memberi peluang tanpa batas sebenarnya.</p><p style="text-align: justify;">Intinya, kita harus tahu kekuatan yang dimiliki lalu belajar dan terus belajar agar kekuatan yang dimiliki bisa menjadi modal bersaing di industry 4.0 saat ini.</p>
<h2>Ngeblog: Salah Satu Cara Saya Mengambil Peran di Industri 4.0</h2>
<p style="text-align: justify;">Awalnya saya mencoba membuat blog karena saya merasa <em>useless. </em>Saya merasa kok hidup saya gini-gini saya ya. Ada saat ketika menjadi ibu penuh waktu, rutinitas yang monoton membuat jenuh.</p><p style="text-align: justify;">Beruntung saya bertemu orang-orang baik di komunitas Infinity Lovink dan Ibu Profesional. Di lingkup orang-orang yang memiliki energi positif, saya memilih menulis untuk menjadi berarti. Tujuan utama saya tadinya adalah membagi ilmu semasa kuliah yang <em>notabene </em>penting untuk teman-teman yang suka menulis di sekitar saya. Semakin ke sini, saya justru semakin tersadar ada banyak hal yang saya dapatkan.</p><p style="text-align: justify;">Jangan salah! Jangan menganggap bahwa ngeblog itu buang-buang waktu saja! Ngeblog bukan semata menyalurkan hobi nulis. Sebuah blog yang berhasil dibangun dengan baik akan mampu mendatangkan <em>income passive </em>yang tidak pernah diduga sebelumnya.</p><p style="text-align: justify;">Berikut ini mengapa seorang perempuan harus mulai membangun rumah virtualnya.</p><p style="text-align: justify;"><strong>1. Menjaga Kewarasan</strong></p><p style="text-align: justify;">Penting sekali untuk menjaga kewarasan. Wanita yang waras akan mengantarkan lelakinya menjadi lebih baik. Wanita yang waras akan membuat anaknya berhasil dan bahagia. Dan, salah satu cara menjadi waras adalah menulis di blog.</p><p style="text-align: justify;">Perempuan membutuhkan  20 ribu kata untuk dikeluarkan setiap harinya. Dengan kondisi suami berangkat kerja pagi dan pulang petang, anak masih balita maka solusi apa yang lebih baik daripada menulis untuk memenuhi kebutuhan 20 ribu kata tersebut? Jika ada, bisa kawan-kawan sampaikan di kolom komentar. </p><p style="text-align: justify;"><strong>2. Toko Online</strong></p><p style="text-align: justify;">Bagi perempuan yang memiliki produk baik berupa barang atau jasa, blog merupakan toko yang bisa diandalkan untuk memajang produk kita.


Tanpa saya sadari, tulisan-tulisan di blog ini mendatangkan rezeki bagi saya.

Beberapa orang yang tertarik untuk dibuatkan tulisan mengontak saya karena melihat isi blog ini.

Bukankah rezeki datang dari pintu mana saja, pun pintu yang tidak kita sadari sebelumnya?
Mendapat Penghasilan Tambahan

Dari membaca berbagai artikel mengenai monetasi blog, saya yakin bahwa blog bisa menghasilkan. Ada banyak cara yang dapat ditempuh untuk menghasilkan uang dari blog. Bisa iklan, menyangkan tulisan sponsor, dan ikut lomba.

Tulisan ini menjadi pemenang ke-5 lomba Qlapa dan mendapatkan emas batang 1 gram dan voucher belanja sebesar Rp100.00. Padahal ketika membuat tulisan ini, blog saya baru berusia 1 bulan. Sejak saat itu, saya yakin saya dapat melakukan banyak hal dengan blog yang saya buat.Saya beruntung bertemu dengan Qlapa. Sayangnya, start up yang menggandeng pengrajin lokal itu beberapa waktu yang lalu menyatakan epilog perpisahanannya.



4. Sarana Berbagi



Seperti yang saya sampaikan di atas, memilih menjadi ibu rumah tanggah penuh waktu bukan berarti menjadikan apa yang kita pelajari semasa kuliah jadi sia-sia. Salah satu cara saya berbagi ilmu adalah dengan menuliskannya di susanadevi.com.



Saya sendiri sadar bahwa apa yang saya miliki belumlah seberapa. Namun, sesedikit apapun ilmu yang dibagi saya yakin akan mem bawa manfaat. Semoga



        <h2>#BuildSuccesOnline dengan Blog Bersama Niagahoster</h2>     
<p style="text-align: justify;">Semua orang dapat membuat blog dengan mudah (katanya). Ada platform gratis, ada juga yang memerlukan biaya. Untuk membuat blog dengan biaya nol rupial, kawan-kawan dapat memanfaatkan blogspot.com atau wordpress.com.


Kalau saya termasuk yang nekat. Tidak tahu seluk beluk dunia ngeblog, saya langsung mencoba wordpress.org. Bukannya apa-apa, saya hanya berpikir jika saya mengeluarkan biaya makan akan usaha lebih yang akan dan harus saya lakukan.



Dan … benar saja. Sejak awal pembangunannya, saya harus berusaha cukup keras. Beruntung saja memilih Niagahoster sebagai penyedia layanan hostingnya. Saya memilih paket pelajar dengan harga Rp504.725. Saat itu sepertinya lagi ada promo. Mengapa saya menjatuhkan pilihan pada Niagahoster? Karena sewa hosting, gratis domain. Hiyyyaa, emak-emak banget ya.



Bermodal tekad dan sedikit nekad, saya memulai susanadevi.com dari titik nol. Saya bangun rumah virtual ini dengan bantuan google, youtube, artikel di Niagahoster, juga bantuan admin Niagahoster. Yups, saya beruntung costumer services Niagahoster benar-benar sabar dan telaten memandu emak-emak yang sok-sokan mau ngeblog ini.



Sejak 27 Juli 2018, pertama kali menyewa hosting di Niagahoster, hingga saat ini. Saya merasa puas dengan kinerja layanannya. Sebagai seorang yang awam dalam dunia blogging, saya belum pernah mengalami kendala yang berarti semenjak membangun wordpress dengan Niagahoster.



Oh iya, sebelum memutuskan membeli hosting di Niagahoster, saya sempat membaca ulasannya di sini. Barangkali teman-teman membutuhkannya. Saya jadi yakin jika Niagahoster adalah hosting terbaik



        <h2>Simpulan</h2>       
<p style="text-align: justify;">Zaman selalu berubah. Teknologi selalu berkembang. Mau tidak mau, kita harus menjadi kreatif dan mampu beradaptasi dengan baik.</p><p style="text-align: justify;">Perempuan seringkali dianggap makhluk yang lemah. Perempuan sering dianggap makhluk yang tak bebas. Dengan adanya industry 4.0 ini, perempuan dapat mulai bergerak. Membuktikan bahwa perempuan pun bisa bersaing dalam menghadapi industry 4.0</p>
<h2>Rujukan</h2>
<ol><li>Anonim. 2017. <em>Infografis Penetrasi dan Perilaku Pengguna Internet 2017. </em>Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia</li><li>https://www.maxmanroe.com/revolusi-industri-4-0.html#sudah_siapkah_menghadapi_revolusi_industri_40</li><li> https://id.beritasatu.com/home/revolusi-industri-40/145390</li><li> https://www.gotomalls.com/articles/selebgram-indonesia-dengan-bayaran-termahal-2018</li><li> https://blog.ruangguru.com/mewakili-indonesia-ruangguru-raih-3-penghargaan-di-mit-solve</li></ol>

Sinergi Pers dan GPR untuk Wujudkan Ekonomi Digital

Jumat, 01 Maret 2019

Hidup di era digital itu gurih-gurih sedap. Semua serba cepat dan mudah. Sedikit saja tertinggal, bakal terlindas. Bagaimana pun, perkembangan zaman tak bisa dingkari. Mau tak mau, kita sendiri yang harus menyesuaikan diri. Kenyataan semacam ini disadari betul oleh pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah tengah melakukan berbagai upaya menjadikan masyarakatnya siap menghadapi era digital.



Salah satu hal yang  menjadi program besar pemerintah adalah menyiapkan masyarakat siap bersaing dalam perekonomian digital. Mengapa ekonomi digital? Seperti yang saya katakan di awal, hidup di era serba digital menuntut kita melakukan digitalisasi di berbagai bidang, salah satunya ekonomi. Ekonomi yang kuat akan menjadikan masyarakat sejatera.



        <h2>Potensi Pasar Digital


di Indonesia

Jumlah penduduk Indonesia sangat tinggi, yakni lebih dari 40% dari total jumlah penduduk di ASEAN. Jumlah yang besar ini tentunya adalah target pasar yang sangat bagus. Masalahnya, apakah penduduk sebanyak ini dapat dimanfaatkan untuk berdaya di negaranya sendiri atau justru dimanfaatkan negara lain?



Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan bahwa pada tahun 2017 ada 143,26 juta jiwa dari 262 juta jiwa yang menggunakan internet. Itu artinya, lebih dari setengah jumalh penduduk di Indonesia sudah akrab dengan internet. Masih berdasarkan data yang sama, sebanyak 50,08% dari jumlah penduduk memilki smartphone atau tablet. Internet pun tidak hanya diakses oleh penduduk ekonomi atas. Hal itu terbukti dengan data penetrasi pengguna internet berdasarkan level ekonomi yang menunjukan bahwa internet diakses oleh 74,62 % masyarakat kelas ekonomi atas, 16,02% masyarakat ekonomi kelas menengah, 1,98% masyarakat ekonomi kelas bawah, dan  7,39% masyarakat ekonomi kelas sangat bawah.  Artinya, semua lapisan masyarakat sudah terjamah oleh teknologi ini.



Permasalahannya adalah untuk apakah mereka menggunakan internet ini? Ternyata, 89,35% mereka gunakan untuk chatting. Sementara itu, sebanyak 32,19% menggunakannya untuk membeli barang dan hanya 8,12% saja yang menggunakannya untuk menjual barang. Itu artinya, jumlah pengguna internet yang menggunakan internet untuk kegiatan produktif masih sangat kecil sekali bukan? Bahkan, jika berbicara pasar digital, masyarakat kita cenderung menjadi konsumen daripada produsen atau distributor. Oleh karena itu, pemerintah wajib mengedukasi masyarakat agar dapat menggunakan potensi yang sebenarnya dimiliki. 



        <h2>Perlunya Peran Pers untuk Mewujudkan Digitalisasi Ekonomi Kemasyarakatan</h2>       
<p style="text-align: justify;">Visi pemerintah menjadikan masayarakat berbasis ekonomi digital tidak main-main. Melalui  Paket Kebijakan Ekonomi XIV,  pemerintah menargetkan Indonesia sebagai negara ekonomi digital terbesar se-Asia Tenggara pada tahun 2020. Dengan segala potensi yang dimiliki sekaligus analisis hambatan yang ada, pemerintah sudah menyiapkan peta jalan Peta Jalan E-Commerce 2017-2019. Peta jalan ini digunakan sebagai acuan pemerintah membuat rencana dan program untuk mewujudkan target tersebut.</p><p style="text-align: justify;"> </p>
<figure>
<img width="768" height="960" src="https://susanadevi.com/wp-content/uploads/2019/03/1608_Agar-Konsumen-terlindungi-768x960.png" alt="" srcset="https://i2.wp.com/susanadevi.com/wp-content/uploads/2019/03/1608_Agar-Konsumen-terlindungi.png?resize=768%2C960&amp;ssl=1 768w, https://i2.wp.com/susanadevi.com/wp-content/uploads/2019/03/1608_Agar-Konsumen-terlindungi.png?resize=240%2C300&amp;ssl=1 240w, https://i2.wp.com/susanadevi.com/wp-content/uploads/2019/03/1608_Agar-Konsumen-terlindungi.png?resize=819%2C1024&amp;ssl=1 819w, https://i2.wp.com/susanadevi.com/wp-content/uploads/2019/03/1608_Agar-Konsumen-terlindungi.png?w=1080&amp;ssl=1 1080w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /> <figcaption>Sumber: Indonesiabaik.id</figcaption>
</figure>
<p style="text-align: justify;">Perkembangan ekonomi digital sebenarnya sudah masuk ke seluruh sendi  kehidupan kita. Bukan sekadar <em>e-commerce</em>, tetapi juga transportasi, pendidikan, komunikasi, kesehatan, dan sebagainya. Pemerintah pun membuat banyak program untuk menunjang Indonesia menuju ekonomi digital, seperti adanya program 1.000 Startup Digital, UMKM Go Online, Digital Talent Scholarship, Next Indonesia Unicorn (NextIcorn), serta program lain yang bertujuan mengangkat ekonomi kerakyatan memanfaatkan teknologi digital. Permasalahannya, apakah setiap lapisan masyakarat sudah menerima informasi mengenai program-program pemerintah ini sehingga dapat turut berpartisipasi? Apakah masyarakat sudah , menerima informasi dengan lengkap, tepat, dan akurat sehingga dapat menggunakan informasi dengan maksimal?Di sinilah peran pers dibutuhkan. Pers diharapkan mampu menjadi corong penyampai informasi program-program pemerintah kepada masyarakat.</p>
<h2>Government Public Relations (GPR) bersama Pers Mengawal Informasi Sampai Pada Masyarakat</h2>
<img width="410" height="1024" src="https://susanadevi.com/wp-content/uploads/2019/03/SusanaDevi.com_-410x1024.png" alt="" srcset="https://i0.wp.com/susanadevi.com/wp-content/uploads/2019/03/SusanaDevi.com_.png?resize=410%2C1024&amp;ssl=1 410w, https://i0.wp.com/susanadevi.com/wp-content/uploads/2019/03/SusanaDevi.com_.png?resize=120%2C300&amp;ssl=1 120w, https://i0.wp.com/susanadevi.com/wp-content/uploads/2019/03/SusanaDevi.com_.png?resize=768%2C1920&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/susanadevi.com/wp-content/uploads/2019/03/SusanaDevi.com_.png?w=800&amp;ssl=1 800w" sizes="(max-width: 410px) 100vw, 410px" />
<p style="text-align: justify;">Salah satu dampak dari era digital adalah cepatnya arus informasi. Informasi dapat disebar dan diakses oleh siapa saja, terlebih semenjak adanya media sosial.  Banyak sekali beredar informasi yang tidak tepat. Oleh karena itu, Pers harus menjadi bagian yang menangkal hoaks dengan memberikan pemberitaan yang tepat dan akurat. Pers harus dapat mengedukasi masyarakat tentang penyajian informasi yang lengkap, tajam, dan berimbang.  Jadi, sekalipun arus informasi dari media sosial sangat kuat, masyarakat dapat menjadikan penyajian informasi dari pers sebagai pembanding.</p><p style="text-align: justify;">Sementara itu, pemerintah sendiri harus punya alat untuk memastikan bahwa program-program yang dicangkan pemerintah dapat diketahui oleh masyarakat. Hal ini tentu bermanfaat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Oleh karena itu, dibentuklah Government Public Relation.</p><p style="text-align: justify;">Demi terwujudnya ekonomi masyarakat digital, pers dan GPR perlu bersatu dalam memberi informasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai ekonomi digital dan program-program yang sedang dicanangkan oleh pemerintah. Dalam menjalankan fungsi dan perannya, Pers dan GPR wajib bekerja sama dan saling menguatkan.  Semua lapisan masyarakat diharapkan dapat memperoleh informasi dan dapat teredukasi dengan baik.</p>
<h2>Penutup</h2>
<p style="text-align: justify;">Selain mempunyai potensi yang besar, Indonesia masih memiliki banyak kendala untuk mewujudkan masyarakat ekonomi digital. Hal yang paling utama sebenarnya dalah mengedukasi masyarakat agar menjadi pelaku ekonomi digital. Hal ini tidak bisa jika hanya dilakukan oleh pemerintah saja. Pemerintah dalam hal ini diwakili GPR bersama dengan Pers wajib menggandeng para pelaku media untuk menyebarkan informasi juga mengedukasi masyarakat.</p>
Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blografisiana GPR Summit 2019