Menyapa Tuhan

Senin, 24 Desember 2018
Tuhan yang Tersayang

Jika aku belum datang

Coba tengok aku di facebook

Barangkali aku sedang membuat status

"Alhamdulillah, sepertiga malam"

Tuhan yang Mahaagung

Jika aku belum berkunjung

Hampiri aku di instagram

Barangkali aku sedang membagikan story

"Akhirnya bisa menginjakan kaki di tanah-Mu"

Tuhan yang Penyayang

Jika aku tak jua bersambang

Intiplah barang sebentar di twitter

Barangkali aku sedang mencicit

"Alim itu boleh, sok JANGAN!"

Katamu Kau ada di mana-mana

Sekali waktu

bolehlah kita jumpa di media sosial

24 Oktober 2018

Meramu Sajak

Puisi adalah persetubuhan kata dan rasa

Kau akan mengerang nikmat

ATAU

terkekang


23 Oktober 2018

Egrang

Pada suatu sore


Bayu, cucuku yang lucu bertanya:


Kakek, egrang itu apa?


 


Aku seperti terlempar ke masa 60 tahun silam


Saat sore-sore seperti ini halaman rumah akan penuh sesak


Bocah-bocah berlarian bersuka-suka


Lepas bubar menjelang Magrib


 


Perempuan mengambil telekung


Laki mengambil sarung


Berebut lari sampai ke surau


 


Baru kuceritakan separuh, Bayu mulai jenuh


Mengambil handphone dari sakunya


"Oalah, ini to Egrang!"


Biadab


Benda kotak itu menghancurkan dongeng kakek pada cucunya


Juga riuh rusuh tawa kanak-kanak


 


22 Oktober 2018





Praktis

Zaman terlalu praktis


Tak perlu ngepot karena repot


Sekali sudah


Sudah sekali


 


Gelas, sekali pakai


Pakai sekali, lantas buang ke kali


 


Sarung tangan, sekali pakai


Pakai sekali, lantas buang ke kali


 


Jas hujan, sekali pakai


Pakai sekali, lantas buang ke kali


 


Popok, sekali pakai


Pakai sekali, lantas buang ke kali


 


Celana dalam, sekali pakai


Pakai sekali, lantas buang ke kali


 


Wanita, sekali pakai


Pakai sekali, lantas cari lagi


 


21 Oktober 2018





Diserang Kata

Penyair amatir lari tunggang langgang


tubuhnya bersimbah keringat


bibir pucat pasi


badan gemetar


 


Gigil ...


ribuan kata mengejar penuh amuk


bak angkara murka Denawa


 


Penyair amatir pontang-panting


seperti bejat yang dipaksa kawin pacarnya yang bunting


 


Ponselnya berdering


MIMPI!


 


Ia menatap kertas yang sudah bercampur iler dan keringatnya


kosong


melompong


serupa dompet dan perutnya


 


20 Oktober 2018





Berita Pagi Ini

Pada sepinya malam


Lelaki bertubuh payah mengais sumpah serapah di jalanan


Berebut kata dengan anjing yang sedari tadi mengusirnya dengan gonggongan


 


Lelaki bertubuh payah pulang ke rumah


Memintal dan menenunnya menjadi sehelai benang emas


Persembahan untuk pujaan hati


 


Di koran pagi tadi tampak foto lelaki dengan wajah tertutup topeng


Seorang gadis mati terjerat benang emas, katanya


 


19 Oktober 2018





Malam Pertama

Perjaka

Lepas per, jadi jaka

Perawan

Lepas per, jadi bunting!

18 Oktober 2018

Malas

Ibu menyuruhmu bangun,


TUNGGU!



Ayah menyuruhmu mandi,


TUNGGU!




Nenek menyuruhmu makan,


TUNGGU!




Kakek menyuruhmu pergi,


TUNGGU!




Pacar menyuruhmu kerja,


TUNGGU!




Malaikat menyuruhmu keluar,


TUNGGU!




Malaikat pulang,


Sekantong rezekimu dilempar ke bak sampah


Pemulung tua renta datang memungut





17 Oktober 2018

Bubar

Jhoni lelah bertugas

Tidurnya terusik suara dari toa di masjid samping rumahnya

Jhoni kesetanan

Mengambil senapan angin yang biasa ia gunakan berburu

Pengajian bubar

Pak Saleh khusyuk berdoa di sepertiga malam

Rumah Jhoni hingar bingar

Bau alkohol dan lonte tercium dari rumahnya

Ia tak punya senapan

Lalu, banjir bandang bertandang

Jhoni dan kawan-kawan seperti ditendang

Semua rata, juga rumah Pak Saleh

Pesta bubar

16 Oktober 2018

TOPENG

Bagaimana kulihat wajahmu?

Dalam tarimu engkau menggunakan topeng

Benarkah itu senyummu yang kulihat?

Di suatu sore menjelang senja lesap

Saat kududuk di taman kota menantimu

Kulihat badut sedang menghibur nak-kanak

Mereka tertawa

Tapi ...

Tak bisa kupastikan benarkah badut itu tertawa

Lagi-lagi aku jengkel

Ia mengenakan topeng sepertimu!

Saat jalanan laguh-lagah oleh jerit mesin dan klakson

Kulihat seorang paman menuntun seekor monyet yang lincah menari

Ada yang bertepuk tangan

Ada yang berdiam diri sembari melempar koin

Lalu ada seorang anak menyembul dari kaca jendela

Ia tertawa kegirangan

Paman itu menuntun monyetnya, menepi dari jalanan

Duduk berselonjor di bawah pohon kersen di samping bangku yang kududuki

Sial ... Aku tak dapat melihat apakah monyet itu bahagia atau merana

Ia memakai topeng, sama sepertimu!

Hingga subuh bertabuh kau tak juga datang

Aku masih menunggu

Kau dan topengmu

15 Oktober 2018

Penulisan “Di” Sesuai Kaidah Bahasa

Senin, 03 Desember 2018

Penulisan “Di” Sesuai Kaidah Bahasa


Hai, Kawan Suzan! Lama nih tak menyapa, semoga kalian selalu dalam limpahan berkah Tuhan yang Maha Penyayang. Maafkan saya yang hampir dua bulan tidak nongol. Mamak Mahajeng lagi (sok) sibuk ceritanya. Alhamdulillah, apa yang sedang diusahakan semakin menemukan jalan. Doakan yang terbaik, ya!


Kawan Suzan, Mamak Mahajeng senang sekali dengan perkembangan dunia menulis saat ini. Masyarakat sudah mulai melek literasi. Komunitas menulis menjamur di mana-mana. Kemunculan media-media online membuat kemauan menulis masyarakat mulai menggeliat. Sebuah kemajuan yang perlu diapresiasi. Semakin tinggi kemauan menulis, semakin tinggi kemauan membaca. Semakin tinggi budaya baca-tulis, semakin berdaya sumber daya manusia masyarakat kita. Begitu seharusnya, bukan?


Nah, kali ini saya ingin sekali berbagi sedikit mengenai kaidah penulisan “di”. Walaupun sederhana, ternyata masih banyak juga lho yang salah menerapkan penulisan “di” ini dalam tulisannya.


Dalam bahasa Indonesia, bentuk “di” memiliki dua fungsi: kata depan dan awalan. Walaupun bentuknya sama, kedua fungsi ini membedakan bagaimana penulisan “di” terhadap kata yang mengikutinya, dipisah atau dirangkai. Bagaimana perbedaannya? Saya akan mencoba menjabarkannya.


“Di” sebagai Kata Depan


Kata depan dalam istilah linguistik dikenal dengan preposisi. Menurut Kridalaksana, preposisi adalah kategori yang terletak di depan kategori lain (terutama nomina) sehingga membentuk frase eksosentris direktif. 


Jadi begini, intinya kata depan itu adalah bentuk kata yang berada di depan bentuk kata lain. Gabungan dua bentuk kata yang salah satunya kata depan membentuk frase eksosentris direktif. Pada umumnya frase ini berfungsi sebagai keterangan.


Kata depan mempunyai fungsi yang penting dalam sebuah kalimat. Kata depan membuat arti atau maksud dalam kalimat lebih jelas. Jika sebuah kalimat seharusnya menggunakan kata depan, kalimat itu akan kehilangan maknanya apabila kata depan itu dilesapkan.


Coba perhatikan kalimat ini.


Karena tak tahan lapar, akhirnya saya makan di warung.

Kata depan pada kalimat tersebut adalah “di”. Kehadiran “di” pada kalimat tersebut menjadi sangat penting karena “di” merujuk keterangan tempat untuk aktivitas (makan) yang dilakukan saya.  Bagaimana jika kata depan “di” dihilangkan? Maka bentuk kalimatnya akan menjadi seperti ini.


Karena tak tahan lapar, akhirnya saya makan warung.

Apabila kata depan “di” dihilangkan, maka kalimat yang dihasilkan tentu akan memiliki makna yang berbeda jauh dengan kalimat yang pertama, bukan?


Karena fungsinya sebagai kata, maka penulisan “di” harus berdiri sendiri alias dipisah dengan kata yang mengikutinya. Nah, sampai di sini jelas ya mengapa “di” sebagai kata depan tidak boleh dirangkai.


Baca juga : Penulisan Judul yang Benar

“Di” sebagai Awalan


Dalam bahasa Indonesia, ada beberapa jenis imbuhan (afiks). Imbuhan yang berada di awal dinamakan awalan (prefiks), imbuhan yang berada di tengah dinamakan sisipan (infiks), imbuhan yang berada di akhir dinamakan akhiran (sufiks), dan imbuhan yang terdiri atas gabungan imbuhan dinamakan imbuhan gabungan(konfiks).


Kata “di” sebagai awalan menandakan bahwa “di” adalah imbuhan yang berada di awal atau depan kata dasar. Fungsi awalan “di” adalah membentuk kata kerja (verba) pasif. Karena “di” sebagai awalan bukanlah kata, maka bentuk “di” tidak bisa berdiri sendiri. Keberadaannya harus melekat pada kata dasar. Oleh karena itu, penulisan “di” sebagai awalan harus dirangkai atau selalu terikat dengan kalimat dasar yang diimbuhinya.


Membedakan Penulisan “Di” sebagai Kata Depan dan Awalan


Sebenarnya tidaklah sulit membedakan kapan penulisan “di” harus dipisah atau dirangkai jika kita memahami fungsinya. Jadi, begini.



  1. Jika “di” diikuti kata yang bermakna atau merujuk pada tempat, maka penulisannya harus dipisah. Kenapa? Karena “di” di sini berfungsi sebagai kata depan. Layaknya sebuah kata, bentuk “di” sebagai kata depan juga harus diperlakukan seperti kata, berdiri sendiri atau tidak melekat pada bentuk lain. Oleh karena itu, bentuk penulisan “di” harus dipisah dengan kata yang mengikutinya.


Contoh:


Di rumah


Di sekolah


Di meja


Di tas merah


Di genggaman tanganku


Ada dua cara mudah untuk mengetahui “di” sebagai kata depan. (1) Kata depan “di” mempunyai pasangan “ke” dan atau “dari”. Misal, selain di rumah ada juga bentuk ke rumah dan dari rumah. (2) Kata depan “di” tidak dapat dilawankan dengan bentuk “meng-”. Nah, mudahnya: ada bentuk di atas, tetapi tidak ada bentuk mengatas. Tidak sulit, bukan?



2. Jika “di” diikuti kata yang bermakna atau merujuk pada waktu maka penulisannya juga harus dipisah. Kenapa? Karena bentuk “di” di sini juga berfungsi sebagai kata depan.


Contoh:


Di pagi hari


Di senja itu


Di penguhujung malam


Namun, sekadar catatan. Penggunaan kata depan “di” yang menyatakan atau menandai waktu hanya bisa digunakan dalam ragam tidak resmi atau cakapan saja. Dalam ragam ilmiah, sebaiknya gunakan “pada” untuk menyatakan waktu. Hal ini dikarenakan bentuk “di” tidak memiliki peran semantik untuk menyatakan waktu.  Silakan deh cek peran semantik preposisi di buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia halaman 295!


Lalu, mengapa bentuk “di” umum sekali digunakan untuk menyatakan waktu? Bahasa tidak dapat berdiri sendiri. Keberadaannya memperngaruhi dan dipengaruhi bahasa lain. Begitu pula dengan bentuk “di” ini. Bentuk “di” digunakan untuk menerjemahkan at, in, dan on dalam bahasa Inggris yang selain menandai tempat juga menandai waktu.



3. Di atas sudah dijelaskan bahwa dalam bahasan Indonesia, bentuk “di” selain berfungsi sebagai kata depan juga berfungsi sebagai awalan. Bentuk “di” sebagai awalan berfungsi memasifkan verba transitif (kata kerja yang membutuhkan objek). Ciri awalan “di-” ini adalah dapat dilawankan dengan bentuk “meng-”. Misal: selain bentuk dibaca, ada bentuk membaca; selain ada bentuk diukur, ada bentuk mengukur, selain ada bentuk dibina, ada bentuk


Karena bentuk “di” sebagai awalan berfungsi memasifkan verba transitif, maka bentuk “di” ini harus diikuti oleh kata kerja. Penulisan “di” sebagai awalan tidak boleh dipisah, harus dirangkai dengan kata dasar yang mengikutinya.


Contoh:


Dibawa


Dimakan


Dibuang


Disimpan


Diletakkan


Agar lebih mudah dalam memahami, perhatikan gambar berikut!


Penulisan


Nah, bagaimana Kawan Suzan? Sudah dapat membedakan bagaimana penulisan “di”, bukan? Kawan Suzan pasti sudah tidak bingung lagi, kapan harus memisah atau merangkai penulisan “di”.


Semoga tulisan ini bermanfaat. Mari cintai bahasa kita dengan belajar dan mengakrabi bahasa Indonesia!