Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Prinsip yang Harus Dipegang Blogger

prinsip yang harus dipegang blogger

Prinsip yang Harus Dipegang Blogger. Beberapa hari ini entah awalnya dari mana, eh saya mengikuti kasus dr. Richard Lee. Saya sih tidak akan membahas kasus beliau dengan salah seorang artis hingga berujung dr. Richard Lee dituntut. Saya hanya ingin mengajak Kawan Suzan melihat pelajaran apa yang bisa diambil dari kasus ini.

Sebagai seorang blogger, saya paham bahwa ada orang-orang yang terpengaruh dengan apa yang saya tulis. Sejak menyadari hal itu, saya berpikir bahwa saya tidak bisa seenaknya sendiri menulis apapun yang saya pikirkan. Saya mulai berpikir, ketika sebuah tulisan akhirnya saya publikasikan, apakah akan ada dampak negatif yang muncul? Saya tidak mau dong jika pada akhirnya akan ada orang yang melakukan sebuah kesalahan karena tulisan saya.

Prinsip yang Harus Dipegang Blogger

Sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa blogger bisa dibayar untuk tulisannya. Namun, blogger harus mempunyai prinsip-prinsip agar apa yang ia suguhkan pada pembacanya adalah tulisan yang tidak menyesatkan.

1. Menolak Tulisan dengan Tema Tertentu

Kawan Suzan pasti sepakat bahwa tidak semua tulisan baik untuk disuguhkan? Ada beberapa tulisan yang menurut saya memang seharusnya tidak ditulis karena menyesatkan atau paling enggak menimbulkan kerugian bagi orang lain. Saya pribadi menolak menulis tulisan-tulisan dengan tema tertentu.

Kepada orang yang  mengajak kerja sama dengan susanadevi.com, saya selalu menanyakan tema yang diangkat? Jika tema itu tidak sesuai dengan prinsip saya, maka saya akan melepaskannya, sekalipun harga yang ditawarkan tinggi. Mengapa? Karena saya tidak ingin menjadi perantara orang melakukan "kesalahan" karena tulisan yang saya tulis.

2. Menulis dengan Riset

Nah, ini. Mengapa sebuah blog tidak bisa digunakan sebagai referensi dalam sebuah karya ilmiah? Karena kebenaran tulisan di blog masih diragukan kebenarannya. Seperti Kawan Suzan tahu, semua orang bisa menulis di blog. Tidak pandang usia dan latar belakang. 

Oleh karena itu, kita juga tidak bisa asal menulis sesuatu. Minimal pelajari dulu dari sumber-sumber tepercaya. Untuk tulisan-tulisan yang agak berat, Kawan Suzan bisa meluangkan waktu membaca jurnal penelitian. Toh, sekarang akses untuk itu sangat mudah. 

3. Tidak Overklaim Terhadap Sesuatu

Reviu menjadi jalan empuk untuk menebalkan isi dompet seorang blogger. Namun, sebagai blogger kita harus paham bahwa apa yang kita tulis mungkin memengaruhi pembaca untuk ikut mencoba atau tidak produk yang kita reviu. 

Oleh karena itu, kita harus jujur memberikan penilaian. Jangan karena sungkan terhadap brand yang sudah membayar, akhirnya kita membuat tulisan yang hanya membeberkan kelebihan produk tersebut. Nah, yang harus diingat sih: jangan menuliskan sesuatu yang "overklaim" terhadap sebuah produk. 

Saya secara pribadi sih kalau membaca tulisan yang "overklaim" justru otak saya langsung memberi alarm: hati-hati! 

Minumlah minuman ini, berat badan Anda akan turun 10 kg dalam seminggu!

Bullshit!

4. Jangan Menulis Ketika Emosi

Ada kalanya seseorang merasa lancar menulis sesuatu ketika ia sedang emosi! Eits! Hati-hati. Endapkan terlebih dahulu.

Berkaca dari kasus dr. Richard, saya sangat menyayangkan kenapa akhirnya dokter tersebut terpancing emosi. Apa yang ia lakukan sungguh mulia. Mengedukasi wanita Indonesia mengenai penggunaan krim-krim berbahaya itu tidak mudah, belum lagi, yang ia hadapi bukan produsen-produsen tingkat umkm. Sayangnya, ketika ia emosi, ada beberapa hal yang justru merepotkan dirinya sendiri.

Nah, ini juga yang mesti kita pahami sebagai blogger. Kadang nih ya, mentang-mentang kita bisa menulis apapun di media sendiri, kita mudah saja melayangkan kritik terhadap sesuatu? Apakah tidak boleh melayangkan kritik? Boleh kok, boleh banget! 

Namun, jika kita menulisnya ketika emosi kita sedang tidak stabil, dikhawatirkan adalah cara penyampaiannya tidak tepat. Ingat! Kita memiliki pembaca yang tanpa kita sadari mungkin "mengikuti" kita. Jangan sampai argumen yang kita berikan menggiring opini publik ke arah yang tidak baik.

5. Segala yang Kautulis Butuh Pertanggungjawaban

Saya membuat tulisan ini kan sebagai sarana cerita dan curhat. Bebas dong! Bebas sih bebas. Namun, apakah ada kebebasan mutlak yang kita miliki? Bahkan hak asasi saja tidak boleh melanggar hak asasi orang lain. 

Kamu boleh saja berpendapat, kamu boleh saja teriak, asal apa yang kau sampaiakan tidak merugikan orang lain. Apalagi sekarang, ada UU ITE yang mungkin bisa saja menjeratmu jika kamu sembarangan.

Lebih dari itu, pertanggungjawabanmu kelak di akhirat. Jangan sampai tulisanmu menjerumuskan orang lain pada sebuah kesalahan. 

Penutup

Ah, jika terlalu idealis, nanti susah loh dapat job? Ah, kata siapa? Tuhan sudah menakar rezeki dan tentunya tidak akan tertukar. Lagipula, rezeki dari blog juga macam-macam kran-nya. Insya Allah mah selama kita berusaha melakukan hal baik, maka Tuhan juga memberi yang baik. Bukan begitu?

Salam,
susana devi


Susana Devi Anggasari
Susana Devi Anggasari Hai, saya Susana Devi. Mamak dari Duo Mahajeng, Mahajeng Kirana dan Mahajeng Kanaya. Saya ibu rumah tangga yang nyambi jadi PNS. Untuk menjalin kerja sama, silakan hubungi saya.

Berlangganan via Email