Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Athirah: Simbol Kemenangan Wanita dalam Budaya Patriarki

Judul Film Athirah
Sutradara  Riri Riza
Produser  Mira Lesmana 
Rilis 29 September 2016
PemainCut Mini, Christoffer Nelwan, Arman Dewarti, Jajang C. Noer, Nino Prabowo, Indah Permatasari, Tika Bravani, Andreuw Parinussa


review film Athirah

Karena mengalah tak selalu berarti kalah!

Begitu agaknya pesan yang ingin disampaikan Athirah untuk para wanita yang dikhianati oleh pasangannya. Isu yang cukup sentimentil. Sebagai wanita yang lahir di negara dengan aroma patriarki yang sangat kuat, isu poligami bukanlah sesuatu yang asing. Wanita adalah sosok yang tak berdaya. Tak peduli zaman! 

Namun, Cut Mini dalam sosok Athirah menunjukan bagaimana kekuatan wanita yang sesungguhnya. Ia mampu bangkit bahkan hidup lebih baik setelah ditimpa kemalangan rumah tangga. Mengetahui suaminya menikahi wanita lain tanpa seizinnya, ia tak lantas meninggalkannya. Ia tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri sekalipun harus berjuang menyembuhkan luka seorang diri. Athirah tetap berdiri kokoh untuk anak-anaknya. Ketika sang Suami di ujung tanduk, alih-alih menyoraki dan bersuka cita, ia justru menjadi juru selamat. Athirah menjadi pemenang tanpa melakukan perlawanan.

Tak banyak dialog dalam film arahan Riri Riza ini. Namun, meski miskin dialog, pengambilan gambar di bawah arahan Yadhi Sugandhi mampu membantu Riri Riza menyampaikan cerita lebih mendalam. Bahasa gambar yang disajikan mampu berkisah lebih dari bahasa verbal yang ada, terutama penonjolan mimik para pemerannya melalui medium to close up shots. Tone penyajian gambar yang berwarna abu kebiruan menimbulkan kesan syahdu sekaligus sendu yang memperjelas suasana pergulatan batin yang dirasakan Athirah.

Sekalipun tak ada suara jerit tangis juga gaduh kemarahan, penonton pasti ikut merasakan bagaimana kepedihan yang dialami Athirah. Film ini mampu mengaduk emosi walau tanpa dialog yang berarti. Ekspresi dan gerak tubuh para tokoh membuat sebuah cerita tak perlu diceritakan dengan banyak kata. 

Tak dipungkiri, Cut Mini memang menjadi daya tarik yang membuat saya akhirnya memilih film ini untuk ditonton. Bagi saya, Cut Mini selalu berhasil menyihir penontonnya dengan aktingnya yang ciamik.  Ditambah, akting Christoffer Nelwan yang tak kalah apik. 

ulasan film Athirah

Penataan setting pun perlu diacungi jempol. Tidak mudah menghadirkan setting masa lalu di sebuah film. Penataan interior, furnitur, kendaraan, busana, dan properti lainnya dipilih dengan cermat dan detail. Kebudayaan Makasar dieksplorasi dengan apik. Lagu-lagu Bugis dan pesta tradisional menjadi penanda setting. Kebiasaan makan bersama dengan berbagai olahan khas serta kepiawaian para tokoh mengucapkan diolog dalam dialek Bone juga mempertegasnya. Sebagai orang awam, saya rasa gambar yang disajikan sudah cukup memberi aroma Bone-Makasar tahun 1960-an.

Jujur, mengetahui bahwa sebagian cerita ini diambil dari kisah nyata seorang tokoh membuat saya agak sangsi dengan film ini. Film semacam ini biasanya memberi bumbu “dewa” pada tokoh yang diangkat. Namun, saya salah. Tidak ada pendewaan berlebihan atas tokoh di film ini. Kita hanya disuguhkan cerita untuk kemudian menilainya dengan kacamata masing-masing. Tak ada doktrin yang berusaha dimasukkan, dan saya suka! 

Sepanjang cerita kita hanya diberi pertunjukan bagaimana sosok Athirah menghadapi kemelut rumah tangganya. Sama seperti kebanyakan orang, tokoh Puang Haji, Athirah, dan Ucu memiliki sisi hitam dan putih. Puang Haji yang mudah tergoda wanita, Athirah yang sempat pergi ke dukun, Ucun yang mempunyai kemarahan terhadap ibunya yang pasrah dengan keadaan. 

Saya hanya menyayangkan bagian ending yang tidak cukup nendang. Pertemuan Ucu dan Idah di sebuah bank sangatlah merusak pesan yang sudah berusaha dibangun sejak awal. Saya paham bahwa romansa menjadi daya tarik komersil sebuah film. Namun, untuk film ini, bisa saya bilang: SIA-SIA!

Apakah film ini layak ditonton? Jika kamu suka cerita artistik yang sarat makna, maka luangkan waktu! Sebaliknya, jika kamu suka melodrama yang menghibur, jangan buang waktu!


Salam, 

Susana Devi


Susana Devi Anggasari
Susana Devi Anggasari Hai, saya Susana Devi. Mamak dari Duo Mahajeng, Mahajeng Kirana dan Mahajeng Kanaya. Saya ibu rumah tangga yang nyambi jadi PNS. Untuk menjalin kerja sama, silakan hubungi saya.

Posting Komentar untuk "Athirah: Simbol Kemenangan Wanita dalam Budaya Patriarki"

Berlangganan via Email