Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Suami, Bantulah Pekerjaan Istrimu!

pekerjaan-rumah-tangga

Persoalan klise dalam rumah tangga adalah soal pembagian kerja suami-istri di dalam rumah. Benarkah pekerjaan suami hanya mencari nafkah dan pekerjaan istri mengurus segalanya di rumah? Bukankah ini tak adil? 

Di awal menikah, saya sering ditegur Ibu ketika mendapati anak menantunya membuatkan minum untuk saya. Lah, apa yang salah? Justru bukannya Ibu harusnya senang karena anaknya dicintai setengah mati oleh suaminya?😅

Pernah dulu, suami saya ditegur salah satu keluarganya perkara ia membantu saya menjemur baju. Dengan sigapnya ia mengomel dan mengambil alih pekerjaan tersebut. Ia pun menanyakan keberadaan saya padahal jelas dari suara keributan di dapur harusnya ia tahu bahwa saya sedang memasak.😆

Di awal menikah, hal tersbut bisa saja menjadi pemicu pertengkaran. Suami saya memang ringan tangan soal membatu pekerjaan rumah. Apapun pekerjaannya, ia tak ambil pusing. Namun, kadang ocehan-ocehan orang luar bikin kuping panas. Kenapa panas? Masalahnya Pak Tadjie cuma diem bae ketika istrinya dianggap tidak becus mengurus rumah. Secara, eike kan pengen dibela. 😁

Untung saja hal begitu tak berlangsung lama. Saya ingat betul, sejak ia sering ikut kajian, ada yang berbeda. Waktu itu Pak Tadjie menawarkan diri mengepel teras. Padahal dulu ia anti mengerjakan pekerjaan rumah yang bisa ditonton khalayak umum. Bisa jadi sebenarnya dia melindungi saya dari cercaan mulut-mulut iblis tetangga.

Saya tanya padanya, "enggak malu?"

"Ngapain malu? rumah-rumah kita, yang ngerawat juga berdua lah!" Wuidih denger jawaban doi otomatis hati saya lumer seperti es krim yang kena panas.

Sejak saat itu, pekerjaan rumah menjadi tanggung jawab berdua. Mau beresin kamar, mau ngurus anak, mau masak, mau njemur. Intinya mah, siapa yang senggang boleh melakukan pekerjaan tersebut.

Suami Bantulah Pekerjaan Rumah (Istrimu)

Budaya patriaki yang sangat kental di masyarakat menjadikan pekerjaan rumah melekat pada istri. Nyatanya, tak ada aturan yang menyatakan hal tersebut. 

Jika Rumah adalah Milik Bersama, Pekerjaan Rumah pun Milik Bersama

Setelah  berumah tangga, tempat yang ditinggali menjadi rumah bersama. Kalau sudah sama-sama menyadari bahwa baik suami atau istri sama-sama tinggal di situ, ya otomatis tanggung jawab membersihkan dan merapikan rumah adalah tanggung jawab bersama.

Pekerjaan Rumah Tak Ada Habisnya

Pekerjaan rumah itu tidak seperti pekerjaan kantor, sekali dikerjakan selesai, lalu bisa membuat laporan. Pagi hari sudah masak, nanti menjelang sore harus masak lagi. Tadi lantai sudah dipel, eh anak tiba-tiba numpahin susu. Begitu saja terus sampai malam tiba.

Biasanya hal begini disadari para suami ketika seharian bersama istri di rumah.

Ealah, Bune. Ternyata gawean omah ki nggak ana rampunge!

Ya iyalah, Pakne. Makane bantuin!

Istri Bukan Pembantu

Saya tuh paling gedek sama suami yang sama sekali tidak mau membantu pekerjaan rumah istrinya. Beneran! Sebel saya.

Emang situ ngegaji istri berapa? Paling juga ngasih uang bulanan yang mepet buat memenuhi kebutuhan rumah juga kan? Bayangin, kalau ngegaji ART, berapa uang yang harus kalian bayar untuk sebulan? Kalau cuma nyari perempuan yang bisa ngerjain semua pekerjaan rumah, ya jangan nyari istri. Nyari pembantu saja!

Penutup

Memutuskan untuk berumah tangga adalah menyadari bahwa segala yang dilakukan adalah untuk kebaikan keluarga. Rumah adalah tempat bernaung bersama, maka pekerjaan rumahnya juga milik sama-sama, tak bisa menjadi milik salah satu. 

Salam,


Susana Devi Anggasari
Susana Devi Anggasari Hai, saya Susana Devi. Mamak dari Duo Mahajeng, Mahajeng Kirana dan Mahajeng Kanaya. Saya ibu rumah tangga yang nyambi jadi PNS. Untuk menjalin kerja sama, silakan hubungi saya.

Berlangganan via Email