Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Masyarakat dan Penggiringan Opini

masyarakat-dan-penggiringan-opini

Massa adalah kekuatan. Kumpulan banyak orang adalah daya. Jika Kawan Suzan mau memimpin, pegang kepala mereka. Sekali mereka memberi kepala mereka, sekali tekan maka “Booom!”.

Penggiringan Opini dalam Film Tilik dan Cream

Agaknya realitas ini menjadi kegelisahan bagi sebagian orang. Isu penggiringan opini selalu menjadi ide yang menarik untuk dieksploitasi. Sineas Wahyu Wibowo dengan film Tilik misalnya, berhasil menjadikan Bu Tejo bulan-bulanan masyarakat Indonesia karena kemampuannya menggiring opini publik. Dari sudut yang lain, David Firth menunjukan bagaimana mudahnya media menyetir masyarakat. 

film-tilik-dan-cream

1. Film Tilik

Saya pernah membuat ulasan tentang film Tilik. Film berdurasi kurang lebih setengah jam ini menjadi viral karena “gue banget” bagi masyarakat kita. Realitas masyarakat, terutama Indonesia, yang akan menjadi sangat sepi-sunyi tanpa acara gibah-menggibah. Tak heran bahwa industri pergosipan menjadi industri yang sangat prospektif bagi sebagian kalangan.

Bu Tejo bak penggembala yang mahir menggiring gembalaannya dengan mudah masuk ke kandang. Tak sulit menggiring opini. Selama (seolah) ada data valid, ditambah bumbu penyedap plus sedikit kipas dari beberapa orang, maka apapun yang dilempar ke publik akan mudah diterima. Urusan benar atau tidak adalah hal yang belakangan bisa diperdebatkan.

2. Film Cream

Dr. Jack Bellifer, peneliti yang berhasil menciptakan penemuan luar biasa hancur dalam sekejap karena penggiringan opini yang dilakukan media. Ia menemukan “Cream” yang bisa menjadi solusi untuk semua masalah. Wajah jelek bisa menjadi cantik, kaki patah sembuh seketika, tua bisa menjadi muda, bahkan mobil usang pun bisa menjadi mobil terkini. Sekalipun nampaknya “Cream” menjadi solusi yang dibutuhkan masyarakat, tapi tentu saja ada pihak yang dirugikan. 

Apa jadinya jika semua masalah bisa diatasi? Apa jadinya jika semua kebutuhan bisa dijawab dengan “Cream”? Orang tak lagi butuh uang. Orang tak lagi butuh apa-apa. Semua ia bisa dipenuhi. Lantas siapa yang mau jadi penguasa? 

Hal inilah yang akhirnya menjadi titik masalah. Ada beberapa orang yang merasa ia harus memiliki kekuasaan. Jika ada sedikit saja yang berusaha mengancam kursinya, maka ia patut disingkirkan. 

Dengan sedikit bumbu racikan media, tidak sulit untuk menggulingkan Dr. Jack Bellifer. Dr. Jack lenyap dan "Cream" tetap ada.

Hati-Hati Menggiring Opini Publik

Beberapa tahu lalu saya adalah aktivis media sosial—orang yang aktif di media sosial. Sadar betul dengan kekuatan tulisan, saya lebih berhati-hati dengan apa yang saya ungkapkan. Hal ini bermula ketika saya dulu pernah mencoba jadi buzzer abal-abal. Hoho maafkan jika saya menyebutnya begitu.

Singkat cerita, saya menjadi tim sukses untuk mengiklankan suatu barang. Walhasil, salah satu sahabat dekat saya menanyakan produk tersebut. Tak yakin dengan khasiat produk tersebut, saya pun mengatakan bahwa saya sendiri belum tahu kebenarannya. Saya berpikir, lah untung ini sahabat saya. Dia bisa kroscek dengan saya. Orang lain di luar sana bisa saja terpengaruh dengan apa yang saya tulis. Sejak saat itu, saya tak mau lagi mengiklankan sesuatu yang belum saya coba dan saya tahu pasti. Berapapun bayarannya. Penting sekali memegang prinsip ini!

Saya hanya berpikir bahwa apa yang saya tulis suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban. Maka, bukan hanya tulisan di blog ini yang dipikir matang, bahkan mau nulis status di media sosial saja biasanya tulis-hapus-tulis-hapus hingga akhirnya enggak jadi diposting.

Intinya adalah ketika kita menulis sesuatu, maka kita harus paham dengan konsekuensi tulisan kita. Jangan sampai, tulisan kita menyesatkan pembaca. Saat ini buzzer dan influencer menjadi profesi yang menjanjikan. Jika suatu saat Kawan Suzan menjadi salah satunya—atau saat ini sudah menjadi, saya hanya berpesan jadilah buzzer dan influencer yang mempunyai prinsip. Pelajari dulu informasi dan isu yang diangkat. Masyarakat kita belumlah cerdas untuk memilah dan memilih informasi.

Salam,

susana-devi


Susana Devi Anggasari
Susana Devi Anggasari Hai, saya Susana Devi. Mamak dari Duo Mahajeng, Mahajeng Kirana dan Mahajeng Kanaya. Saya ibu rumah tangga yang nyambi jadi PNS. Untuk menjalin kerja sama, silakan hubungi saya.

Posting Komentar untuk "Masyarakat dan Penggiringan Opini"

Berlangganan via Email