Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Literasi Digital dan Adaptasi Kebiasaan Baru

literasi-digital-di-masa-pandemi

Literasi Digital dan Adaptasi Kebiasaan Baru-Sejak 8 Juni 2020. Indonesia mulai menerapkan new normal. New Normal dipilih sebagai upaya menghadapi pandemi Covid-19 sekaligus upaya menekan keterpurukan ekonomi. Namun, sepertinya Pemerintah kurang tepat memberi istilah. Masyarakat kita yang memiliki kemampuan berliterasi yang pas-pasan agaknya kurang bisa memahami bagaimana seharusnya menanggapi new normal. Masyarakat lupa bahwa istilah new normal tidak sama dengan back to normal. 

Adaptasi Kebiasaan Baru

Menyadari kekeliruan pemilihan diksi new normal, akhirnya mulai digaungkanlah istilah baru, "adaptasi kebiasaan baru". Adaptasi kebiasaan baru adalah penyesuaian perilaku dalam semua lini kehidupan selama masa pandemi Corona ini. Adaptasi kebiasaan baru bukan sekadar boleh melakukan kegiatan seperti masa normal dengan tetap memenuhi protokol kesehatan. Lebih dari itu, adaptasi kebiasaan baru ini diharapkan penyesuaian-penyesuaian perilaku masyarakat selama masa pandemi

Sekali lagi, sayang sungguh sayang, agaknya pengubahan diksi ini tidak mengubah cara masyarakat menghadapi Covid-19. Kebanyakan masyarakat menganggap dengan adanya new normal atau adaptasi kebiasaan baru ini bahaya Covid bisa diabaikan. Mereka bebas berkerumun dan melakukan berbagai hal di rumah, yang penting memakai masker. Bahkan beberapa masyarakat malah lebih parah, mereka abai dengan penggunaan masker.

Rendahnya Literasi Jadikan Pembenaran: Covid Hasil Konspirasi

Pernah suatu malam Pak Taji bercerita bahwa Kirana, si sulung, mengaku padanya malu untuk menggunakan masker di luar rumah. Konon, ia diejek teman-temannya karena menjadi satu-satunya anak yang memakai masker.

Pernah juga, Mbak Yuli, orang yang sesekali membantu saya di rumah mengaku bingung. Hampir setiap Mbak Yuli ke rumah saya mencekokinya dengan nasihat-nasihat bagaimana menghadapi Covid. "Jangan lupa masker, Mbak!" begitu saya mengingatkan. Ia lalu menceritakan kegelisahannya. "Saya sungkan Bu memakai masker. Jare kemayu (katanya ganjen)", begitu katanya. 

"Ngapain pakai masker? Covid itu hanya konspirasi. Itu, Pak Untung, sakitnya diabetes, pas meninggal ditulis Covid" 

"Sudah ngapain takut Covid? Kalau jatah umurnya habis ya habis. Mau ada Covid mau enggak, semua juga bakal mati!"

Perkataan-perkataan itu sering saya dengar. Saya tinggal di sebuah desa. Memahamkan masyarakat mengenai bahaya Covid adalah tantangan tersendiri. Bukan karena mereka tidak bisa baca tulis, bukan. Namun, mereka hanya bisa membaca tanpa bisa memahami. Dan saya rasa, di daerah-daerah lain dengan kondisi masyarakat yang setipe, mereka juga berpikir sama.

Belum lagi, banyak juga tokoh publik yang membuat konten yang bukannya mendidik justru mengangkat isu konspirasi. Tentu saja, untuk kualitas literasi masyarakat yang seperti sekarang, apa yang mereka lakukan patut disayangkan.

Bagaimana Seharusnya Literasi Menjadi Penyelamat Adaptasi Kebiasaan Baru?

Literasi bukan sekadar perkara baca tulis. Literasi adalah kemampuan seseorang mengolah informasi untuk kehidupannya. Kemampuan literasi yang baik akan menjadi bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. 

Perkembangan dunia digital saat ini merupakan kemajuan luar biasa yang juga patut diwaspadai. Arus informasi yang tak terbendung harus diimbangi dengan kemampuan literasi yang baik. Jika tidak, tentunya hoaks akan lebih mudah meraja lela. 

Dilansir dari data Internet World Stats, Indonesia menempati urutan ketiga di Asia sebagai pengguna internet terbanyak setelah Tiongkok dan India. Penetrasi internet di Indonesia mencapai 143,26 juta jiwa atau 53% dari jumlah populasi yang ada. Dari data tersebut, artinya lebih dari setengah jumlah populasi di Indonesia sudah melek internet. Namun, apakah dengan tingginya pemanfaatan internet ini sudah menunjukan bahwa literasi digital masyatakat kita sudah baik?

Nyatanya dunia digital di Indonesia masih dipenuhi dengan penyebaran konten negatif dan ujaran kebencian. Praktik perundungan dan penipuan melalui media digital terjadi di mana-mana. Hal ini menunjukan bahwa kemampuan masyarakat dalam literasi digital masih sangat rendah. Tentu hal ini merupakan masalah bersama yang harus segera dituntas. Mengingat internet dan gawai menjadi salah satu jembatan paling praktis dan aman untuk memenuhi kebutuhan di era pandemi. 

literasi-digital-di-masa-new-normal

Melihat kondisi sekarang, sudah seharusnya semua ikut ambil bagian, sekecil apapun yang bisa dilakukan. Pemerintah dapat membuat kebijakan dan program-program untuk meningkatkan litierasi digital masyarakat, pelaku konten kreatif dapat membuat konten-konten yang bermanfaat sekaligus mengedukasi masyarakat, guru terkait dengan pembelajaran jauh dapat memiliki platform sekaligus media belajar terbaik, orang tua menemani dan mengawasi penggunaan gadget pda anak. Sementara kita? Saring dulu semua informasi sebelum di-share.

Penutup

Bukan perkara mudah memang. Namun, saya yakin jika semua sadar akan pentingnya literasi digital bagi kemajuan bangsa, lambat laun hal ini dapat diwujudkan.

Salam, 

susana-devi

Susana Devi Anggasari
Susana Devi Anggasari Hai, saya Susana Devi. Mamak dari Duo Mahajeng, Mahajeng Kirana dan Mahajeng Kanaya. Saya ibu rumah tangga yang nyambi jadi PNS. Untuk menjalin kerja sama, silakan hubungi saya.

Posting Komentar untuk "Literasi Digital dan Adaptasi Kebiasaan Baru"

Berlangganan via Email