Penulisan “Di” Sesuai Kaidah Bahasa

Senin, 03 Desember 2018

Penulisan “Di” Sesuai Kaidah Bahasa


Hai, Kawan Suzan! Lama nih tak menyapa, semoga kalian selalu dalam limpahan berkah Tuhan yang Maha Penyayang. Maafkan saya yang hampir dua bulan tidak nongol. Mamak Mahajeng lagi (sok) sibuk ceritanya. Alhamdulillah, apa yang sedang diusahakan semakin menemukan jalan. Doakan yang terbaik, ya!


Kawan Suzan, Mamak Mahajeng senang sekali dengan perkembangan dunia menulis saat ini. Masyarakat sudah mulai melek literasi. Komunitas menulis menjamur di mana-mana. Kemunculan media-media online membuat kemauan menulis masyarakat mulai menggeliat. Sebuah kemajuan yang perlu diapresiasi. Semakin tinggi kemauan menulis, semakin tinggi kemauan membaca. Semakin tinggi budaya baca-tulis, semakin berdaya sumber daya manusia masyarakat kita. Begitu seharusnya, bukan?


Nah, kali ini saya ingin sekali berbagi sedikit mengenai kaidah penulisan “di”. Walaupun sederhana, ternyata masih banyak juga lho yang salah menerapkan penulisan “di” ini dalam tulisannya.


Dalam bahasa Indonesia, bentuk “di” memiliki dua fungsi: kata depan dan awalan. Walaupun bentuknya sama, kedua fungsi ini membedakan bagaimana penulisan “di” terhadap kata yang mengikutinya, dipisah atau dirangkai. Bagaimana perbedaannya? Saya akan mencoba menjabarkannya.


“Di” sebagai Kata Depan


Kata depan dalam istilah linguistik dikenal dengan preposisi. Menurut Kridalaksana, preposisi adalah kategori yang terletak di depan kategori lain (terutama nomina) sehingga membentuk frase eksosentris direktif. 


Jadi begini, intinya kata depan itu adalah bentuk kata yang berada di depan bentuk kata lain. Gabungan dua bentuk kata yang salah satunya kata depan membentuk frase eksosentris direktif. Pada umumnya frase ini berfungsi sebagai keterangan.


Kata depan mempunyai fungsi yang penting dalam sebuah kalimat. Kata depan membuat arti atau maksud dalam kalimat lebih jelas. Jika sebuah kalimat seharusnya menggunakan kata depan, kalimat itu akan kehilangan maknanya apabila kata depan itu dilesapkan.


Coba perhatikan kalimat ini.


Karena tak tahan lapar, akhirnya saya makan di warung.

Kata depan pada kalimat tersebut adalah “di”. Kehadiran “di” pada kalimat tersebut menjadi sangat penting karena “di” merujuk keterangan tempat untuk aktivitas (makan) yang dilakukan saya.  Bagaimana jika kata depan “di” dihilangkan? Maka bentuk kalimatnya akan menjadi seperti ini.


Karena tak tahan lapar, akhirnya saya makan warung.

Apabila kata depan “di” dihilangkan, maka kalimat yang dihasilkan tentu akan memiliki makna yang berbeda jauh dengan kalimat yang pertama, bukan?


Karena fungsinya sebagai kata, maka penulisan “di” harus berdiri sendiri alias dipisah dengan kata yang mengikutinya. Nah, sampai di sini jelas ya mengapa “di” sebagai kata depan tidak boleh dirangkai.


Baca juga : Penulisan Judul yang Benar

“Di” sebagai Awalan


Dalam bahasa Indonesia, ada beberapa jenis imbuhan (afiks). Imbuhan yang berada di awal dinamakan awalan (prefiks), imbuhan yang berada di tengah dinamakan sisipan (infiks), imbuhan yang berada di akhir dinamakan akhiran (sufiks), dan imbuhan yang terdiri atas gabungan imbuhan dinamakan imbuhan gabungan(konfiks).


Kata “di” sebagai awalan menandakan bahwa “di” adalah imbuhan yang berada di awal atau depan kata dasar. Fungsi awalan “di” adalah membentuk kata kerja (verba) pasif. Karena “di” sebagai awalan bukanlah kata, maka bentuk “di” tidak bisa berdiri sendiri. Keberadaannya harus melekat pada kata dasar. Oleh karena itu, penulisan “di” sebagai awalan harus dirangkai atau selalu terikat dengan kalimat dasar yang diimbuhinya.


Membedakan Penulisan “Di” sebagai Kata Depan dan Awalan


Sebenarnya tidaklah sulit membedakan kapan penulisan “di” harus dipisah atau dirangkai jika kita memahami fungsinya. Jadi, begini.



  1. Jika “di” diikuti kata yang bermakna atau merujuk pada tempat, maka penulisannya harus dipisah. Kenapa? Karena “di” di sini berfungsi sebagai kata depan. Layaknya sebuah kata, bentuk “di” sebagai kata depan juga harus diperlakukan seperti kata, berdiri sendiri atau tidak melekat pada bentuk lain. Oleh karena itu, bentuk penulisan “di” harus dipisah dengan kata yang mengikutinya.


Contoh:


Di rumah


Di sekolah


Di meja


Di tas merah


Di genggaman tanganku


Ada dua cara mudah untuk mengetahui “di” sebagai kata depan. (1) Kata depan “di” mempunyai pasangan “ke” dan atau “dari”. Misal, selain di rumah ada juga bentuk ke rumah dan dari rumah. (2) Kata depan “di” tidak dapat dilawankan dengan bentuk “meng-”. Nah, mudahnya: ada bentuk di atas, tetapi tidak ada bentuk mengatas. Tidak sulit, bukan?



2. Jika “di” diikuti kata yang bermakna atau merujuk pada waktu maka penulisannya juga harus dipisah. Kenapa? Karena bentuk “di” di sini juga berfungsi sebagai kata depan.


Contoh:


Di pagi hari


Di senja itu


Di penguhujung malam


Namun, sekadar catatan. Penggunaan kata depan “di” yang menyatakan atau menandai waktu hanya bisa digunakan dalam ragam tidak resmi atau cakapan saja. Dalam ragam ilmiah, sebaiknya gunakan “pada” untuk menyatakan waktu. Hal ini dikarenakan bentuk “di” tidak memiliki peran semantik untuk menyatakan waktu.  Silakan deh cek peran semantik preposisi di buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia halaman 295!


Lalu, mengapa bentuk “di” umum sekali digunakan untuk menyatakan waktu? Bahasa tidak dapat berdiri sendiri. Keberadaannya memperngaruhi dan dipengaruhi bahasa lain. Begitu pula dengan bentuk “di” ini. Bentuk “di” digunakan untuk menerjemahkan at, in, dan on dalam bahasa Inggris yang selain menandai tempat juga menandai waktu.



3. Di atas sudah dijelaskan bahwa dalam bahasan Indonesia, bentuk “di” selain berfungsi sebagai kata depan juga berfungsi sebagai awalan. Bentuk “di” sebagai awalan berfungsi memasifkan verba transitif (kata kerja yang membutuhkan objek). Ciri awalan “di-” ini adalah dapat dilawankan dengan bentuk “meng-”. Misal: selain bentuk dibaca, ada bentuk membaca; selain ada bentuk diukur, ada bentuk mengukur, selain ada bentuk dibina, ada bentuk


Karena bentuk “di” sebagai awalan berfungsi memasifkan verba transitif, maka bentuk “di” ini harus diikuti oleh kata kerja. Penulisan “di” sebagai awalan tidak boleh dipisah, harus dirangkai dengan kata dasar yang mengikutinya.


Contoh:


Dibawa


Dimakan


Dibuang


Disimpan


Diletakkan


Agar lebih mudah dalam memahami, perhatikan gambar berikut!


Penulisan


Nah, bagaimana Kawan Suzan? Sudah dapat membedakan bagaimana penulisan “di”, bukan? Kawan Suzan pasti sudah tidak bingung lagi, kapan harus memisah atau merangkai penulisan “di”.


Semoga tulisan ini bermanfaat. Mari cintai bahasa kita dengan belajar dan mengakrabi bahasa Indonesia!



14 komentar on "Penulisan “Di” Sesuai Kaidah Bahasa"
  1. Wah terima kasih ilmunya mbak.. sangat bermanfaat sekali. Terkadang saat menulis kurang memperdulikan cara penulisan kata-katanya. Penjelasannya cukup mudah dipahami.

    BalasHapus
  2. Makasih mbak sharingnya, saya tuh kadang-kadang masih sering silap menempatkan kata "di" pada kalimat hehehe ngaku.

    BalasHapus
  3. Keren informasinya mbak. Jdi semakin tahu penempatan "di". Nambah ilmu lagi. Kadang kalau mengetik kata "di" meski mikir-mikir dulu, disambung atau dipisah... Hahaha..suka typo.

    BalasHapus
  4. Bagus banget nulis tentang ini, Mbak. Saya kadang ngedit tulisan yang banyak keliru, salah satunya penulisan kata "di" ini. Makasih infonya, Mbak Devi 😊

    BalasHapus
  5. Ini yang saya cari, mb. Sudah terjawab sekarang. Terimakasih ilmunya mb.

    BalasHapus
  6. wuaaah, kece nih artikel nya dan mudah dipahami. Sedikit sharing, aku ini sering dikoreksi oleh mamahku kalo pas baca artikelku tapi peletakkan kata "di" nya amburadul hehe

    BalasHapus
  7. Trims Ilmunya, Mba. Banyak orang sering typo nih. Noted di-sebagai awalan dan di- sebagai kata depan.

    BalasHapus
  8. Waah, makasih sharingnya lengkap dan informatif Mbak

    BalasHapus
  9. Lengkap bangett
    Di mana sebagai tempat vs dimana sebagai kata sambung penulisanny beda kan y Mb tapi

    BalasHapus
  10. Saya masih sering salah menulis di, terima kasih ilmunya mbak bermanfaat sekali.

    BalasHapus
  11. Penulisan "di" memang masih jadi PR bagi sebagian orang ya, Mbak. Padahal "di" ini sering sekali digunakan. Postingan ini bagus sekali dan bisa menjadi salah satu solusi. Sip!

    BalasHapus
  12. sama, saya juga dulu sering salah menggunakan kata di ini, tapisetelah rajin ngeblog baru deh bisa membedakan keduanya, hehe. Informatif banget postingannya mbak :)

    btw maaf komennya di sini karena nggk dapet kolom komentar di bawah

    BalasHapus
  13. saya juga dulu sering salah menggunakan kata di ini, tapisetelah rajin ngeblog baru deh bisa membedakan keduanya, hehe. Informatif banget postingannya mbak

    ups, kolom komennya baru muncul

    BalasHapus
  14. Estelita Zainal4 Januari 2019 08.16

    Saya paling suka baca tulisan seperti ini karena masih sering buat kesalahan, Tulisan seperti ini selalu saya simpan untuk dibaca lagi kalau mau bikin tulisan. Terima kasih, Mbak......

    BalasHapus

Sugeng rawuh di susanadevi.com. Silakan tinggalkan jejak di sini. Semua jejak yang mengandung "kotoran" tidak akan ditampilkan ya!

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9