Bebaskan Diri dari Penjajahan Belanja Online, Cintai Produk Dalam Negeri

Jumat, 31 Agustus 2018

Hai Kawan Suzan, setuju tidak jika Indonesia memiliki kans yang cukup besar untuk tumbuh dan maju dalam persaingan pasar digital?


 

Potensi E-Commerce Indonesia

Sumber: https://indonesiabaik.id/


 

Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia pada tahun 2107 saja sudah mencapai 143,26 juta. Hal ini tentu saja menjadi peluang empuk bagi pelaku e-commerce.


Menurut data Google dan Temasek 2017, pembelian produk via e-commerce meningkat tajam sebesar 41%. Pada 2015 pembelian via e-commerce sebesar Rp74 trilliun (US$5,5 miliar), sementara pada tahun 2017 sudah mencapai Rp146,7 trilliun (US$10,9 miliar). Bukan peningkatan yang sedikit bukan?


Hal senada juga tampak lho dalam sensus ekonomi 2016 yang dilakukan Badan Pusat Statistik. BPS mencatat pertumbuhan e-commerce  mengalami peningkatan sebesar 17% atau setara 26,2 juta pelaku bisnis. Angka yang cukup fantantis untuk perkembangan sebuah usaha, bukan?


Kalau melihat kenyataan tersebut, seharusnya perekonomian masyarakat menjadi lebih baik. Namun, benarkah demikian terjadi? Tak perlu dijawab, kita juga sudah paham bahwa perekonomian masyarakat kita butuh ditingkatkan.


Dilansir dari finance.detik.com, data yang diperoleh Asosiasi E-Commerce Indonesia (IdEA) menunjukan bahwa produk lokal yang dijual secara online di E-Commerce hanya 6-7%, sisanya merupakan produk impor dari negara lain. Jadi, siapa yang menikmati keuntungan dari melejitnya bisnis e-Commerce di Indonesia? Tentu saja buka warga Indonesia. Bukankah ini sama saja kita sedang mengalami penjajahan belanja online?


Berapa keuntungan yang diraup Negara lain dari padatnya transaksi perdagangan e-commerce di Negara kita?


Jika tidak ditanggulangi secara tepat, maka kita perlu waspada. Transaksi ekonomi di negara kita berkembang pesat, tetapi perekonomian pribumi kembang kempis. Produk lokal tidak dapat berjaya di negaranya sendiri, justru kalah dengan pamor produk impor. Padahal, kualitas produk lokal belum tentu kalah dengan produk asing.


 

Mengangkat Produk Lokal di Pasar Nasional


Melihat pertumbuhan e-commerce yang tidak membawa perubahan baik untuk warga pribumi seharusnya membuat kita berkaca mengapa hal itu dapat terjadi?


Jangan salahkan mudahnya barang impor masuk ke Indonesia! Untuk hal semacam ini biar saja pemerintah yang mengurusi. Soalnya jika kita ikut-ikutan, masalah bukannya kelar malah melebar. Haha


Lagipula, pemerintah juga tidak tinggal diam atas fenomena ini. Pemerintah tidak menutup mata bahwa mereka perlu mengawasi dan mengatur langsung perdangan elektronik ini.  Undang-undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang perdagangan telah mengatur pula e-Commerce  ini. Pada rapat koordinasi yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, Pemerintah merumuskan roadmap pengembangan E-Dagang Nasional (Roadmap E-Commerce).


Nah, sekarang biarkan pemerintah melakukan tugasnya dan kita melakukan apa yang dapat kita lakukan. Bukan begitu, Kawan?


 

Ubah Mindset


Kawan Suzan, menurut kalian mengapa produk impor lebih digemari dan lebih laku di pasar dagang eloktronik kita? Tepat!


Masyarakat kita cenderung tidak mentai produk dalam negeri. Mereka menganggap bahwa barang-barang impor yang memiliki brand internasional mutunya pasti lebih bagus dibanding barang lokal. Padahal nih, kualitas produk kita enggak kalah lho di pasar Internasional!


Beberapa produk buatan dalam negeri terbukti laris manis dan menjadi incaran di pasar inetrnasional. Indonesia mempunyai The Sak, label tas buatan Delia Murwihartini yang sudah merambah pasar New York dan Swedia. Kenal Matoa? Matoa adalah label jam tangan kayu handmade yang diprakarsai Lucky Dana Aria. Jepang merupakan negara yang menjadi konsumen tetap produk ini. Selain Jepang, Matoa tersebar di 9 negara lain.




Kalau orang mancanegara saja bangga memakai produksi kita, mengapa kita malah ogah-ogahan?



 

Qlapa.com: Rumahnya Produk Handmade Indonesia


Qlapa merupakan website jual-beli online yang antimainstream. Mengapa saya bilang begitu? Karena website jual beli yang satu ini unik dan beda dari yang lain.


Qlapa.com hanya menjual produk handmade asli Indonesia. Di Qlapa.com kita dapat menemukan produk-produk handmade yang dibuat oleh masyarakat seluruh Indonesia. Semua produk yang dijual adalah barang handmade dan buatan warga Indonesia. Tidak ada barang impor di sini. Tentu saja ini sangat sesuai dengan visi kita melepaskan diri dari penjajahan belanja online di Indonesia.


Penggagas Qlapa membuat website ini dengan visi yang mulia, memajukan pengrajin handmade yang ada di Indonesia. Seperti yang kita ketahui, kehidupan perekonomian sebagian pengrajin handmade di Indonesia tidak cukup baik. Sekalipun setiap hari ada saja permintaan akan barang produksinya, nyatanya banyak pengrajin yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.


Pengrajin hanya mengenal produksi barang. Mereka tidak paham bagaimana caranya memasarkan produk mereka. Alhasil, produk mereka dibeli oleh pedagang atau makelar dagang. Tentu saja harga yang ditawarkan tak seberapa. Dalam hal ini, pedagang tentu memiliki keuntungan yang lebih besar dibanding produsennya atau pengrajinnya sendiri.


Di Qlapa.com, pembeli dipertemukan dengan pengrajin produk handmade asli Indonesia. Jadi, pembeli dapat memesan produk yang diinginkan secara custom. Selain itu, pengrajin dapat menerima bayaran yang pantas untuk produk yang ia buat.


Benar-benar visi yang mulia bukan?


Produk Handmade Indonesia

 

Temukan Produk Bernilai di Qlapa.com


Di Qlapa.com kamu dapat menemukan beragam produk bernilai. Cocok banget buat kamu yang sedang mencari hadiah, atau mencari barang penunjang hobi atau koleksi kamu. Kamu juga dapat memenuhi kebutuhan lifestyle dengan produk-produk keren di sini.


Buat kamu apa sih standar mencari barang untuk dihadiahkan ke orang lain? Kalau saya, selain karena disukai dan dibutuhkan, saya suka produk yang unik. Haha … iya, saya termasuk orang yang suka dengan sesuatu yang ‘beda’. Nah, Qlapa.com tahu banget yang saya mau. Di sini saya bisa menemukan barang yang saya butuhkan tapi juga unik dan beda dari yang lain tentunya.


Desember nanti, ibu saya ulang tahun. Saya mau mencari perobot rumah tangga yang unik dan lucu. Secara, Ibu suka sekali dengan perabotan rumah tangga. Akhirnya saya jalan-jalan ke Qlapa.com dan menemuka teko kelapa, tempat garam dan lada berbentuk kumis, dan nampan bambu ini. Bagus, kan?


 

Tempat menemukan produk bernilai untuk berbagai hal: hadiah, koleksi, dan lifestyle.

 

Buat kamu yang hobi mengoleksi barang antik, Qlapa.com adalah tempat paling pas. Saya sanggup berjam-jam menjelajahi tempat ini. Bener-bener membuat mata seger. Nanti kalau sudah punya rumah sendiri, enggak bingung lagi deh nyari-nyari perobatan.


Di Qlapa.com saya juga nemu Fakhira Outer Batik Navy yang kece abis. Pas banget deh buat acara kondangan. Secara emak-emak mah dandan cantiknya pas kondangan doang. Lihat baju batik di sebelahnya, cocok juga buat pasangan Fakhira Outer Batik Navy. Beneran deh, Qlapa.com mah menjawab kebutuhan lifestyle generasi macam kita.


Produk Qlapa.com Bukan Sembarang Produk



Sebagai wadah jual beli, Qlapa.com memikir sekali kepuasan pembelinya. Jadi, produk-produk yang dijual di Qlapa.com adalah produk yang sudah memenuhi kurasi dari tim Qlapa.com.


Kurasi itu apaan sih? Kurasi semacam penjaminan mutu dan kualitas yang dilakukan oleh tim Qlapa. Tim Qlapa.com akan memastikan bahwa foto dan deskripsi produk yang dipajang di Qlapa.com adalah foto real dan seperti kondisi sebenarnya. Pihak Qlapa menyadari bahwa modal utama dalam jual buli online adalah kepercayaan. Qlapa tidak mau merusak kepercayaan pelanggan dengan adanya penjual-penjual nakal di pasar digital yang mereka bangun. Selain itu, kurasi yang dilakukan tim Qlapa merupakan cara memacu pengrajin lokal agar mampu menghasilkasn produk berkualitas yang siap go internasional.


Bangsa kita mempunyai modal besar untuk pertumbuhan ekonomi: memiliki jumlah penduduk yang banyak sebagai pangsa pasar dan memilki pengrajin lokal yang mampu menyediakan produk berkualitas. Jadi, mari kita mulai melakukan aksi nyata. Cintai dan gunakan produk lokal. Kawal produk-produk lokal kita agar go internasional.


Bagaimanakah Penulisan Rupiah yang Benar?

Rabu, 29 Agustus 2018

Siapa yang tidak kenal rupiah? Setiap hari kita selalu bersinggungan dengan mata uang Negara tercinta kita. Paling tidak setiap pagi kita belanja sayur mayur atau kebutuhan dapur lainnya menggunakan rupiah, makanya saya cinta rupiah. Tanpa rupiah, dapur saya tidak ngebul.



Namun, tahukah Kawan Suzan bagaimana penulisan rupiah yang benar dan sesuai kaidah bahasa kita? Sepele memang, tetapi menggunakan bahasa kita sendiri dengan baik dan benar tentu merupakan wujud kecintaan tersendiri bagi negeri ini.



Rp adalah Lambang Mata Uang bukan Singkatan



Penulisan Rupiah

Rp yang digunakan untuk menuliskan jumlah uang bukanlah sekadar singkatan dari rupiah tetapi juga simbol dari mata uang. Rp adalah simbol dari mata uang rupiah seperti halnya $ untuk dollar dan ¥ untuk yen. Oleh karena itu, penulisan rupiah yang tepat adalah Rp diikuti nominal tanpa titik dan tanpa spasi. Jadi, mulai sekarang berhentilah menulis Rp diikuti titik dan spasi ya, Kawan-kawan!



Rp1.000,00                         bukan Rp.1000,00



Rp15.000.000,00                 bukan Rp 15.000.000,00



 

Penulisan Mata Uang Rupiah dengan Ejaan Huruf



Lalu bagaimanakah penulisan rupiah yang tepat jika menggunakan ejaan huruf atau kata rupiah?



Untuk menuliskan mata uang tanpa menulis simbol Rp, cukup tuliskan bilangan dengan huruf diikuti kata rupiah. Ingat! Tidak perlu lagi mencantumkan simbol Rp jika kita sudah menggunakan kata rupiah. Jadi, kita cukup memilih salah satu, menggunakan simbol Rp atau menggunakan kata rupiah.



Untuk jumlah nominal yang cukup banyak, kita dapat menggunakan menggunakan kombinasi angka dan huruf.



1000 rupiah



15.000.000 rupiah



15 juta rupiah



 

Penulisan Mata Uang Rupiah dengan IDR



Jika Dollar Amerika Serikat mempunyai USD sebagai standar internasional mata uangnya, Indonesia mempunyai IDR. IDR merupakan kependekan dari Indonesian Rupiah.



IDR adalah kode mata uang Indonesia sesuai ISO 4217  yang telah diakui secara internasional. Penggunaan IDR belum ditetapkan secara resmi dalam Pedomana EYD. Secara umum, ada dua cara yang digunakan untuk menuliskan kode ini.



Pertama, kode ditulis di depan bilangan. Misalnya, IDR 100.000. Kedua, kode ditulis di belakang bilangan. Misalnya, 100.000 IDR.Karena bahasa Indonesia menganut hukum D-M, penerang berada di belakang yang diterangkan, maka penulisan kode ini sebaiknya ada di belakang bilangan. Jadi, 100.000 IDR bukan IDR 100.000.



Untuk kelipatan ribuan dapat disederhanakan dengan simbol K yang bermakna kilo. Jadi, 100.000 IDR sama dengan 100K IDR.



 

Titik sebagai Pemisah Ribuan, Koma sebagai Penanda Desimal



Penulisan rupiah dalam bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan dua cara, yakni menggunakan huruf atau angka. Pada penulisan bilangan dengan angka, tanda titik digunakan untuk memisahkan ribuan dan tanda koma digunakan sebagai penanda desimal. Untuk mata uang, biasanya akan ditulis dua angka di belakang koma.



Penulisan dua angka di belakang koma ini dipengaruhi sejarah nilai rupiah. Dulu dikenal sen yang setara dengan Rp0,01. Untuk penulisan bilangan mata uang utuh, dua angka di belakang koma ini tidak berarti dan boleh dihilangkan. Namun, dalam pencatatan keuangan penulisan semacam ini sangat dibutuhkan. Misal, dalam pencatatan suku bunga bank.



Rp15.000.000,00



Rp15.300.200,10



Nah, Kawan Suzan sudah tahu kan bagaimana penulisan rupiah yang benar dan sesuai dengan kaidah bahasa kita? Mulai sekarang, mari kita berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Jadikan diri kita agen bahasa. Kalau bukan kita, siapa yang akan bangga berbahasa Indonesia?



Oh, iya! Kalau ada yang kurang Kawan-kawan dapat menambahkan informasinya di kolom komentar ya!

Bagaimanakah Penulisan HUT RI yang Benar?

Rabu, 15 Agustus 2018

Sudah pukul 02.43 WIB dan saya belum tertidur. Padahal besok suami harus ke Kendal untuk ikut acara gerak jalan. Katanya sih dalam rangka memperingati HUT ke-73 RI.


Eh, Bai Nde We Buswe setiap menjelang perayaan kemerdekaan seperti ini pasti akan ada ucapan untuk bangsa kita. Yups, banyak banget instansi maupun individu yang mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” untuk Republik Indonesia.


Ucapan ini ditulis dalam berbagai variasi. Ternyata eh ternyata ... jika diamati ada beberapa penulisan yang  kurang tepat, loh! Baiklah, mari kita bahas soal ini aja yuk! Rujukan kita tetep ya, Badan Bahasa.


 

Selamat HUT RI Ke-73


Coba menurut Kawan SuZan penulisan tersebut sudah tepat atau belum? Penempatan kata bilangan bertingkat sesudah kata RI dapat menimbulkan kesan ada banyak RI. HUT RI ke-73 dapat diartikan bahwa yang sedang berulang tahun adalah RI ke-73, bukan RI ke-20 atau RI-55.


Lalu bagaimana dong? Agar tidak menimbulkan salah tafsir, kita dapat mengubah susunan RI ke-73. Pindahkan kata bilangan tingkat sebelum RI sehingga susunannya menjadi HUT ke-73 RI. jadi, terlihat jelas kan kalau yang dimaksud adalah perayaan hari ulang tahun yang ke-73 Republik Indonesia?


 

Dirgahayu HUT RI Ke-73


Bagaimana dengan penulisan ungkapan tersebut? Kata dirgahayu adalah kata serapan dari bahasa sanskerta yang bermakna ‘panjang umur’ atau ‘berumur panjang’.


Jika dirgahayu disandingkan dengan HUT maka akan bermakna ‘Selamat panjang umur HUT’. Jadi, kalimat tersebut berkesan yang berulang tahun adalah HUT-nya bukan RI-nya. Padahal maksud ungkapan tersebut adalah selamat ulang tahun untuk RI.


Jadi, bagaimana seharusnya? Jangan sandingkan dirgahayu dengan HUT! Kita dapat menggunakan ungkapan ‘Dirgahayu Ke-73 RI atau Selamat HUT ke-73 RI”.


 

HUT Ke LXXIII Kemerdekaan Indonesia


Coba Kawan SuZan cermati ungkapan di atas! Di manakah letak kesalahannya? Tepat sekali. Kesalahan ungkapan di atas terdapat pada penulisan angka Romawi yang digunakan.


Jika kata bilangan tingkat yang ditulis menggunakan angka Arab harus didahului ke, kata bilangan tingkat yang ditulis menggunakan angka Romawi tidak perlu didahului ke.  Jadi, agar penulisan ungkapan tersebut benar seharusnya HUT LXXIII Kemerdekaan RI atau HUT Ke-73 Kemerdekaan RI.


Nah, sekarang Kawan SuZan sudah paham kan penulisan yang tepat untuk menyatakan ulang tahun? Bentukan ungkapan selamat ulang tahun tersebut juga dapat digunakan untuk menyatakan selamat ulang tahun pada lembaga atau instansi lain. Misalnya, Selamat HUT ke-52 RRI. Dirgahayu SusanaDevi[dot]com.


Ayah-Bunda, Sudahkah Terlibat dalam Pendidikan Anak?

Selasa, 14 Agustus 2018

Hai, Ayah dan Bunda! Apa kabar? Hari ini kita ngomongin soal pendidikan anak yuk!



Saya aslinya kalau udah mikir anak suka ngerasa parno sendiri. Tahu sendiri kan bagaimana pergaulan anak-anak sekarang. Mudah-mudahan anak-anak kita dijauhkan dari segala hal yang buruk dan selalu diberi perlindungan untuk selalu  berada di jalan yang benar.



Masih ingatkah Ayah-Bunda dengan kasus Pak Guru Budi? Yups, tepat! Guru seni rupa SMAN 1 Torjun yang menghembuskan napas karena pemukulan siswanya sendiri. Masih ingat pula dengan kasus guru Malayanti, guru Bahasa Inggris SMAN 3 Wajo, yang dilaporkan pihak kepolisian karena mencubit siswanya?



Nah, berkaca dari kasus-kasus tersebut menurut kalian apa yang salah? Bagaimana bisa seorang siswa dapat dengan mudah memukul gurunya sendiri? Bagaimana pula orang tua siswa gampang sekali melaporkan guru hanya karena mencubit anaknya?



Bukan lantas ingin meninggikan peran guru. Namun, sebagai orang yang telah menggantikan peran orang tua sebagai pendidik anaknya bukankah seharusnya guru mendapat penghormatan, baik dari siswanya sendiri atau orang tua siswa?



Seorang siswa tentu akan menghormati seorang guru apabila orang tuanya memberi teladan. Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk memberi kesadaran bahwa guru sama mulianya dengan orang tua. Guru menjadi sosok yang wajib dihormati karena ia mau menggantikan tugas orang tua mendidik anaknya. Bukan begitu, Ayah Bunda?



 

Keluarga dan Tanggung Jawab Pendidikan



Tanggung Jawab Pendidikan Ada di Tangan Orang Tua



Jika anak sukses, siapa yang akan secara langsung mendapatkan manfaatnya? Ayah-Bunda sebagai orang tua atau Bapak-Ibu guru? Tentu saja  Ayah-Bunda sebagai orang tua, bukan?



Maka, hitam dan putihnya seorang anak sudah sepatutnya menjadi tanggung jawab orang tua. Sekolah hanyalah partner bagi orang tua untuk mendidik putra-putrinya.



Menurut Alisuf, keluarga adalah primary community. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama. Anak mulai tumbuh dan menerima pengaruh berawal dari lingkungan keluarga. Masa-masa keemasan anak berada di lingkungan ini. Pada masa ini anak lebih mudah mendapat masukan. Oleh karena itu, di sinilah peran keluarga dibutuhkan. Keluarga harus menjadi tempat dan pijakan yang baik untuk tumbuh kembang anak selanjutnya. Pondasi-pondasi dasar anak harus tertanam kuat.



Riana dalam Pendidikan Keorangtuaan dan Keluarga di Indonesia juga mengemukakan bahwa keluarga miliki peranan pentig untuk memberikan dasar pendidikan. Pendidikan agama, budi pekerti, sopan santun, estetika, kasih sayang, rasa aman, dasar-dasar untuk mematuhi peraturan, dan menanamkan kebiasaan adalah dasar pendidikan yang mesti dibangun kuat oleh keluarga. Nilai-nilai dan ajaran tingkah laku sesuai dengan norma merupakan kewajiban orang tua dan keluarga.



 

Pentingnya Pelibatan Keluarga dalam Pendidikan



Pendidikan adalah Tuanggung JawabKeluarga



Orang tua memegang peran yang sangat vital untuk tumbuh kembang anak. Penelitian yang dilakukan Harvard Family Research Project’s (HFRP) menunjukan bahwa hasil prestasi anak dipengaruhi keterlibatan orang tua. Hal ini senada dengan hasil penelitian Grenwood & Hickman (2010). Prestasi akademis, frkuensi kehadiran anak, iklim sekolah, persepsi orang tua dan anak tentang belajar di kelas, sikap dan perilaku positif anak, kesiapan anak untuk mengerjakan PR, peningkatan waktu yang dihabiskan anak bersama orang tuanya, aspirasi pendidikan, kepuasan orang tua terhadap guru, dan kesadaran anak terhadap well being  meningkat sejalan dengan kontribusi aktif orang tua.



Lickona juga menyampaikan sekolah memang mampu meningkatkan pemahaman awal pada sekolah, bahkan sekolah dapat mencatat bukti-bukti keberhasilan siswa. Namun, hal itu tidak akan berlangsung lama apabila apa yang diajarkan di sekolah tidak mendapat dukungan keluarga (2013). Hal ini senada dengan apa yang pernah dikemukakan Presiden Amerika Serikat ke-44. Barrack Obama dalam pidatonya di Missouri pernah mengatakan bahwa hal  terpenting bagi  pendidikan di sekolah adalah guru. Namun, yang paling utama adalah orang tua (Edsource.org, 2014). Untuk memperoleh pendidikan yang optimal, orang tua dalam hal ini keluarga mesti terlibat aktif dalam pendidikan.



Dari uraian di atas, tentu Ayah Bunda setuju dong jika pelibatan keluarga untuk pendidikan sangat penting! Keluarga dan sekolah harus bisa menjadi partner yang solid untuk mendidik anak lebih baik, bukan?



 

Bagaimana Wujud Pelibatan Keluarga dalam Pendidikan di Rumah?



 

Pelibatan Keluarga dalam Pendidikan



Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan pelibatan keluarga? Secara mudahnya pelibatan keluarga dalam pendidikan adalah keikutsertaan keluarga dalam mewujudkan pendidikan untuk putra-putrinya. Ayah dan Bunda juga anggota keluarga yang lain menjadi fasilitator agar anak memperoleh pendidikannya lebih baik.



Kira-kira, apa ya yang bisa dilakukan? Nah, ada beberapa hal yang bisa dilakukan keluarga untuk menunjang pendidikan putra-putrinya.





  1. Menciptakan Lingkungan Belajar yang Menyenangkan




Hal paling utama dalam ketercapaian pendidikan adalah lingkungan yang menyenangkan untuk belajar. Oleh karena itu, Ayah-Bunda harus membuat rumah adalah tempat belajar yang nyaman. Ayah-Bunda juga harus membangun konsep bahwa belajar adalah hal yang menyenangkan bagi anak. Jangan sampai anak merasa terbebani dengan belajar.





  1. Menumbuhkan Budi Pekerti dan Membangun Karakter Anak




Pendidikan masa kini tidak terlepas dari pendidikan karakter. Karakter adalah hal utama yang mesti dibangun. Anak harus dididik dan dibangun karakternya sejak dini sehingga memiliki pondasi yang kokoh ketika ia harus berada di luar lingkungan sekolah. Ayah-Bundaharus mampu menjadi role model bagi anak. Saat saya membaca Ingin Anak Rajin Beribadah? Mari Mengaca! di laman Sahabat Keluarga saya merasa tertampar. Semoga kita dapat menjadi dapat menjadi teladan bagi putra-putri kita ya, Ayah Bunda!





  1. Menjalin Komunikasi yang Hangat dan Interaksi yang Penuh Kasih Sayang




Kesalahan terbesar orang tua adalah tidak bisa mengungkapkan kasih sayang kepada putra-putrinya. Padahal nih, anak yang merasa disayangi akan lebih berusaha memberikan yang terbaik untuk orang tuanya. Anak yang dilimpahi kasih sayang akan merasa sungkan membuat orang tuanya malu. Bukan begitu, Ayah-Bunda?





  1. Menjalin Hubungan Aktif dengan Pihak Sekolah




Orang tua yang sadar dan paham betul bahwa pendidikan anak adalah tugas dan tanggung jawabnya, tentu tidak akan lepas tangan begitu saja dengan pendidikan anaknya. Kewajiban orang tua mendidik anak tidak berhenti pada mencarikan sekolah ternaik untuk anaknya. Ayah-Bunda pasti setuju bahwa untuk memantau tumbuh kembang anak, kita wajib menjalin komunikasi aktif dengan pihak sekolah. Jadi, kita tahu apa bagaimana perkembangan anak kita dan paham apa yang harus kita persiapkan ke depannya.



 

Bagaimana Wujud Pelibatan Keluarga dalam Pendidikan di Sekolah?



Keluarga Mitra Sekolah



Melibatkan keluarga dalam pendidikan artinya keluarga dan sekolah harus menjalin hubungan yang baik demi tercapainya tujuan pendidikan. Hubungan keluarga dan sekolah ini bersifat dua arah dan bersifat saling melengkapi. Nah, sehubungan dengan hal tersebut, apa saja sih yang dapat dilakukan orang tua agar terlibat dalam pendidikan putra-putrinya?





  1. Pertemuan Orang Tua




Saat ini selain kelas untuk putra-putrinya, sekolah juga menyediakan kelas orang tua. Kelas ini selain sebagai wadah komunikasi bagi orang tua siswa dan pihak sekolah juga sebagai tempat berbagi informasi dan pengetahuan seputar pendidikan anak. Sebagai orang tua, Ayah-Bunda dapat mencari tahu perkembangan anak juga menambah wawasan seputar mendidik anak. Sudahkah Ayah-Bunda memanfaatkan kelas orang tua ini?





  1. Keterlibatan Orang Tua di Dalam Kelas




Beberapa sekolah saat ini sudah ada yang sadar akan pentingnya keterlibatan orang tua dalam pendidikan. Tak heran beberapa kegiatan sekolah turut mengundang pastisipasi aktif orang tua di kelas. Sebagai orang tua, kita harus menyambut baik hal ini. Ayah-Bunda pasti akan datang bukan jika mendapat undangan dari sekolah untuk menemani kegiatan putra-putrinya di kelas?





  1. Keterlibatan Orang Tua dalam Acara Bersama




Selain kegiatan belajar mengajar di kelas, sekolah seringkali mengadakan kegiatan di luar kelas untuk menunjang pembelajaran. Beberapa kegiatan ini melibatkan orang tua. Biasanya sih bertujuan untuk menjalin kedekatan antara pihak sekolah dan keluarga, juga menumbuhkan keintiman antara orang tua dan anak. Jadi, jangan sampai tidak datang jika menerima undangan semacam ini ya, Ayah Bunda!



Tujuan pendidikan adalah mewujudkan manusia cerdas akal dan moralnya. Hal ini dapat dicapai jika keluarga dan sekolah menjalin kerja sama yang baik. Sekolah memberi ruang agar orang tua ambil bagian dalam pendidikan, keluarga membuka diri untuk terlibat dalam segala kegiatan pendidikan. Bagaimana menurut Ayah-Bunda? Silakan berbagi pengetahuan dan pengalaman di kolom komentar ya!



Sumber Pustaka:



Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depertemen Pendidikan Nasional.



Kurniawan, Heru. Ingin Anak Rajin Beribadah? Mari Mengaca!. https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4934 diakses pada 13 Agustus 2018



Lickona. 2012. Educating for Character Mendidik Untuk Membentuk Karakter. Jakarta: PT. Bumi Aksara



Sabri, M. Alisuf Sabri. 199.  Ilmu Pendidikan. Jakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya



Riana, dkk. (2012). Pendidikan Keorangtuaan dan Keluarga di Indonesia. Bandung: Pusat Pengembangan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal Regional I Bandung



Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Pendidikan Keluarga dengan tema “Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian” #SahabatKeluarga



NHW #2: Menjadi Ibu Profesional Sebagai Individu, Istri, dan Ibu

Senin, 13 Agustus 2018

Hai, Kawan Suzan! Kalau pekan kemarin saya sempat membahas bahwa sudah seharusnya ada Pendidikan Profesi Ibu agar seorang wanita benar-benar terlatih menjadi ibu. Dengan adanya Pendidikan profesi Ibu, diharapkan seorang ibu mampu menjadi ibu yang profesional.


Seorang dikatakan profesional jika dapat melakukan profesinya dengan kepandaian dan kealian tertentu. Hari ini saya akan membahas indikator pencapaian ibu profesional bagi diri saya pribadi.


Untuk mengukur ketercapaian  sesuatu dibutuhkan indikator, termasuk mengukur ketercapaian sebagai ibu profesional. Indikator ini bertujuan untuk melihat apakah kondisi-kondisi yang menjadi standar ibu profesional sudah dapat dicapai atau belum.


Oleh karena itu, penting sekali menetapkan indikator keberhasilan yang dapat diukur secara langsung. Kalau dari materi Matrikulasi IIP yang saya dapat kemarin, indikator itu harus SMART.




  1. Specifik (Unik, Detail à Indikator harus lengkap dan terperinci)

  2. Measurable (Terukur à Indikator harus dapat diukur, misal : seminggu satu kali, sehari dua kali, dst)

  3. Achievable (Bisa Diraih à Indikator harus masuk akal untuk dicapai. Tidak terlalu mudah ataupun terlalu sulit)

  4. Realistic (Berhubungan dengan kehidupan à Indikator harus sesuai dengan kehidupan nyata)

  5. Timebond (Batas Waktu à Indikator harus memiliki batas waktu capaian)


Ibu adalah wanita dengan banyak peran. Ia adalah seorang individu yang membutuhkan aktualisasi kehidupan pribadi, ia adalah istri untuk suaminya, ia juga ibu untuk anaknya. Menjadi Ibu profesional berarti menjadi handal dan cakap baik sebagai individu, istri, maupun ibu.



Indikator Pencapaian Ibu Profesional sebagai Individu


Indikator Pencapaian Ibu Profesional Sebagai Individu


Sebagai individu, ibu mempunyai kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya. Ia mempunyai keinginan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan rohaninya. Indikator pencapaian yang saya buat mempertimbangkan faktor tersebut.




  1. Iman dan Taqwa



  • Salat Wajib Tepat Waktu


Kadang karena alasan kesibukan, saya biasanya akan menunda waktu salat. Padahal, salat adalah bentuk cinta kasih kepada pencipta-Nya. Oleh karena itu, keberhasilan saya sebagai ibu profesional yang pertama adalah dapat menunjukan cinta saya kepada Sang pencipta.




  • Membaca Al Quran minimal satu hari satu kali


Membaca ayat Al Quran selain keharusan bagi saya adalah penyiram rohani. Maka, sebagai individu yang bertaqwa saya menjadikan membaca Al Quran sebagai indikator keberhasilan ibu profesional.




  • Rutin Datang Ke Kajian Mingguan


Iman dan ketaqwaan perlu dipupuk. Salah satu caranya adalah bermajelis dengan orang-orang saleh-saleha. Selain menjaga kadar keimanan dan ketaqwaan, medatangi kajian juga memberi ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat untuk kehidupan.




  1. Pembelajar



  • Membaca Informasi Minimal Satu Hari Satu Bacaan


Manusia adalah makhluk pembelajar. Di era arus informasi yang berkembang pesat, seorang ibu harus mengup-grade dirinya dengan senantiasa belajar. Cara belajar paling mudah adalah dengan membaca.




  • Satu Hari Satu Tulisan


Saya mencintai aksara. Oleh karena itu, saya ingin menghasilkan karya yang nantinya akan dicintai banyak orang. Hal itu hanya akan dapat dicapai jika saya senantiasa berlatih menulis.




  1. Produktif



  • Update Blog Minimal Seminggu 3x


Sebagai seorang Ibu Rumah Tangga Tulen yang berharap bisa produktif dari rumah, saya sangat ingin bisa berpenghasilan melalui blog. Hal itu tidak mudah. Tugas utama saya sekarang adalah mengisi rumah ini dengan konten yang bermafaat dan menarik untuk dibaca.




  • Menulis Fiksi Minimal Seminggu 1x


Kalau kata saya, fiksi adalah penyeimbang hidup. Jadi, saya harus tetap menulis minimal satu fiksi dalam satu minggu.




  1. Kesehatan



  • Senam/ Lari Seminggu 1x


Bukan rahasia lagi jika badan saya semakin melebar. Sepertinya ini efek saya semakin sabar. J Bagi wanita, tubuh ideal masih selalu menjadi impian. Oleh karena itu, paling tidak satu minggu sekali saya harus berolahraga, baik senam atau lari pagi.



Indikator Pencapaian Ibu Profesional sebagai Istri


Indikator Pencapaian Ibu Profesional Sebagai istri


Sebagai seorang istri, pencapaian ibu profesional tidak bisa terlepas dari perannya terhadap istri. Peran ibu sebagai istri harus selaras dan sejalan dengan ridlo dan kepentingan suami. Berikut indikator keberhasilan ibu profesioanal sebagai seorang istri.




  1. Mengontrol Emosi Lebih Baik


Ini kelemahan saya sebagai seorang wanita, mudah terbawa emosi. Terkadang hanya karena masalah sepele emosi saya tersulut. Tidak jarang, suami yang menjadi sasaran.




  1. Murah Senyum Di Segala Kondisi


Nah, ini PR banget bagi saya. Jika emosi sedang tidak stabil maka wajah bawaannya kusam dan cemberut. Jadi, mulai sekarang saya akan belajar untuk selalu tersenyum apapun kondisinya, terlebih jika suami di rumah.




  1. Tidak Memegang Gawai saat Bersama Suami


Terkadang saya lupa dengan suami karena keasyikan memegang gawai. Sekalipun aktivitas saya dengan gawai paling juga jualan online atau belajar bersama kawan-kawan komunitas, mulai sekarang saya akan berusaha mengurangi jika sedang bersama suami.




  1. Memberi Izin Suami dengan Hobinya


Suami saya adalah pecinta ayam hutan. Terkadang, mengurus peliharaannya membutuhkan waktu, tenaga, dan perhatian ekstra. Terkadang saya merasa cemburu nih sama ayamnya. Namun, jika dipikir-pikir lebih baik dia ngurus ayam daripada ngurus yang lain J




  1. Bangun Lebih Awal dari Suami


Saya termasuk orang yang bisa tidur pagi tapi susah bangun pagi. Yups! Biasanya saya sanggup begadang sampai pagi, terlebih jika sedang ada pekerjaan. Nah, imbasnya saya sering bangun terlambat. Sebagai istri, saya ingin selalu bangun lebih awal dari suami. Oleh karena itu, jam begadang saya harus diturunkan.




  1. Menyiapkan Sarapan


Suami saya tidak pernah menuntut saya harus memasak. Jika mengetahui saya sedang repot dia seringkali berinisiatif membeli makanan dari luar. Namun, kata Bapak saya masakan terenak bagi suami adalah makanan istrinya. Oleh karena itu, minimal saya harus masak sarapan untuk suami saya.




  1. Menjaga Aurat


Suami saya sangat ingin mempunyai istri yang saleha. Semoga saya dapat mewujudkannya. Salah satu caranya adalah saya harus menjaga aurat setiap saat.




  1. Berkunjung ke Rumah Mertua


Orang tua suami adalah orang tua saya, nenek bagi kedua anak saya. Paling tidak sebulan sekali kami harus ke sana.



Indikator Pencapaian Ibu Profesional sebagai Ibu


Indikator Pencapaian Ibu Profesional Sebagai Ibu


Apalagi keberhasilan seorang ibu selain melihat anak-anaknya tumbuh dengan baik? Berikut adalah indikator keberhasilan ibu profesiinal sebagai ibu menurut saya.




  1. Makanan Sehat


Anak-anak suka sekali makan-makanan instan atau olahan. Nah, ini adalah tantangan bagi saya untuk menyiapkan makanan sehat yang disukai anak-anak.




  1. Bermain


Kirana, anak pertama saya, sedang berada pada masa golden age-nya. Sayangnya, kehadiran adiknya ketika ia berusia 22 bulan membuat perhatian saya ke dia berkurang. Oleh karena itu, saya harus mempunyai waktu khusus untuk bermain dengannya.




  1. Gawai



  • Tidak Memegang Gawai saat Bersama Anak


Apapun alasannya, saya harus berusaha untuk tidak memegang gawai ketika bersama anak. Seringkali ini membuat anak merasa tidak diperhatikan.




  • Mengontrol pemberian HP Maksimal 30 Menit


Terkadang, saya memanfaatkan HP untuk diberikan kepada anak jika berada dalam situasi sulit. Yups! Mengasuh dua balita dengan jarak berdekatan memang terkadang penuh intrik. Sayangnya, biasanya si Kakak akan keterusan main HP. Jadi, mulai sekarang penggunaannya harus dibatasi




  1. Pendidikan



  • Mendampingi Bermain Anak Sesuai Kurikulum yang Dibuat


Impian saya adalah menjadi guru bagi anak-anak. Oleh karena itu, saya ingin bahwa saya mendidiknya dengan permainan-permain yang memang dirancang untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya.




  1. Emosi



  • Tidak Berteriak pada Anak


Nah, ini juga agak sulit. Saat emosi dan situasi di luar kendali, biasanya saya akan teriak. Ini sangat tidak bagus. Kebiasaan ini harus dihilangkan.




  • Memberi Pelukan Sebelum Tidur


Pelukan memberi efek bahagia yang penting bagi tumbuh kembang anak. Pelukan adalah hal wajib bagi anak sebelum tidur.


Alhamdulillah … akhirnya selesai juga membuat indikator pencapaian untuk seorang ibu profesional. NHW #2 yang sangat mefeeeet DL. Doakan semoga indikator tersebut dapat saya capai ya, Kawan! Nah, kalau Kawan-kawan sendiri, bagaimana indikator pencapaian menjadi ibu profesional? Share yuk di kolom komentar! J


Pemakaian Kata Jam dan Pukul

Kamis, 09 Agustus 2018

Awalnya, saya tidak begitu peduli dengan pemakaian kedua kata ini. Sampai suatu ketika seorang teman bertanya bagaimana membedakan pamakaian kata jam dan pukul dengan tepat.


Ternyata pemakaian kata jam dan pukul di masyarakat dianggap sebagai dua kata yang bisa saling menggantikan. Memang secara umum, kata jam dan pukul memiliki kesamaan makna yakni sama-sama berarti waktu. Namun, benarkah dua kata itu bisa menggantikan secara sempurna?



pemakaian




Perbedaan Makna Jam dan Pukul


Di masyarakat pengguna bahasa kita, kata jam dan pukul sering dianggap sebagai kata yang memiliki makna sama dan dapat dapat saling menggantikan. Tak heran jika dua kata ini seringkali digunakan untuk menyatakan maksud yang sama.


Merujuk apa yang dijelaskan Badan Bahasa, kata jam dan pukul memiliki makna yang tidak sama persis satu sama lain. Kata jam merujuk makna ‘masa atau jangka waktu’, sementara kata pukul merujuk makna ‘saat atau waktu’.


Contoh mudahnya dapat digambarkan seperti ini.




  1. Berapa jam acara ini berlangsung? → Jawaban yang dibutuhkan dari pertanyaan ini adalah jangka waktu atau durasi.


Acara ini berlangsung selama tiga jam.


2. Pukul berapa acara ini berlangsung? → Jawaban yang dibutuhkan dari pertanyaan ini adalah waktu atau saat tertentu.


Acara ini berlangsung pada pukul 15.00 WIB




Gunakan Kata Jam untuk Menunjukan Makna Masa atau Jangka Waktu


Gunakan kata jam jika kita ingin mengungkapan masa, jangka waktu (durasi).


Contoh




  1. Aku memerlukan waktu empat jam untuk menyelesaikan pekerjaan itu.

  2. Waktu tempuh Boja-Semarang sekitar satu jam.




Gunakan Kata Pukul untuk Menunjukan Makna Saat atau Waktu


Berbeda dengan jam, kata pukul digunakan untu menunjukan waktu atau saat tertentu. Pukul ini digunakan untuk menunjukan waktu secara tepat.


Contoh




  1. Pukul 07.00 Ayah datang.

  2. Seminar itu dimulai pukul 09.00.



Nah, mudah bukan membedakan pemakaian kata jam dan pukul? Mari kita gunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar sebagai wujud kecintaan pada negeri kita!

NHW #1: Pentingnya Pendidikan Ibu bagi Wanita

Minggu, 05 Agustus 2018

Hai, Kawan! Akhirnya bertemu lagi. Tulisan kali ini sebenernya adalah PR dari kelas yang sedang saya ikuti. Yups, sebagai mahasiswi Kelas Matrikulasi Instittut Ibu Profesional wajib banget ngerjain PR.


Jangan horor dulu deh kalau denger PR. PR di kelas ini itu asyik banget, namanya saja Nice Home Work atau lebih dikenal dengan NHW. Jadi, hukumnya ngerjain PR ini itu harus dengan senang hati biar jadi nice.


Materi pertama di kelas ini adalah Adab Menuntut Ilmu. Saya merasa takjub dengan materi pertama yang dijelaskan. Hal pertama yang harus dipersiapkan dalam menuntut ilmu adalah adabnya. Sama persis dengan materi kajian agama yang saya ikuti. Jarang banget loh kelas online nonagama yang mengedepankan adab sebelum menyampaikan materi. Materi ini kurangkum di tulisan lain ya!


Jadi, dunia ini ibarat sekolah kehidupan. Manusia yang hidup di dunia sudah seharusnya terus belajar untuk memahami hidup. Semakin baik ia belajar, maka semakin baik pula tutur dan tindak-tanduknya.


Andai saya diberi kesempatan menekuni sebuah jurusan di Univeritas Kehidupan, saya akan memilih jurusan Pendidikan Profesi Ibu. Jurusan yang akan memberi banyak ilmu teoretis sekaligus praktis untuk menjadi seorang ibu yang pofesional.






Pentingnya Pendidikan Sebagai Ibu


Siapa bilang menjadi ibu adalah pekerjaan yang mudah? Andaikata keluarga adalah sebuah perusahaan, maka ibu harus menjalani banyak peran vital.



1. Ibu adalah Manajer Keluarga

Ibu memiliki peran vital dalam keberlangsungan rumah tangga. Ibu adalah manajer keluarga yang harus mengelola, mengawasi, dan memastikan semua urusan yang berhubungan dengan operasional keluarga berjalan lancar dan terkendali.


Semua masalah remeh temeh hingga urusan yang kompleks menjadi tanggung jawab ibu. Dari masalah yang sepele hingga membutuhkan perhatian yang mendetail menjadi kewajiban ibu. Intinya, keberlangsungan sebuah rumah tangga ada di tangan seorang ibu.


Bukankah ini bukan perkara yang mudah?



2. Ibu adalah Guru Bagi Anak-anaknya

Seorang penyair, Hafizh Ibrahim mengatakan



الأم مدرسة إذا أعددتها أعددت شعبا طيب الأعراق


الأم روض إن تعهده الحيا بالريّ أورق أيما إيراق


الأم أستاذ الأساتذة الألى شغلت مآثرهم مدى الآفاق



“ Ibu adalah madrasah. Jika engkau persiapkan dengan baik, maka engkau tengah mempersiapkan satu bangsa yang unggul.”


“Ibu adalah taman. Jika senantiasa tersirami dengan rasa malu, maka taman itu akan hijau merekah.”


“Ibu adalah guru pertama bagi para guru, di mana pengaruh mereka yang terpuji membentang di sepanjang ufuk.”


Dari syair yang disampaikan Hafizh Ibrahim maka peran ibu dalam pendidikan sangatlah vital. Ibu bukan adalah peletak pondasi dasar pendidikan bagi anak. Di tangan seorang ibulah seorang anak akan dibentuk.


Bagaimana akan mendidik anaknya menjadi anak yang baik jika ibunya sendiri fakir ilmu dan butuh didikan? Maka, sudah sepantasnya kan jika seorang wanita terus belajar dan menyelami pendidikan sebagai ibu.



3. Ibu adalah Manusia Multiprofesi

Dalam sebuah rumah, ibu nyatanya tidak hanya menjalani satu bidang pekerjaan khusus. Ibu dituntut dapat menyelesaikan beberapa pekerjaan dengan jobdesk yang berbeda.


Ibu harus dapat menjadi koki handal. Konon katanya “Masakan Ibu adalah panggilan sayang yang akan selalu membuat suami dan anak-anaknya rindu pulang ke rumah”. Jadi, setidakbiasanya dan setidakbisanya seorang ibu memasak, ibu harus belajar mengolah makanan untuk suami dan anak-anaknya.


Ibu juga harus menjadi perawat bagi anggota keluarganya. Seorang ibu harus terampil merawat keperluan suami dan anaknya. Bukan saja merawat keperluan yang kasat mata seperti perlengkapan kerja atau sekolah, tetapi juga memberi perawatan lahir batin. Ibu harus mampu mencukupi segala keperluan anggota keluarga yang lain.


Selain profesi di atas, ini yang tidak kalah penting. Ibu harus mampu menjadi akuntan yang handal. Bisa tekor keuangan keluarga jika ibu tak pandai mengatur uang. Ibu harus mampu mengaturan anggaran rumah tangga sehingga semua kebutuhan terpenuhi. Jika tidak jeli, bukan tidak mungkin anggaran rumah tangga akan besar pasak daripada tiang. Iya, kan?


Nah, bukankah itu semua butuh keahlian dan keterampilan?


Melihat beratnya tugas dan tanggung jawab seorang ibu, maka penting sekali seorang wanita mempelajari ilmu menjadi seorang ibu. Pendidikan Profesi Ibu sangat dibutuhkan untuk menyiapkan generasi-generasi ibu pilihan. Ibu yang dapat mencetak anak-anak hebat yang bermartabat dunia akhirat.



Strategi Belajar Pendidikan Profesi Ibu


Untuk dapat menuntut ilmu tentunya dibutuhkan strategi belajar yang tepat. Lantas bagaimana seharusnya strategi belajar yang dibutuhkan agar dapat menjadi ibu yang profesional?


Berikut adalah beberapa strategi yang seharusnya dilakukan dalam menuntut ilmu di Pendidikan profesi Ibu menurut versi saya.



1. Mendalami Agama

Dasar segala ilmu kehidupan adalah ilmu agama. Ilmu agama adalah pondasi bagi ilmu lainnya. Untuk dapat menjadi ibu profesional yang lulus Pendidikan Profesi Ibu tentunya wajib pula mendalami ilmu agama.


Sebagai seorang ibu, saya sadar sesadar-sadarnya bahwa saya masih fakir ilmu. Saya harus banyak belajar mengenai seluk beluk menjadi ibu dari sisi agama.


Ibu adalah jalan mudah masuk surga. Namun, ia juga menjadi jalan paling gampang  untuk menejrumuskan ke neraka. So, ilmu agama penting sekali untuk seorang ibu dalam menjalankan perannya.



2. Mengikuti Kelas-kelas Lain yang Menunjang Profesi Ibu

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas bahwa sebenarnya menjadi ibu harus siap menjalani banyak profesi. Oleh karena itu,seorang wanita harus siap menimba ilmu-ilmu lain yang menunjang keterampilan sebagai seorang ibu, seperti mengikuti kelas memasak, parenting, manajemen keuangan, dan banyak lainnya.


Oh iya, kelas yang saya maksud di sini tidak melulu kelas seperti sekolah biasa yang ada guru dan gedungnya, tetapi bisa melalui kelas-kelas online.



3. Banyak Membaca dan Bersedia Meng-upgrade Ilmu

Di era arus informasi yang berkembang pesat, seorang ibu wajib mengimbanginya dengan membaca dan menambah wawasan. Ilmu berkembang cepat. Jangan sampai kita tertinggal informasi karena tak mau membaca dan meng-upgrade ilmu.



4. Menyelaraskan Teori yang Didapat dengan Praktik Lapangan

Praktik menjadi ibu tak semudah teori-teori yang beredar.  Oleh karena itu, saya akan berusaha menyelaraskan teori yang didapat dengan keadaan nyata di rumah.


Beberapa teori terkadang tidak dapat diambil mentah-mentah. Dalam hal ini, seorang ibu  harus pandai meramu dan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.



Perbaikan Sikap sebagai Wujud Menuntut Ilmu


Pernah enggak sih merasa sudah belajar ini itu tapi tidak berhasil? Pernah enggak sih merasa menghabiskan waktu untuk mempelajari banyak hal tapi nyatanya tidak berbekas?


Kalau pernah, bisa jadi karena kita tidak mendahulukan adab sebelum menuntut ilmu.


Setelah mendapat materi mengenai adab menuntut ilmu, saya merasa ada banyak hal yang harus dibenahi agar dapat memperoleh ilmu yang berkah, ilmu yang bermanfaat.



1. Mengosongkan Gelas

Mengosongkan gelas adalah perkara wajib bagi penuntut ilmu. Karena akan sia-sia saja jika menuntut ilmu dengan gelas yang sudah terisi. Bagaimanapun bentuknya, maka ilmu yang didapat akan tumpah ruah jika gelas yang kita punya sudah ada isinya.



2. Menghormati Guru

Diakui atau tidak, seringkali kita menganggap bahwa penyampai materi lebih penting daripada apa yang disampaikan. Kita akan dengan mudah mengamini jika materi disampaikan oleh pemateri yang sudah mempunyai nama dibanding orang yang tidak dikenal. Seringkali pula kita tidak menganggap rendah pemateri karena usianya lebih muda, pengalamannya tak lebih banyak, atau paham yang diikuti tak sealiran.


Setelah mendapat materi adab menuntut ilmu, maka saya pribadi berusaha untuk lebih melihat materi apa yang disampaikan guru bukan siapa pematerinya. Siapa pun yang menyampaikan ilmu maka sudah sepatutnya mendapat penghormatan.


Tidak akan berguna suatu ilmu jika kita tidak menghormati pembawanya, bukan?


Karena menjadi ibu itu bukan perkara yang mudah, mari kita belajar untuk menjadi ibu yang baik. Ibu bukan semata pekerjaan yang melekat setelah kita melahirkan. Ibu adalah profesi luhur mahapanjang yang mengharuskan kita terus belajar.


Mari senantiasa menjadi ibu pembelajar agar menghasilkan anak-anak hebat, bermartabat dunia dan akhirat!

Kamu Bakal Nyesel Belum Nge-BLOG Jika Tahu Manfaat Luar Biasa MemilikiBLOG

Kamis, 02 Agustus 2018

Yeyeyeye! Hari ini 1 Agustus. Tepat hari ini umur Mamak Duo Mahajeng genap berkepala tiga. Allah ya Rabb … ternyata saya udah tua banget! Semoga diberi sisa usia yang berkah barokah. Dapat menjadi insan yang memberi manfaat bagi sesama.


Ngomong-ngomong soal blog, saya punya cerita cukup unik. Sejak saya kuliah, seorang guru matematika SMP-ku dulu, Pak Wandi, selalu berusaha ngeracuni otakku untuk membuat blog. Sayang sungguh sayang, waktu itu beliau belum berhasil meracuniku.  Padahal, beliau sering banget lho menceritakan manfaat ngeblog.


Oke, saya sedikit bercerita mengenai sosok  beliau ya! Pak Wandi adalah guru matematika ketika saya duduk bangku SMP Negeri 3 Singorojo. Sekolah ini berada di kampung yang jauh dari peradaban. Mengapa begitu? Karena orang yang belum pernah ke kampungku pasti akan ragu ada kampung setelah memasuki rimbunan hutan karet yang luas.


Beliau adalah guru yang menginpirasi. Semenjak penempatannya di sekolah ini hingga beliau wafat (yang juga di sekolah ini) tak pernah sedikit pun beliau berangan-angan untuk mutasi ke sekolah yang dekat dengan rumahnya. Rumah beliau di Weleri kalau tidak salah, daerah Kendal bagian bawah. Cukup jauh dengan sekolah di mana beliau bekerja.




Ngeblog dan Pak Wandi


Pak Wandi yang kebetulan indekos di rumah Bulik yang berada tepat di samping rumahku, hampir setiap hari menceritakan blog waktu itu. Kalau tidak salah sekitar tahun 2008. Ketika saya sempat menjadi Guru SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal) di Ende, Nusa Tenggara Timur pada tahun 2012-2013, Pak Wandi juga selalu menyemangati untuk ngeblog. Saat itu, saya sempat terpengaruh. Akhirnya saya membuat blog dengan blogspot. Namun, saya lupa apa blognya karena akhirnya dibiarkan begitu saja.


Pak Wandi ngeblog dengan modal nekad. Dia benar-benar belajar otodidak. Prinsip beliau, bisa karena terbiasa. Beliau sudah membuktikan sendiri bahwa blog dapat menghasil uang. Sayangnya, beberapa blog berbayar yang dirintis beliau sudah mati. Hanya tinggal Guru Go! BLOG di wordpress.com dan Guru Go! Blog di blogspot.com yang masih bisa di akses.


Beliau kembali ke pangkuan Allah pada 29 Januari 2013 ketika tengah mengajar di sekolah. Satu kekecewaan besarku adalah belum menemui beliau semenjak saya pulang dari Nusa Tenggara Timur. Padahal, beberapa kali beliau meminta saya menyempatkan waktu bertemu dengannya.  Allah ya Rabb … ampuni segala dosa beliau dan berilah tempat terbaik-Mu. Sungguh hamba bersaksi beliau adalah orang baik.


Mengapa sayamenceritakan beliau? Karena beliaulah, saya berjanji suatu saat saya akan menjadi blogger yang berhasil.



Mengapa Harus Ngeblog?


Sebenernya sih, saya rasa semua orang yang aktif menggunakan media sosial sudah seharusnya membangun rumahnya di dunia maya. Bukan hanya ber-Facebook atau ber-Instagram saja, tetapi membangun blog.


Mengapa harus mulai ngeblog? Ternyata eh ternyata, banyak banget yang akan didapat melalui aktivitas ini. Menurutku, ada beberapa manfaat besar yang akan didapat dari ngeblog. Mau tahu? Yuk simak uraian berikut ini!





  1. Blog adalah Jurnal Online



Yups! Blog ibarat rekam jejak perjalanan hidup. Apa yang pernah ditayangkan di blog akan dengan mudah ditelusuri.


Menelusi tulisan-tulisan lama yang pernah dibuat pasti akan menghadirkan kenangan tersendiri. Kita bisa saja dibuat tertawa terbahak, tersenyum miris, atau bahkan merasa konyol dengan apa yang pernah ditulis. Perjalanan tulisan yang pernah dibuat ini tentu akan sengat berguna sebagai refleksi untuk kehidupan yang lebih baik.


Selain itu, anak cucu kita tentu akan lebih mudah mendapatkan informasi mengenai kita dari blog yang kita tinggalkan. Semacam warisan digital gitu, deh!





  1. Mengelola Stres dan Kemarahan



Setiap orang pasti pernah mengalami fase stres atau marah. Agar tidak menjadi bumerang bagi diri sendiri, penting sekali untuk mengelola stres dan kemarahan dengan baik.


Bagiku, menulis adalah salah satu pelampiasan yang dapat dilakukan jika sedang stres dan marah. Dengan menuliskan curhatanmu di blog, tentu kamu dapat mengelola stres dan kemarahanmu dengan baik. Ya iyalah! Enggak mungkin kan kita nulis curhat asal-asalan  di blog yang notabene bakal dibaca banyak orang? Paling enggak menulis di blog akan membantu mengelola stres dan kemarahan dengan curhat yang (sedikit) elegan.





  1. Menebar Manfaat



Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat? Nah dengan ngeblog kita bisa lho memberi manfaat buat orang lain. Bisa jadi tulisan yang kita aggap biasa saja ternyata memberi manfaat untuk orang lain.


Semoga Mamak Mahajeng mampu menghadirkan tulisan-tulisan yang memberi manfaat. Doakan yak!







  1. Melatih Keterampilan Menulis



Kegiatan blogging tidak akan mungkin bisa lepas dari aktivitas menulis. Jelas donggss! Media utama ngeblog kan memang tulisan.


Mau tak mau, ngeblog memaksa kita untuk mau menulis . Bisa karena biasa, begitu kata Pak Wandi. Lama-lama, karena terbiasa menulis tentu kemampuan menulis kita akan lebih baik.


Cek saja, tulisan-tulisan kita. Kita akan dapat mengamati bagaimana tulisan kita dari waktu ke waktu.





  1. Menambah Pengetahuan



Ketika memutuskan ngeblog, kita harus paham bahwa kita dituntut untuk selalu meng-update blog dengan artikel-artikel dan konten menarik lainnya. Menyadari kebutuhan tersebut, seorang blogger tentu akan belajar lebih lagi,  minimal mencari referensi dari sumber lain.


Kualitas konten adalah penentu sebuah blog akan didatangi pengunjung atau tidak. Untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas tentunya seorang blogger harus meramunya dari berbagai referensi yang dapat dipercaya.


Seorang blogger yang ingin menghasilkan konten yang baik tentu akan banyak membaca dan menelaah referensi yang didapatkannya. Dengan membaca dan menelaah referensi yang dicarinya, blogger akan semakin bertambah wawasan dan pengetahuannya.  Oleh karena itu, setiap blogger yang berhasil pastilah pembelajar yang baik.





  1. Membangun Kredibilitas



Di era serba digital seperti ini, hampir semua aktivitas manusia memanfaatkan teknologi digital. Tak terkecuali para pencari kerja.


Banyak sekali pencari kerja yang memanfaatkan internet. Maka mulai sekarang, merintis blog adalah jalan terbaik untuk membangun portofolio. Kita tidak pernah tahu ada berapa mata yang sedang mencari kita untuk melakukan pekerjaan besar. Hiyyya … Mamak Duo Mahajeng ke-PD-an.





  1. Mengisi Waktu Luang dengan Bijak



Terkadang, waktu 24 jam memang terasa singkat. Ada saja pekerjaan yang terlewat untuk dilakukan. Namun, pasti ada waktu ketika  kita merasa bingung untuk melakukan apa.


Ngeblog adalah pilihan yang tepat untuk memanfaatkan waktu luang. Dengan ngeblog, waktu luang kita tidak terbuang dengan percuma. Terlebih dengan melihat manfaat ngeblog lainnya, maka ngeblog adalah cara bijak memanfaat waktu luang.





  1. Menambah Pertemanan



Seperti media lainnya, aktivitas ngeblog sangat memungkinkan kita mendapat banyak teman baru. Dengan adanya fitur follow dan komentar, kita dapat menjalin pertemanan dengan sesama blogger. Selain itu, dengan mengikuti komunitas-komunitas blogger kita juga akan menemukan banyak teman baru.


Semakin banyak teman, semakin banyak kebaikan. Semakin banyak teman, semakin banyak rezeki. Bukan begitu?





  1. Sumber Pendapatan



Sudah menjadi rahasia umum bahwa aktivitas ngeblog memang dapat menjadi sumber pundi-pundi keluarga. Saya sendiri sudah menjadi saksi atas keberhasilan beberapa orang dalam dunia blogging, salah satunya adalah Pak Wandi yang kuceritakan di awal.


Enggak munafik bahwa Mamak Duo Mahajeng juga ingin suatu saat menjadi blogger sukses, ingin merasakan manfaat ngeblog yang satu ini.  Namun, Mamak Mahajeng selalu ingat wejangan teman bahwa mendapat uang dari blog tidak akan diraih secara instan dan mudah. Butuh perjuangan dan keuletan. Doakan Mamak Duo Mahajeng bisa yak!


Bagi Mamak Mahajeng, yang terpenting sekarang adalah menulis dan menulis. Jika suatu saat blog ini bisa menghasilkan, itu adalah bonusnya. Setuju?


Ternyata banyak juga ya manfaat ngeblog. Nah, itu juga yang menjadi alasan Mamak Duo Mahajeng akhirnya enggak ragu memutuskan untuk ngeblog. Bagaimana denganmu, masih ragu untuk mulai ngeblog?